Jakarta, Ekoin.co – Nilai rupiah di awal Februari 2026 berpotensi melemah tipis. Kondisi itu akibat spekulasi penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) oleh Presiden Donald Trump.
Calon bos The Fed ini mendorong penguatan dolar AS. Kurs Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS oleh spekulasi pilihan Trump, Kevin Warsh, untuk menjabat kepala The Fed baru mendukung dolar AS,” ungkap analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, Senin (2/2)
Kurs tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, bergerak menguat 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.776 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.
Data Bloomberg mencatat pada Senin (2/2) pukul 09.18 WIB, rupiah sedang diperdagangkan di level Rp16.783 per dolar AS, menguat 2 poin atau 0,02% dibandingkan posisi Jumat sore (30/1) di Rp16.785 per dolar AS.
Diketahui Trump telah mengumumkan bahwa dirinya memilih mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell sebagai Ketua Bank Sentral AS yang akan berakhir masa jabatannya pada bulan Mei 2026.
Meskipun sebelumnya dikenal sebagai pendukung inflasi yang ketat, Warsh baru-baru ini berpihak pada Trump dengan secara terbuka menganjurkan suku bunga lebih rendah.
Trump sudah berulang kali mengatakan akan menunjuk seorang Ketua Fed yang mendukung suku bunga lebih rendah.
Dengan suku bunga saat ini antara 3,5-3,75 persen, Trump berpendapat bahwa AS harus memiliki suku bunga terendah di dunia dan menyerukan penurunan hingga 1 persen.
“Warsh walau pilihan Trump, dipandang berpengalaman di Federal Reserve dan diharapkan tidak akan serta merta menuruti keinginan Trump memangkas suku bunga,” kata Lukman.
Pelemahan rupiah juga diprediksi akan dipicu pernyataan hawkish dari Wakil Ketua Pengawas The Fed Michelle Bowman yang mengatakan Federal Reserve masih perlu berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
“Namun, pelemahan akan terbatas, investor menantikan data perdagangan dan inflasi Indonesia yg akan dirilis siang ini. Inflasi tahunan diperkirakan akan naik ke 3,8 persen, ekspor dan impor keduanya masih akan turun -2,4 persen dan -0,7 persen, namun masih surplus 2,45 miliar dolar AS,” katanya. (*)





