Proyeksi Moody’s: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Stagnan 5 %, Defisit Fiskal di Bawah 3 % 

Moody’s memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh 5%. Namun, risiko defisit membayangi akibat perluasan program sosial dan tata kelola Danantara yang belum jelas.
Lembaga Moody’s Ratings mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memperkuat basis pajak guna mengimbangi ambisi belanja sosial dan investasi besar melalui Danantara agar disiplin fiskal tetap terjaga. (Foto: Dok. Moody’s/Istimewa)

Jakarta, Ekoin.co – Lembaga Moody’s Ratings (Moody’s) kembali merilis kondisi ekonomi Indonesia tahun 2026.

Dalam keterangannya dikutip Rabu (25/2), Moody’s memproyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah.

Defisit fiskal diproyeksikan tetap terjaga di bawah 3% terhadap PDB. Menjaga defisit APBN tetap berada dalam batas tersebut, Moody’s menilai pemerintah perlu mengendalikan realisasi belanja.

Pasalnya, meningkatnya peran belanja pemerintah sebagai instrumen utama pendorong pertumbuhan ekonomi berpotensi menimbulkan konsekuensi fiskal, terutama di tengah basis penerimaan negara yang masih relatif terbatas.

“Kemajuan yang terbatas dalam memperluas basis pajak meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih besar dari waktu ke waktu, terutama karena pemerintah memperluas program sosial, termasuk inisiatif terkait ketahanan pangan dan perumahan terjangkau,” tulis Moody’s.

Untuk rasio utang pemerintah, Moody’s memperkirakan akan tetap stabil di kisaran 40% terhadap PDB. Proyeksi ini bergantung pada konsistensi disiplin fiskal, khususnya kepatuhan terhadap batas defisit 3% dari PDB, serta posisinya yang masih lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat Baa.

Dari pembayaran utang , kapasitas Indonesia masih dibatasi oleh basis pendapatan yang rendah. Kondisi ini mempersempit fleksibilitas fiskal dan meningkatkan sensitivitas terhadap perubahan kepercayaan pasar.

Kondisi itu sejalan dengan ketidakpastian terkait pembiayaan dan tata kelola Danantara dinilai meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan serta potensi kewajiban kontinjensi bagi negara, terutama mengingat kewenangannya dalam mengelola aset BUMN dan menjalankan agenda investasi yang ambisius.

“Meskipun demikian, kami berasumsi bahwa pengembangan kelembagaan lebih lanjut akan memberikan kejelasan yang lebih besar seputar tata kelola dan operasi Danantara dari waktu ke waktu,” tulis keterangan tersebut.

Lebih jauh Moody’s menyampaikan prospek negatif juga mencerminkan menurunnya prediktabilitas dalam proses perumusan kebijakan yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta menunjukkan penurunan kualitas tata kelola.

Bahkan jika tren ini terus berlanjut dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini