Sinyal Bahaya di Pasar Obligasi, Menkeu Purbaya Langsung ‘Suntik’ Bank Pakai Dana Cadangan Negara

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tambahan likuiditas tersebut disalurkan menjelang Lebaran untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya kebutuhan dana.
Ainurrahman Hasrul Ekoin
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan mengenai kondisi sistem keuangan di Jakarta, Kamis (26/3/2026)

Jakarta, Ekoin.co – Pemerintah kembali menggelontorkan dana besar ke sektor perbankan melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL). Nilainya mencapai Rp100 triliun, sehingga total dana SAL yang telah ditempatkan kini menembus sekitar Rp300 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tambahan likuiditas tersebut disalurkan menjelang Lebaran untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya kebutuhan dana.

“Penambahan ini untuk memastikan likuiditas tetap terjaga di sistem perekonomian,” ujarnya, Kamis (26/3).

Pemerintah menilai langkah ini penting sebagai respons atas dinamika pasar, terutama kenaikan imbal hasil obligasi (yield) yang menjadi indikator tekanan likuiditas di perbankan.

Menurut Purbaya, pergerakan yield terus dipantau secara ketat. Kenaikan yang signifikan dinilai sebagai sinyal adanya kekurangan likuiditas di sektor perbankan.

Ia menjelaskan, jika kenaikan yield mencapai level tertentu, pemerintah akan segera merespons dengan menambah suntikan dana ke sistem keuangan guna menjaga keseimbangan.

Selain menjaga likuiditas perbankan, kebijakan ini juga diharapkan mampu meredam lonjakan yield di pasar obligasi.

Penempatan dana SAL dilakukan secara fleksibel dan saat ini masih difokuskan pada bank-bank tertentu. Salah satunya adalah Bank DKI yang menerima alokasi sekitar Rp2 triliun.

Sementara itu, bank swasta disebut belum menjadi prioritas utama dalam tahap awal penyaluran dana tersebut.

Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan sekitar Rp200 triliun dana SAL. Dengan tambahan terbaru, total intervensi likuiditas yang dikucurkan pemerintah kini mencapai Rp300 triliun. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights