Jakarta, Ekoin.co – Nama Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto kembali menyita perhatian publik. Putra budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ini secara terbuka mengakui telah memberi kontribusi nyata kepada pemerintahan sejak era Presiden Joko Widodo, jauh sebelum dirinya resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Pengakuan itu disampaikan Sabrang dalam podcast Hendri Satrio di kanal YouTube Hendri Satrio Official, yang kini ramai dikutip dan diperbincangkan. Dalam wawancara tersebut, Sabrang menegaskan bahwa perannya selama ini bersifat fungsional, bukan simbolik.
“Saya secara fungsional sudah lama (membantu pemerintahan). Dari zaman Jokowi, secara fungsional itu artinya tenaga ahli, hanya masih ngasih input soal sosial media,” ujar Sabrang.
Alarm Bahaya Media Sosial Sejak Dini
Sabrang mengungkap, kontribusi awalnya dimulai dari peringatan serius tentang dampak negatif media sosial terhadap masyarakat Indonesia, terutama saat awal periode kedua Presiden Jokowi—fase di mana kekuatan media sosial dinilainya kian tak terkendali.
Ia bahkan sempat mempresentasikan analisis tersebut langsung kepada Menteri Sekretaris Negara kala itu, Pratikno, dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta.
Menurut Sabrang, media sosial telah menggeser relasi manusia secara ekstrem.
“Manusia Indonesia sekarang 7–8 jam sehari kontaknya dengan HP. Lebih banyak dengan layar daripada orang tua atau guru. Yang dikejar bukan edukasi, tapi view,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa keterlibatan Sabrang sejak awal berangkat dari kegelisahan intelektual, bukan kepentingan politik praktis.
Dari AI TNI hingga Drone Pertahanan
Kontribusi Sabrang tak berhenti di isu sosial. Pada 2024, ia mengaku terlibat langsung membantu salah satu satuan TNI mengembangkan sistem Artificial Intelligence (AI) untuk kebutuhan strategis, mulai dari perekrutan personel hingga pengembangan teknologi drone.
AI tersebut digunakan untuk menganalisis kecocokan kandidat secara lebih akurat dan objektif.
“Saya bikin AI untuk perekrutan personel TNI. Setelah itu berkembang ke diskusi bahaya AI, lalu ke pembuatan drone, dan seterusnya sampai akhirnya saya jadi tenaga ahli,” ungkapnya.
Peran itu akhirnya berujung pada pelantikannya sebagai Tenaga Ahli Madya DPN bidang analisis geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi, yang dilakukan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 15 Januari 2026, di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Bukan Soal Saya, Tapi Negara”
Menariknya, Sabrang menepis anggapan bahwa posisinya didorong ambisi pribadi. Ia menegaskan bahwa orientasinya murni pada keberlangsungan bangsa.
“Jangan ngomong tujuannya saya. Salah satu tujuan terbesar adalah membuat negara Indonesia bertahan selama-lamanya,” tegas Sabrang.
Di akhir podcast, Hendri Satrio—yang akrab disapa Hensa—menyampaikan apresiasi dan doa agar Sabrang mampu menuntaskan amanah negara dengan baik.
“Selamat bertugas Mas Sabrang. Semoga amanah dan berhasil menjalankan tanggung jawabnya hingga selesai,” ujar Hensa.
Dengan pengakuan terbuka ini, publik kini mendapat gambaran lebih utuh: Sabrang Noe Letto bukan pemain baru di lingkar kebijakan, melainkan figur yang diam-diam telah lama berada di balik layar, membawa gagasan kritis dari budaya, teknologi, hingga pertahanan negara. (*)





