IHSG Menguat 1,21 Persen ke 6.192, Cadangan Devisa dan Risalah The Fed Jadi Sorotan Pasar

IHSG ditutup menguat 1,21 persen ke level 6.192 pada 6 Oktober 2026. Cadangan devisa dan risalah The Fed jadi sorotan utama pelaku pasar.
IHSG ditutup menguat 1,21 persen ke level 6.192 pada 6 Oktober 2026. Cadangan devisa dan risalah The Fed jadi sorotan utama pelaku pasar.(foto:istimewa)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan sebesar 1,21 persen ke level 6.192,93 pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Penguatan ini ditopang oleh sentimen positif dari stabilnya nilai tukar rupiah serta optimisme pelaku pasar terhadap data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis pekan ini.

Sentimen Cadangan Devisa Dorong Optimisme

Pelaku pasar menaruh perhatian besar pada data cadangan devisa Indonesia yang menjadi indikator penting ketahanan eksternal ekonomi nasional. Cadangan devisa yang stabil atau meningkat akan memberikan sinyal positif bagi investor asing untuk tetap menempatkan dananya di pasar modal Indonesia.

Volume transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp10,97 triliun, menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup aktif. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan energi menjadi penopang utama penguatan indeks.

Risalah The Fed Bayangi Pergerakan Pasar

Di sisi global, pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Risalah tersebut akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat ke depan.

Para analis memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan sikap hati-hati dalam mengambil keputusan suku bunga, mengingat inflasi di AS yang masih berada di atas target 2 persen. Keputusan The Fed ini berpotensi memengaruhi aliran modal asing ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Proyeksi IHSG ke Depan

Sejumlah analis memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek apabila data cadangan devisa menunjukkan angka positif. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko geopolitik global dan pergerakan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS.

Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham dan memperhatikan fundamental emiten, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Sektor perbankan, energi, dan konsumer diprediksi masih akan menjadi pilihan utama para investor institusi.

Sektor Penggerak Utama IHSG Hari Ini

Berdasarkan data perdagangan, sektor perbankan menjadi kontributor terbesar penguatan IHSG dengan kenaikan rata-rata 1,8 persen. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,1 persen ke level Rp10.250, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,5 persen ke Rp4.890. Sektor energi juga turut menopang dengan kenaikan saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar 2,3 persen menyusul kenaikan harga batu bara acuan.

Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp856 miliar di pasar reguler, menandakan kepercayaan investor global terhadap prospek pasar modal Indonesia masih terjaga. Aliran dana asing yang positif ini menjadi salah satu faktor pendorong penguatan IHSG di tengah ketidakpastian global.

Analisis Teknikal dan Level Support-Resistance

Secara teknikal, IHSG berhasil menembus level resistance di 6.150 yang menjadi batas psikologis penting. Dengan penembusan ini, level support baru berada di 6.100, sementara resistance berikutnya di 6.250. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 58, menunjukkan kondisi pasar yang masih sehat tanpa tanda-tanda jenuh beli.

Menurut data dari Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia per September 2026 berada di level 139,4 miliar dolar AS, meningkat dari bulan sebelumnya. Angka ini memberikan bantalan yang cukup bagi stabilitas nilai tukar rupiah dan menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik.

Rekomendasi Saham untuk Investor

Para analis dari beberapa sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham-saham sektor perbankan dan konsumer yang memiliki fundamental kuat. PT BEI mencatat jumlah investor aktif di pasar modal Indonesia telah mencapai 12,4 juta rekening per September 2026, menunjukkan semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam investasi saham. Investor pemula disarankan untuk memperhatikan laporan keuangan kuartal III yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights