Jakarta, EKOIN.CO – Pemanfaatan bakteri dalam dunia pertanian tidak hanya terbatas sebagai penyebab penyakit tanaman, tetapi juga menjadi solusi alternatif yang menjanjikan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Tri Joko, S.P., M.Sc., Ph.D., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bakteriologi Tumbuhan, Selasa (1/7), di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Dalam penjelasannya, Tri menyebutkan bahwa sejak ditemukannya penyakit hawar api (fire blight) pada tanaman pir oleh Thomas Jonathan Burrill pada tahun 1878, studi bakteriologi tumbuhan terus berkembang. Penyakit tumbuhan akibat bakteri dapat menyebabkan kerugian global hingga US$ 49,6 milyar per tahun.
Tri menegaskan bahwa bakteri tidak selalu merugikan. Beberapa jenis bakteri justru berfungsi sebagai agen pengendali hayati yang dapat mengenyahkan hama tanaman. “Bakteri sudah banyak dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama maupun nematoda parasit tumbuhan,” ujar Tri di hadapan civitas akademika UGM.
Jenis-jenis bakteri seperti Bacillus, Streptomyces, dan Pseudomonas dikenal sebagai agen pengendali hayati (APH). Penggunaan bakteri ini dinilai efektif dalam mengendalikan penyakit penting pada tumbuhan, serta memberikan manfaat tambahan dalam menjaga kesuburan dan produktivitas tanah.
Lebih lanjut, Tri menyampaikan hasil riset yang menunjukkan bahwa bakteri tidak hanya bekerja secara langsung. Melalui proses pensinyalan biokimia di daerah perakaran (rizosfer), bakteri mampu meningkatkan kesehatan tanaman secara tidak langsung.
Peran Bakteri dalam Pertanian Berkelanjutan
Tri juga memaparkan konsep pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan melalui pemanfaatan bakteri. Dengan pendekatan ini, penggunaan pupuk dan pestisida sintetis dapat ditekan secara signifikan.
Ia menambahkan bahwa penggunaan bakteri sebagai plant growth promoting bacteria (PGPB) akan lebih berhasil apabila dikelola secara tepat. Interaksi antara bakteri dan tanaman telah mengalami evolusi menuju keseimbangan mutualistik.
“Pemanfaatan bakteri yang terintegrasi dengan teknik pengelolaan penyakit dapat menjadi pendekatan pertanian berkelanjutan,” kata Tri. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap proses biologis ini.
Tri juga menyinggung bahwa keseimbangan ekosistem tanah dan kesehatan tanaman sangat bergantung pada keberadaan mikroorganisme yang bersimbiosis dengan akar tanaman. Oleh karena itu, riset mengenai mikroba tanah masih perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
Dalam acara tersebut, Tri mendapatkan penghargaan dan ucapan selamat dari kolega dan mahasiswa. Pidato ilmiahnya menjadi penegasan komitmen UGM dalam mengembangkan riset berbasis keberlanjutan di sektor pertanian.
Penelitian dan Kolaborasi Mendatang
Ke depan, Tri berharap lebih banyak penelitian multidisiplin dilakukan untuk menjawab tantangan kerusakan lingkungan akibat pertanian intensif. Menurutnya, bakteri bisa menjadi jawaban dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Ia mendorong kolaborasi antara akademisi, petani, dan pemerintah dalam menerapkan hasil riset ke lapangan. “Keberhasilan pengendalian hayati sangat ditentukan oleh pemahaman ekologi mikroba secara praktis dan aplikatif,” ujar Tri.
Universitas Gadjah Mada melalui Fakultas Pertanian berkomitmen untuk terus mendorong riset inovatif dalam bidang mikrobiologi tanah. Salah satu fokus ke depan adalah pengembangan isolat bakteri lokal yang adaptif di berbagai jenis lahan pertanian di Indonesia.
Pemanfaatan bakteri dalam dunia pertanian membuka peluang besar bagi terciptanya sistem produksi pangan yang berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis, tetapi juga meningkatkan kesehatan ekosistem secara menyeluruh.
Konsep pertanian berbasis mikroba menempatkan tanah sebagai sistem hidup yang memerlukan perawatan dan pemahaman mendalam. Dengan riset yang berkelanjutan dan dukungan lintas sektor, Indonesia dapat menjadi pionir dalam pertanian ramah lingkungan berbasis bioteknologi mikroba.
Peran penting akademisi seperti Prof. Tri Joko dalam mendiseminasikan ilmu bakteriologi tumbuhan menjadi pendorong kuat bagi terciptanya pertanian masa depan yang tangguh, efisien, dan berwawasan ekologis.(*)





