Jakarta, EKOIN.CO – Di tengah gempuran gaya hidup serba mewah yang terus-menerus disajikan, sebuah riset ilmiah terbaru justru mematahkan anggapan bahwa kekayaan identik dengan kebahagiaan. Penelitian ini menunjukkan, mereka yang memilih hidup sederhana secara sukarela justru merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Temuan ini menantang narasi yang selama ini beredar, di mana kebahagiaan seringkali disamakan dengan tingkat pendapatan dan jumlah aset yang dimiliki.
Penelitian ini dilakukan di University of Otago, Selandia Baru, dengan dipimpin langsung oleh Profesor Rob Aitken. Hasilnya, mereka yang menerapkan gaya hidup sederhana secara sukarela ternyata memiliki tingkat kebahagiaan (wellbeing) yang lebih tinggi, baik dari sisi hedonis maupun eudaimonis. Secara lebih rinci, hedonic wellbeing mengacu pada perasaan senang dan kepuasan hidup, sementara eudaimonic wellbeing berkaitan erat dengan tujuan hidup, pertumbuhan diri, serta hidup yang selaras dengan nilai-nilai pribadi.
Menurut Aitken, hidup sederhana bukanlah tentang pengorbanan materi. Alih-alih demikian, ia menjelaskan bahwa, “Hidup sederhana bukan soal pengorbanan materi, melainkan bagaimana pemenuhan kebutuhan psikologis dan emosional dapat tercapai lewat hubungan sosial, koneksi, keterlibatan komunitas, serta rasa hidup yang bermakna.”
Hasil riset ini juga memvalidasi skala kesederhanaan terbaru, dan menemukan bahwa keterkaitan antara gaya hidup ini dengan kebahagiaan tetap kuat, bahkan setelah memperhitungkan faktor demografis seperti usia, pendapatan, dan gender. Saat rutinitas sehari-hari diarahkan untuk meningkatkan interaksi, saling membantu, hingga partisipasi dalam masyarakat, kesejahteraan seseorang terbukti ikut meningkat. Ini terjadi bukan karena jumlah barang yang berkurang, melainkan karena waktu, perhatian, dan uang dapat dialihkan ke hal-hal yang memiliki nilai lebih.
Fakta ini diperkuat oleh studi psikologi lain yang juga mendukung temuan tersebut. Sebuah meta-analisis dari 259 sampel menemukan bahwa nilai materialisme yang kuat secara konsisten berhubungan dengan tingkat kebahagiaan pribadi yang lebih rendah, termasuk dalam hal kepuasan hidup dan vitalitas.
Dengan demikian, saat seseorang mengurangi fokus pada harta benda dan lebih mengedepankan hubungan serta pengembangan diri, tingkat kebahagiaan justru meningkat. Alih-alih berfokus pada konsumsi berlebih, praktik sederhana seperti kebun komunitas, berbagi sumber daya, atau membeli produk lokal dapat meningkatkan ikatan sosial sekaligus menekan konsumsi. Analisis lanjutan pun menunjukkan bahwa mengurangi prioritas materialisme dapat membantu meningkatkan kesejahteraan. Ketika seseorang mengalihkan fokus pada hubungan dan kompetensi diri, mereka cenderung melaporkan peningkatan kesejahteraan yang sejalan dengan jalur sosial dan nilai-nilai yang ditemukan dalam penelitian Otago.





