Jakarta, EKOIN.CO – Terungkap bahwa banyak pabrik di Indonesia secara diam-diam menahan pembelian bahan baku. Menurut Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, penahanan ini tercermin dari variabel produksi yang mengalami kontraksi. Pernyataan ini disampaikan Febri dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) di kantor Kemenperin.
“Bukan berarti semua pabrik berhenti, tapi masih banyak yang produksi namun proses produksinya itu masih ditahan, masih banyak wait and see,” ujar Febri.
Penahanan produksi ini selaras dengan tidak adanya peningkatan impor bahan baku dan barang konsumsi selama dua bulan terakhir, yaitu Juni dan Juli. Menurut data yang dipaparkan, variabel produksi pada bulan ini berada di level 44,84, menurun 4,15 poin dari bulan sebelumnya. Febri menjelaskan bahwa selain dipicu oleh kondisi ekonomi global dan domestik, hal ini juga disebabkan oleh kendala pasokan bahan baku, khususnya pasokan gas yang menipis. Kondisi ini membuat para pelaku industri merasa khawatir dan berdampak pada penurunan produksi.
Lebih lanjut, Febri menyampaikan apresiasinya kepada Menteri ESDM yang telah bertindak cepat dalam mengatasi masalah pasokan gas ini. “Kami mengapresiasi Menteri ESDM yang sudah bergerak cepat mengantisipasi masalah pasokan gas itu, dan juga memastikan harga gas yang diterima oleh industri itu sesuai dengan regulasi yang ada,” ucap Febri.
Sementara itu, secara umum, nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus 2025 tercatat mencapai 53,55. Angka ini menunjukkan ekspansi dengan peningkatan sebesar 0,66 poin dari bulan Juli 2025 yang berada di angka 52,89. Nilai IKI juga meningkat 1,15 poin dibandingkan dengan Agustus tahun lalu.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 21 subsektor mengalami ekspansi. Subsektor ini memiliki kontribusi sebesar 95,6% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2025. “Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Alat Angkutan Lainnya (KBLI) dan Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman (KBLI 18),” papar Febri.
Di sisi lain, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Sri Bimo Pratomo, menambahkan bahwa variabel produksi dan persediaan Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya mengalami kontraksi. Hal ini dikarenakan masih adanya stok persediaan produk sehingga pelaku industri memutuskan untuk mengurangi kapasitas produksi meskipun pesanan meningkat.





