Ekoin.co – Presiden Donald Trump kembali mengeraskan retorikanya terhadap Iran di tengah eskalasi ketegangan Timur Tengah yang kian memanas.
Washington kini secara terbuka mendorong perubahan kebijakan besar di Teheran sekaligus menekan Iran agar menyetujui kesepakatan nuklir baru yang jauh lebih ketat.
Sikap ini menandai kembalinya pendekatan “Tekanan Maksimum” (Maximum Pressure), strategi yang selama ini menjadi ciri khas gaya politik luar negeri Trump terhadap Republik Islam tersebut.
Show of Force: Pengerahan USS Gerald R. Ford Sebagai wujud nyata dari tekanan militer, Trump mengonfirmasi pengerahan kembali kapal induk raksasa USS Gerald R. Ford ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini disebut sebagai strategi ganda: membuka jalur diplomasi baru namun tetap ditopang oleh ancaman kekuatan militer yang nyata.
“Upaya diplomatik selama puluhan tahun tidak membuahkan hasil signifikan. Opsi militer akan selalu berada di meja keputusan jika negosiasi gagal,” tegas Trump dalam pernyataan terbarunya, Senin (16/2/2026).
Reaksi Global dan Kekhawatiran Konflik Regional Retorika keras Washington memicu kekhawatiran dari negara-negara Arab di kawasan Teluk. Mereka memperingatkan bahwa aksi militer langsung terhadap Iran berpotensi memicu perang regional yang sulit dikendalikan dan mengganggu stabilitas pasar energi global.
Di dalam negeri AS, kebijakan ini memicu perdebatan sengit. Kelompok oposisi menilai retorika perang berisiko memperluas keterlibatan AS dalam konflik global yang tidak berkesudahan, sementara para pendukung Trump melihatnya sebagai posisi tawar yang sah untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Respons Teheran: “Intimidasi Tidak Akan Berhasil” Dari Teheran, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memberikan respons dingin namun tegas. Bertepatan dengan peringatan Revolusi Islam, Khamenei memuji ketahanan rakyat Iran dalam menghadapi tekanan asing.
“Sanksi maupun ancaman militer tidak akan menggoyahkan kedaulatan nasional. Pengalaman panjang menunjukkan bahwa intimidasi tidak otomatis menghasilkan kepatuhan, melainkan memperkuat solidaritas internal kami,” balas Khamenei.
Hingga saat ini, situasi di perairan Teluk terus dipantau secara ketat oleh dunia internasional, mengingat kehadiran aset militer strategis AS yang dapat mengubah eskalasi konflik dalam waktu singkat.




