Tangerang,Ekoin.co – Pelatih Persita Tangerang, Carlos Pena, menyoroti kekuatan mental dan respons taktis timnya usai membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1 atas PSBS Biak dalam lanjutan BRI Super League 2025/26 di Stadion Indomilk Arena, Senin (16/2/2026) sore WIB.
Menurut Pena, kemenangan dramatis ini bukan sekadar soal dua gol cepat dalam semenit, melainkan tentang karakter tim yang tak runtuh saat tertinggal.
“Pertandingan sangat ketat. Kami mendominasi babak pertama, tapi gagal memaksimalkan peluang. Mereka mencetak gol dari transisi cepat dan itu membuat situasi jadi sulit,” ujar Pena usai laga.
Ia mengakui momen tertinggal 0-1 di akhir babak pertama sempat mengubah dinamika pertandingan. Namun, respons tim di ruang ganti menjadi titik balik.
“Setelah tertinggal, semuanya jadi lebih menantang. Tapi di babak kedua kami menunjukkan karakter kuat. Kami masukkan pemain dengan energi berbeda dan instruksi lebih agresif. Dua gol cepat itu hasil dari kepercayaan diri yang tidak hilang,” tegasnya.
Kehilangan Konsentrasi Jadi Petaka
Di sisi lain, pelatih PSBS Biak, Marian Mihail, menilai timnya gagal menjaga fokus saat tekanan meningkat di babak kedua.
“Kami bermain baik di babak pertama dan bisa memanfaatkan kesalahan lawan untuk unggul. Tapi setelah turun minum, kami terlalu pasif. Kami kehilangan konsentrasi dan dihukum dua gol dalam waktu sangat singkat,” ujar Mihail.
Ia menyebut kekalahan tersebut sebagai pelajaran mahal, terutama dalam menjaga disiplin bertahan saat menghadapi tekanan beruntun.
“Dua gol dalam satu menit itu menyakitkan. Tapi ini bagian dari sepak bola. Kami harus evaluasi dan kembali lebih kuat,” tambahnya.
Karakter Baja Pendekar Cisadane
PSBS sempat unggul lebih dulu melalui Ruyery Blanco di penghujung babak pertama. Namun mentalitas tuan rumah berbicara di babak kedua.
Pada menit ke-69, Rayco Rodriguez menyamakan kedudukan lewat penyelesaian klinis.
Kurang dari semenit berselang, sundulan Ahmad Nur Hardianto gagal diantisipasi sempurna kiper Kadu dan membawa Persita berbalik unggul 2-1.
Hasil ini memutus tren negatif Persita sekaligus menjaga posisi keenam klasemen dengan 35 poin, menempel ketat Persebaya Surabaya yang unggul head-to-head.
Bagi Carlos Pena, tiga poin ini bukan hanya soal posisi di tabel, tetapi tentang pesan yang dikirim timnya.
“Kami ingin dikenal sebagai tim yang tidak pernah menyerah. Musim ini masih panjang dan setiap poin akan sangat menentukan,” tutupnya.





