Jakarta, EKOIN.CO – Arsitek dunia Zaha Hadid lahir di Baghdad, Irak, pada 31 Oktober 1950. Masa mudanya dihabiskan di lingkungan keluarga intelektual, dengan ayah seorang industrialis dan politisi liberal. Ia mulai menempuh pendidikan tinggi di American University of Beirut pada jurusan matematika.
Pada tahun 1972, Hadid pindah ke London untuk belajar arsitektur di Architectural Association School of Architecture. Di sana, ia menjadi murid arsitek-arsitek visioner seperti Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis. Setelah lulus pada 1977, ia bergabung dengan Office of Metropolitan Architecture (OMA).
Selama masa itu, Hadid juga mengajar di tempat yang sama bersama mentor-mentornya. Tahun 1980, ia mendirikan firma sendiri bernama Zaha Hadid Architects di London. Tiga tahun berselang, ia memenangkan kompetisi internasional untuk desain Hong Kong Peak Club.
Kemenangan tersebut menjadi titik balik dalam kariernya, meski proyek tersebut tidak sempat dibangun. Hadid mulai dikenal luas lewat pendekatan eksperimentalnya yang kerap dituangkan lewat sketsa dan lukisan. Karyanya sering dianggap sulit diwujudkan karena melampaui norma desain masa itu.

Pameran dan Koleksi Dunia
Pada tahun 1983, karyanya dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal di Architectural Association, London. Sejak saat itu, arsitekturnya tampil dalam berbagai pameran internasional. Banyak karya konseptualnya menjadi bagian koleksi museum ternama dunia.
Zaha Hadid dikenal sebagai tokoh penting yang menantang batas-batas arsitektur modern. Ia sering menggabungkan bentuk bebas dengan teknologi tinggi. Desainnya menyasar seluruh skala—dari perencanaan kota hingga furnitur dan interior.
Beberapa bangunan terkenalnya antara lain Vitra Fire Station di Jerman (1993), Mind Zone di Millennium Dome Inggris (1999), dan Rosenthal Center for Contemporary Art di Cincinnati, Amerika Serikat (2003). Ia juga merancang arena ski lompat di Innsbruck, Austria, pada tahun 2002.
Selain berpraktik, Hadid tetap aktif di dunia akademik. Ia menjadi profesor tamu di universitas bergengsi seperti Harvard, Yale, Columbia, dan Universitas Seni Terapan Wina. Perannya dalam pendidikan arsitektur membantu membentuk generasi baru arsitek global.

Perempuan Pertama Penerima Pritzker Prize
Tahun 2004 menjadi tonggak sejarah saat Hadid menerima Pritzker Architecture Prize. Ia adalah perempuan pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut sejak didirikan pada tahun 1979. Dewan juri menyebut desainnya “mengguncang struktur arsitektur konvensional.”
Hadid juga menerima Royal Gold Medal dari Royal Institute of British Architects pada 2016. Dia adalah perempuan pertama yang menerima penghargaan ini secara individu. “Saya sangat terhormat dan tersanjung,” ucap Hadid seperti dikutip dari BBC, Februari 2016.
Karyanya kemudian berkembang ke berbagai negara, termasuk proyek infrastruktur, stadion, dan museum di Timur Tengah, Asia, hingga Amerika Latin. Semua proyeknya memiliki ciri khas lengkungan dinamis dan struktur kompleks yang menantang gravitasi.
Zaha Hadid wafat mendadak akibat serangan jantung pada 31 Maret 2016 di Miami, Amerika Serikat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam dalam dunia arsitektur. Ribuan pesan penghormatan mengalir dari seluruh penjuru dunia.

Beberapa karya arsitektur ikonik yang dirancang oleh Zaha Hadid (atau Zaha Hadid Architects):
Vitra Fire Station (Weil am Rhein, Jerman, 1993)
Karya bangunan nyata pertama Hadid—stasiun pemadam kebakaran yang bersudut tajam, mencerminkan bentuk yang seakan membeku dalam gerakanMAXXI – National Museum of 21st Century Arts (Roma, 2009‑2010)
Museum kontemporer dengan struktur beton berlapis dan tangga gelap yang saling bertaut, memenangkan Stirling Prize 2010.Guangzhou Opera House (Guangzhou, Tiongkok, 2010)
Dua bangunan berbentuk “kerikil” yang halus, dilapisi granit dan kaca—simbol fluiditas airPhaeno Science Center (Wolfsburg, Jerman, 2005)
Pusat sains interaktif dengan pilar beton kerucut, ruang gua terbuka, dan bentuk dinamis untuk inspirasi kreatifDongdaemun Design Plaza (Seoul, Korea Selatan, 2014)
Struktur besar berlapis permukaan yang undulatif, menggunakan BIM, sistem tram atap raksasa, dan fasad ganda.Wangjing SOHO (Beijing, Tiongkok, 2014)
Kompleks tiga menara asimetris melengkung yang memadukan fungsi kantor dan ritelJockey Club Innovation Tower (Hong Kong, 2014)
Gedung bergelombang di kampus universitas desain, menampilkan solusi fluid bentuk dan sirkulasi ruang.Napoli Afragola High‑Speed Train Station (Naples, Italia, 2017)
Stasiun futuristik menyerupai ular panjang melintang; ruang atrium menghubungkan pergerakan penumpang.Heydar Aliyev Center (Baku, Azerbaijan, 2007‑2012)
Pusat budaya dengan bentuk sinuous dan plaza publik yang mengalir, simbol dekontruksi yang elegan

Zaha Hadid merupakan sosok revolusioner yang mendobrak batasan arsitektur konvensional. Perpaduan antara geometri, seni lukis, dan inovasi teknik membuat karyanya menonjol di tengah arsitektur kontemporer. Melalui firma dan pengajarannya, ia turut mencetak regenerasi arsitek-arsitek baru.
Warisan Hadid bukan hanya bangunan, tetapi juga semangat untuk bereksperimen dan berani melampaui norma. Ia membuktikan bahwa peran perempuan dalam arsitektur dapat sama besar, bahkan lebih berpengaruh dari dominasi pria di bidang tersebut.
Hingga kini, banyak bangunan yang masih dibangun berdasarkan desainnya, bahkan setelah ia wafat. Dunia arsitektur terus mengenang dan mempelajari karya-karya Hadid sebagai inspirasi lintas zaman dan lintas disiplin ilmu.(*)





