GAZA CITY EKOIN.CO – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk menyusul laporan dari berbagai surat kabar internasional mengenai meningkatnya risiko kematian anak-anak akibat kelaparan dan kekurangan susu. Informasi terbaru yang dikutip dari Aljazeera, Ahad (6/7/2025), menyebutkan bahwa blokade Israel menghalangi distribusi susu formula bayi yang sangat dibutuhkan, sementara para ibu di Gaza tidak lagi mampu menyusui karena kekurangan gizi parah atau telah meninggal dunia.
Penderitaan Bayi dan Ancaman Kelaparan Massal
Kondisi anak-anak di Gaza digambarkan sangat memprihatinkan. The Guardian mengutip kesaksian para dokter yang mengatakan bahwa banyak anak di rumah sakit hanya tinggal kulit dan tulang. Para dokter memperingatkan bahwa risiko kematian akibat kelaparan sangat tinggi, terutama pada bayi yang tidak mendapatkan susu formula. Menurut mereka, kematian bayi saat ini menjadi indikator awal dari potensi krisis kelaparan berskala besar di wilayah tersebut.
Blokade ketat yang diterapkan Israel telah menghambat pasokan bantuan kemanusiaan, termasuk susu formula yang sangat dibutuhkan oleh bayi dan balita. “Kami tidak memiliki cukup makanan untuk ibu menyusui, dan bayi tidak bisa bertahan tanpa susu,” kata salah satu dokter di Gaza yang tidak disebutkan namanya oleh The Guardian.
Laporan itu juga menyoroti bagaimana kondisi ibu di Gaza semakin memburuk. Banyak dari mereka telah meninggal dunia atau mengalami kekurangan gizi parah, membuat mereka tidak bisa menyusui anak-anak mereka. Krisis ini dipicu oleh blokade total atas pasokan makanan dan obat-obatan ke Gaza sejak dimulainya perang terbaru.
Genosida dan Kecaman Internasional
Sementara itu, laporan Le Temps, surat kabar asal Swiss, menyoroti wawancara dengan Agnès Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International. Ia menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza merupakan bentuk genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina. Menurutnya, banyak individu dari berbagai belahan dunia menunjukkan solidaritas terhadap korban di Gaza, namun para pemimpin dunia justru gagal mengambil tindakan berarti.
“Sebagian besar dari mereka hanya mengeluarkan pernyataan basa-basi,” ujar Callamard. Ia menambahkan bahwa dunia tidak boleh menyerah karena rakyat Palestina sendiri tidak menyerah dan terus berjuang untuk bertahan hidup. Komentar ini menjadi pengingat keras atas kurangnya respon nyata dari komunitas internasional terhadap krisis yang sedang berlangsung.
Dari sumber yang sama, Callamard juga mengkritik negara-negara Eropa yang dianggap terlalu pasif dalam merespons kejahatan yang terus berlanjut di Jalur Gaza. Amnesty International menyerukan agar blokade segera dihentikan dan akses kemanusiaan dibuka untuk menyelamatkan nyawa warga sipil, terutama anak-anak.
Dalam laporan lain, New York Times mengutip sejumlah analis yang mengatakan bahwa meskipun Israel mungkin berhasil mengalahkan lawan-lawannya secara militer, mereka kini menghadapi risiko keterisolasian yang semakin dalam di tingkat internasional. Tindakan mereka terhadap penduduk Gaza dianggap mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang dipegang oleh masyarakat global.
Aljazeera juga mencatat bahwa Iran terlibat dalam eskalasi konflik dengan menghantam salah satu pangkalan militer Israel selama perang. Serangan ini menjadi bagian dari dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah, yang memperburuk penderitaan warga sipil Palestina.
Sejumlah surat kabar internasional lainnya juga melaporkan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza kini hampir lumpuh total. Rumah sakit kehabisan pasokan medis, dan tenaga kesehatan bekerja tanpa bayaran serta dalam tekanan luar biasa. Situasi ini membuat upaya penyelamatan nyawa anak-anak menjadi nyaris mustahil dilakukan.
Krisis ini telah berlangsung selama berbulan-bulan dan terus memburuk karena tidak adanya jeda kemanusiaan yang memadai. Organisasi-organisasi bantuan internasional seperti WHO dan UNICEF telah menyerukan intervensi segera, namun hingga kini masih belum ada respons konkret dari pihak-pihak terkait.
Banyak anak-anak yang menderita diare, infeksi saluran pernapasan, dan kondisi malnutrisi berat. Namun, tidak ada cukup antibiotik atau peralatan medis untuk merawat mereka. Setiap hari, rumah sakit menerima pasien anak yang semakin kritis. “Kami tidak tahu harus melakukan apa. Setiap pilihan tampak mustahil,” kata seorang petugas medis.
Kondisi ini menjadi semakin mengerikan karena tidak hanya menyangkut kekurangan pangan, tetapi juga kurangnya air bersih. Sebagian besar sumber air di Gaza telah tercemar atau rusak akibat pemboman, membuat risiko penyakit semakin tinggi di antara anak-anak.
Badan-badan PBB sebelumnya telah memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan. Namun, peringatan tersebut tidak menghasilkan tindakan nyata dari dunia internasional. Hal ini memperparah situasi dan mempercepat laju kematian di kalangan anak-anak.
Menurut data yang dihimpun oleh organisasi kemanusiaan, ratusan ribu anak kini terancam kelaparan akut. Jika blokade tidak segera diakhiri dan bantuan kemanusiaan tidak masuk, angka kematian diperkirakan akan melonjak dalam beberapa minggu ke depan.
Pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan memblokir susu bayi. Namun, tekanan internasional terhadap Tel Aviv semakin meningkat seiring dengan banyaknya laporan visual dan testimoni dari lapangan.
Sementara itu, para pengamat menilai bahwa kegagalan dunia internasional dalam bertindak bisa menciptakan preseden berbahaya bagi konflik kemanusiaan di masa depan. Solidaritas global dinilai tidak cukup tanpa langkah-langkah konkret yang bisa menyelamatkan nyawa.
Krisis di Gaza kini tidak lagi hanya menjadi isu regional, tetapi telah menjadi simbol kegagalan kolektif dunia dalam menegakkan hak asasi manusia di tengah konflik. Penindasan terhadap anak-anak dan warga sipil harus dihentikan melalui tekanan diplomatik dan aksi nyata.
Jika tidak ada perubahan kebijakan atau intervensi darurat, maka masa depan generasi anak-anak Gaza akan hancur. Dunia ditantang untuk bergerak cepat sebelum segalanya terlambat.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menghentikan blokade dan memastikan distribusi bantuan kemanusiaan berjalan tanpa hambatan. Selain itu, komunitas internasional harus memperkuat peran diplomatik untuk mendorong gencatan senjata permanen.
Seluruh masyarakat global juga harus terlibat, tidak hanya melalui solidaritas simbolik, tetapi juga dalam bentuk dukungan terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan yang beroperasi di Gaza.
Penting bagi media dan masyarakat sipil untuk terus melaporkan dan menyuarakan penderitaan warga Gaza agar perhatian dunia tidak surut. Transparansi informasi akan mendorong akuntabilitas dan tekanan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Diperlukan komitmen politik yang kuat dari negara-negara besar untuk mendorong penyelesaian damai dan pemulihan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari konflik politik yang berkepanjangan.
Tanpa perubahan nyata, situasi ini bisa berkembang menjadi tragedi kemanusiaan yang lebih dalam. Oleh karena itu, dunia internasional tidak boleh diam. Harus ada tanggung jawab kolektif untuk mencegah lebih banyak nyawa melayang sia-sia.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





