EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda BERANDA
Struktur Desentralisasi Hamas Perkuat Serangan di Gaza

Struktur Desentralisasi Hamas Perkuat Serangan di Gaza

Hamas tetap menyerang meski kehilangan unit-unit penting. Struktur desentralisasi membuat operasi militer terus berjalan.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
8 Juli 2025
Kategori BERANDA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Gaza EKOIN.CO – Hamas melalui sayap militernya, Brigade Izzuddin al-Qassam, masih mampu mempertahankan kekuatan tempur secara konsisten selama berbulan-bulan konflik di Gaza meski mengalami tekanan intens dari serangan militer Israel. Pendekatan terdesentralisasi dan struktur organisasi jaringan menjadi kunci utama kelangsungan operasi mereka.

Peneliti Tariq Hammoud dalam jurnal Journal of Palestine Studies edisi Juli 2024 menjelaskan bahwa Hamas beroperasi bukan sebagai organisasi hierarkis terpusat, melainkan sebagai entitas jaringan. Desentralisasi ini membuat organisasi tetap berjalan, meski terjadi gangguan atau hilangnya sejumlah pimpinan utama.

Menurut Hammoud, strategi desentralisasi dilakukan untuk menghindari fokus serangan Israel yang kerap menyasar tokoh pimpinan. Dengan membagi kepemimpinan ke lebih banyak pejabat, Hamas berusaha mengurangi dampak kerusakan terhadap struktur komandonya.

Pendekatan Desentralisasi Menjadi Kekuatan Operasi al-Qassam

Bilal Saab, peneliti dari lembaga Chatham House di London, juga menyoroti strategi Hamas dalam menghadapi tentara Israel. Kepada Financial Times, ia menyatakan bahwa pendekatan Hamas bertujuan menimbulkan kerusakan maksimal terhadap militer Israel melalui gabungan pasukan hibrida dan konvensional.

Berita Menarik Pilihan

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Stadion Indomilk Tak Lagi Angker bagi Macan Kemayoran, Persija Pulang Bawa Kemenangan Mutlak

Saab menambahkan bahwa operasi militer al-Qassam sangat terdesentralisasi. Ia menjelaskan adanya struktur militer seluler di mana setiap unit tempur beroperasi secara mandiri, tanpa bergantung pada instruksi pusat. Ini menjadi kunci bertahannya serangan meski unit-unit utama mengalami kehilangan.

Model struktur seluler ini memungkinkan pasukan perlawanan untuk tetap bergerak dan menyerang secara fleksibel. Dengan kata lain, setiap unit dapat mengambil keputusan operasional sendiri sesuai kondisi lapangan, tanpa harus menunggu perintah dari pusat komando.

Mekanisme ini berbeda dari pendekatan militer konvensional yang bergantung pada komando pusat. Desentralisasi membuat Hamas lebih tahan terhadap serangan yang ditargetkan pada tokoh-tokoh tertentu atau pusat kendali.

Peter Konchak, seorang perwira Angkatan Darat Amerika Serikat sekaligus peneliti di Leiper Research Foundation, menjelaskan konsep ini dalam makalah yang terbit Agustus 2023. Ia menyebut bahwa untuk mengalahkan Hamas, tidak cukup hanya menghentikan pasukan garis depan.

Menurut Konchak, menghancurkan organisasi ini membutuhkan isolasi penuh terhadap jalur logistik dan pemutusan akses ke penguatan sumber daya. Pasalnya, struktur mereka memungkinkan pertahanan terus berjalan meski kehilangan banyak personel penting.

Pertempuran Tetap Berlangsung Tanpa Tergantung Satu Titik

Salah satu penekanan utama dari berbagai pengamat adalah bahwa operasi perlawanan Hamas tidak bergantung pada satu pusat komando tunggal. Meskipun beberapa unit terluka atau lumpuh, pertarungan di lapangan tetap berlanjut karena adanya pembagian fungsi secara menyeluruh.

Makalah-makalah tersebut menekankan bahwa tidak peduli seberapa besar kerusakan yang dialami pada bagian-bagian tertentu dari struktur militer Hamas, keseluruhan sistem tetap berjalan. Hal ini menyerupai karakter organisme yang tetap hidup meski sebagian tubuhnya rusak.

Struktur militer seperti ini memungkinkan regenerasi. Ketika satu bagian “dipotong” atau dihancurkan, bagian itu mampu tumbuh menjadi unit baru yang tetap fungsional dan mampu bertempur seperti sebelumnya.

Dengan sistem seperti ini, Hamas dinilai mampu menyerap pukulan besar sekalipun tanpa menghentikan laju pertempuran. Hal ini tercermin dari bagaimana mereka terus meluncurkan serangan terhadap pasukan Israel dari berbagai arah meskipun basis utama telah hancur.

Bahkan dalam situasi perang yang telah berlangsung lebih dari sembilan bulan, brigade al-Qassam tetap menunjukkan kemampuan manuver dan melancarkan serangan ke berbagai titik wilayah konflik. Ini menunjukkan bahwa sistem operasional mereka tidak tergantung pada satu titik komando.

Para peneliti sepakat bahwa keunggulan utama Hamas saat ini bukan terletak pada kekuatan senjata atau jumlah pasukan, melainkan pada keunggulan struktur organisasi yang fleksibel, tahan banting, dan terus berevolusi menghadapi tekanan.

Bahkan saat pasokan logistik terbatas dan komunikasi terganggu, masing-masing unit tetap bisa menjalankan misi sesuai tujuan strategis jangka panjang. Ini membuat upaya Israel untuk mematahkan perlawanan menjadi lebih rumit dan tidak langsung.

Peter Konchak menegaskan bahwa pendekatan militer Israel perlu lebih strategis dan menyeluruh jika ingin mematahkan perlawanan. Ia menyarankan fokus pada pemutusan suplai dan penguatan dari luar yang menopang jaringan perlawanan.

Makalah-makalah yang dikaji menunjukkan bahwa ketahanan sistem militer Hamas bisa dijelaskan melalui logika biologi: seperti organisme hidup, mereka mampu mempertahankan kelangsungan dengan mengaktifkan fungsi-fungsi alternatif ketika sebagian struktur lumpuh.

Melihat situasi ini, sulit bagi militer Israel untuk meraih kemenangan mutlak hanya melalui pembunuhan tokoh dan penghancuran lokasi-lokasi utama. Kemenangan tersebut memerlukan pendekatan jangka panjang terhadap sistem dan jaringan pendukungnya.

Dalam jangka panjang, ketahanan organisasi seperti Hamas menuntut strategi kontra yang tidak hanya militeristik, melainkan juga bersifat struktural dan sistemik. Ketahanan jaringan membuatnya mampu beradaptasi secara cepat dan meminimalkan dampak kerusakan.

pertempuran yang terjadi di Gaza melibatkan lebih dari sekadar kekuatan tempur biasa. Ia bergantung pada kemampuan organisasi bertahan, beradaptasi, dan beregenerasi dalam kondisi ekstrem.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Struktur jaringan terdesentralisasi yang diadopsi Hamas membuatnya lebih fleksibel dalam menjalankan operasi militer. Ini menjadi tantangan besar bagi kekuatan konvensional seperti Israel yang terbiasa menghadapi sistem komando terpusat.

Desentralisasi juga menciptakan ketahanan dalam jangka panjang karena tidak ada satu titik lemah yang bisa dimanfaatkan untuk melumpuhkan seluruh jaringan. Setiap unit memiliki otonomi yang menjadikannya lebih gesit dan responsif.

Dalam konteks perang asimetris, strategi ini sangat efektif. Bahkan kehilangan pemimpin utama tidak serta-merta menghentikan operasi. Ini menunjukkan betapa pentingnya memahami struktur organisasi lawan secara mendalam sebelum menerapkan pendekatan militer.

Kombinasi antara struktur seluler dan pasukan hibrida menciptakan kesulitan tambahan bagi militer Israel untuk mengidentifikasi target yang efektif. Tanpa pemetaan jaringan yang akurat, serangan besar pun bisa menjadi tidak efisien.

Untuk ke depan, diperlukan pendekatan multidimensi dari pihak manapun yang ingin menyelesaikan konflik secara tuntas. Ini tidak hanya melalui operasi militer, melainkan juga pemutusan sumber daya, penguatan diplomasi, serta pemahaman psikososial dari struktur organisasi seperti Hamas.(*)


 

Tags: al-QassamdesentralisasiGazaHamasIsraelperlawanan
Post Sebelumnya

Enam Gejala Stroke yang Muncul Sebulan Sebelumnya

Post Selanjutnya

Tantangan dan Harapan Jejak Karbon Mahasiswa ITB 2025

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

Kemenangan 2-0 ini membawa Macan Kemayoran naik ke posisi dua klasemen sementara BRI Super League. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Stadion Indomilk Tak Lagi Angker bagi Macan Kemayoran, Persija Pulang Bawa Kemenangan Mutlak

oleh Danang F Pradhipta
30 Januari 2026
0

​"Kami datang dengan kepercayaan diri tinggi. Kami tahu main di sini (Tangerang) selalu sulit, tapi hari ini efektivitas penyelesaian akhir...

BSI Maslahat dan IPB Perkuat Akses Pendidikan dan Sarana Keagamaan bagi Mahasiswa. Sumber dok bsimaslahat.or.id

BSI Maslahat Dukung Pendidikan Lewat Bantuan Rp6 Miliar di IPB

oleh Agus DJ
28 Januari 2026
0

Bogor, Ekoin.co - BSI Maslahat Dukung Pendidikan di Indonesia dengan melakukan kolaborasi strategis bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Institut...

Kehadiran konsep hiburan tradisional di tengah kawasan elite ini memicu perdebatan luas terkait etika ruang publik dan legalitas perizinan usaha di awal tahun 2026. (Ekoin.co/Ilustrasi/Istimewa)

PIK 2 Rasa Pantura: Ketika Kawasan Elit Jakarta Utara Tergoda ‘Servis’ Kopi Pangku

oleh Admin EKOIN.CO
23 Januari 2026
0

Di satu sisi, fenomena ini dianggap sebagai keunikan urban, namun di sisi lain, desakan untuk penertiban mulai bermunculan seiring dengan...

Post Selanjutnya
Tantangan dan Harapan Jejak Karbon Mahasiswa ITB 2025

Tantangan dan Harapan Jejak Karbon Mahasiswa ITB 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.