Tel Aviv,EKOIN.CO – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan kesiapan militer negaranya untuk mengambil langkah-langkah tegas terhadap Teheran. Pernyataan ini disampaikan Katz dalam pertemuan dengan pimpinan militer pada Kamis, 3 Juli 2025, di tengah suasana pasca-gencatan senjata yang rapuh.
Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel yang dikutip berbagai media, Katz menegaskan bahwa tugas utama angkatan bersenjata saat ini adalah mencegah Iran menjadi ancaman kembali. “Tugas militer saat ini adalah mempersiapkan rencana penegakan hukum agar Iran tidak bisa lagi mengancam Israel,” kata Katz dalam pertemuan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa pasukan Israel harus siap baik dari sisi intelijen maupun operasi. Menurutnya, kesiapan penuh sangat diperlukan untuk menghadapi kemungkinan ancaman di masa depan yang bersumber dari Teheran.
“Angkatan udara harus mempertahankan keunggulan udara atas Teheran, mencegah Iran membangun kembali kemampuan militernya,” lanjut Katz, menyoroti pentingnya supremasi udara dalam strategi pertahanan Israel.
Ancaman Pasca Gencatan Senjata
Pernyataan tegas ini muncul hanya beberapa hari setelah konflik bersenjata selama 12 hari antara Israel dan Iran berakhir. Serangan udara besar-besaran yang dilakukan Israel pada 13 Juni 2025 ditujukan untuk menggagalkan ambisi senjata nuklir Iran dan menghancurkan sistem rudal balistik mereka.
Iran sendiri telah berulang kali membantah sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, Israel tetap mencurigai adanya program tersembunyi yang mengarah pada pengembangan senjata pemusnah massal tersebut.
Setelah Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempertegas bahwa negaranya tetap berkomitmen untuk mencegah Iran membangun kembali infrastruktur nuklirnya.
“Tentara akan bertindak secara teratur untuk mengatasi ancaman tersebut,” tulis Israel Katz melalui akun platform X pada 27 Juni, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak berarti ancaman telah berakhir.
Strategi Baru dan Evaluasi Ancaman
Sejumlah media di Israel melaporkan bahwa para pemimpin militer dan politik negara itu sedang mempertimbangkan pendekatan strategis jangka panjang terhadap Iran. Strategi ini disebut mirip dengan kebijakan di Lebanon, di mana Israel secara berkala menyerang posisi militan Hizbullah walaupun telah ada kesepakatan gencatan senjata.
Pendekatan tersebut dipertimbangkan sebagai bentuk pencegahan aktif terhadap kebangkitan kekuatan musuh di perbatasan maupun wilayah yang dianggap strategis. Model serangan terbatas namun terjadwal menjadi pilihan yang dipertimbangkan secara serius.
Dalam konflik 12 hari terakhir, Israel mencatat telah menjadi sasaran lebih dari 50 rudal Iran. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 28 warga Israel dan menyebabkan kerusakan infrastruktur sipil di beberapa kota.
Di sisi lain, menurut laporan otoritas peradilan Iran, lebih dari 900 orang tewas akibat serangan Israel selama konfrontasi itu. Jumlah korban tersebut menimbulkan kecaman di berbagai negara, meski sebagian lainnya mendukung hak Israel untuk membela diri.
Israel kini menyoroti ancaman jangka panjang dari Iran, terutama menyangkut program nuklir, pengembangan rudal balistik, dan aliansi militer dengan kelompok militan di kawasan. Pemerintah Israel menyatakan bahwa setiap pembangunan kembali fasilitas militer Iran akan langsung mendapat respons militer.
Dalam pertemuan militer yang dipimpin Katz, para pejabat pertahanan Israel juga membahas peningkatan kolaborasi dengan mitra-mitra internasional, khususnya Amerika Serikat, dalam hal pertukaran intelijen dan penguatan sistem pertahanan udara.
Namun, belum ada rincian resmi mengenai waktu atau skala langkah militer lanjutan yang akan diambil Israel terhadap Iran. Para analis keamanan menyebut bahwa Israel kemungkinan akan mengandalkan operasi udara presisi tinggi untuk menghindari eskalasi yang lebih luas.
Sementara itu, situasi di perbatasan utara Israel dan sepanjang kawasan Teluk tetap dijaga dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Pemerintah Israel telah memperingatkan warganya untuk tetap siaga menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran atau kelompok afiliasinya.
Israel juga meningkatkan kesiapsiagaan sistem pertahanan rudal Iron Dome di beberapa wilayah strategis, guna menangkal serangan jarak jauh yang potensial datang dari arah Iran maupun milisi pendukungnya.
Pemerintah Israel mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer jika ancaman dari Iran kembali meningkat, meskipun dunia internasional menyerukan pendekatan diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan.
dari perkembangan ini adalah pentingnya semua pihak mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik yang dapat memicu ketegangan regional. Komunitas internasional diharapkan berperan aktif menengahi antara Iran dan Israel guna mencegah eskalasi lebih jauh.
Peningkatan kekuatan militer tidak seharusnya menjadi satu-satunya jalan keluar. Solusi diplomatik dan kerja sama intelijen yang transparan dapat membantu menciptakan rasa saling percaya di antara negara-negara yang berseteru.
Israel maupun Iran memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas Timur Tengah. Setiap aksi balasan berlebihan berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan yang merugikan seluruh kawasan.
Peran organisasi internasional seperti PBB, IAEA, dan negara-negara kawasan sangat penting untuk memantau situasi dan mendorong pengawasan ketat terhadap aktivitas nuklir Iran secara objektif.
meskipun Israel memiliki hak membela diri, pendekatan militer jangka panjang tidak selalu menjamin keamanan permanen. Upaya perdamaian dan diplomasi yang konsisten lebih menjanjikan dalam membangun stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





