Gaza EKOIN.CO – Setelah lebih dari 21 bulan peperangan, Brigade Al Qassam yang merupakan sayap militer Hamas masih menunjukkan kekuatan yang signifikan dalam melawan pasukan Israel di Jalur Gaza. Meskipun telah kehilangan banyak pemimpin dan pejuang, Hamas tetap melakukan operasi militer yang terorganisir dengan tingkat presisi tinggi.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dilaporkan oleh Al Mayadeen dan dikutip dari situs web Walla, para pejuang Hamas terus menjalankan operasi intelijen tingkat lapangan yang mengarahkan serangan terhadap posisi-posisi Israel. Serangan tersebut mencakup tembakan penembak jitu, senjata ringan, peluncuran rudal anti-tank, dan peledakan alat peledak yang ditanam sebelumnya.
Pada Selasa, 8 Juli 2025, juru bicara Al-Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan pernyataan di Telegram bahwa pihaknya akan terus menyebabkan kerugian besar di pihak Israel dan kemungkinan menangkap lebih banyak tentara sebagai bagian dari perang gesekan yang terus berlangsung.
Kemampuan Serangan Hamas yang Masih Konsisten
Sumber keamanan Israel mengakui bahwa Hamas telah mampu membentuk kembali jaringan komando dan komunikasi militer yang efektif. Komando pusat Hamas yang berbasis di Kota Gaza dan kamp-kamp utama memberi arahan kepada unit-unit lapangan untuk menargetkan posisi Israel.
Menurut penilaian yang disampaikan oleh seorang perwira cadangan senior Israel, peningkatan suhu dan kelembapan di Jalur Gaza telah berdampak buruk terhadap kesiapsiagaan dan efektivitas tentara Israel, yang membuka peluang lebih besar bagi Hamas untuk melakukan penyergapan.
Surat kabar Israel Maariv juga melaporkan bahwa operasi besar Israel yang dinamai Operasi Kereta Perang Gideon belum berhasil mencapai tujuannya. Dalam laporan yang sama, Yedioth Ahronoth menyebut bahwa klaim Israel tentang kehancuran Hamas terlalu dini.
Hamas, menurut Yedioth Ahronoth, justru terus membangun kekuatannya kembali di area-area yang tidak dijangkau pasukan Israel, menandakan bahwa kelompok tersebut belum melemah sebagaimana yang diklaim oleh pemerintah Israel.
Serangan-serangan canggih yang dilakukan oleh Hamas juga berdampak signifikan terhadap korban di pihak militer Israel. Salah satu serangan pada malam 7 Juli 2025 menyebabkan lima tentara Israel tewas dan 14 lainnya terluka, sebagian dalam kondisi kritis.
Strategi Israel dan Realitas di Lapangan
Sejak mengakhiri gencatan senjata secara sepihak pada 18 Maret 2025, Israel telah melakukan sekitar 2.900 serangan udara ke Gaza. Serangan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi militer yang disebut Operasi Gideon’s Chariots.
Operasi tersebut bertujuan untuk mengambil alih sekitar 75 persen wilayah Gaza dalam waktu dua bulan, sambil merelokasi warga ke wilayah-wilayah seperti Kota Gaza, kamp pengungsi pusat, dan zona Al-Mawasi. Namun, zona ini yang sebelumnya dinyatakan sebagai kawasan kemanusiaan juga telah menjadi target serangan udara.
Tujuan dari strategi relokasi ini adalah untuk memutus sistem pemerintahan Hamas dan melemahkan strukturnya dari dalam. Israel berharap langkah ini akan memaksa Hamas masuk ke dalam situasi krisis yang dapat mengarah pada gencatan senjata berdasarkan syarat-syarat Israel.
Sementara itu, berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat pada Januari 2025, Hamas diyakini telah merekrut antara 10.000 hingga 15.000 pejuang dalam kurun 15 bulan terakhir. Rekrutmen ini dimaksudkan untuk mengganti kehilangan yang dialami selama konflik.
Sebagian besar dari pejuang baru ini adalah anak muda yang belum memiliki pengalaman pertempuran signifikan. Meski demikian, mereka dilatih dan diberi arahan strategis oleh komando pusat yang tetap beroperasi meskipun dibombardir.
Serangan Hamas cenderung menargetkan posisi militer, berbeda dengan serangan Israel yang kerap menimbulkan korban sipil. Salah satu insiden yang paling mematikan terjadi pada Kamis pagi, 10 Juli 2025, saat pesawat tempur Israel menyerang kerumunan warga sipil yang sedang menunggu bantuan di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Serangan tersebut menyebabkan 17 warga Palestina tewas, termasuk sepuluh anak-anak dan sejumlah wanita. Insiden ini dilaporkan oleh The New Arab dan menjadi sorotan tajam di berbagai media internasional.
Situasi di lapangan semakin menunjukkan perbedaan pendekatan antara kedua pihak dalam perang ini. Hamas mengandalkan operasi gerilya presisi sementara Israel terus melakukan serangan udara besar-besaran.
Kondisi ini mencerminkan perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meskipun menghadapi tekanan luar biasa dari militer Israel, Hamas tetap menunjukkan ketahanan operasional dan kemampuan adaptasi yang tinggi.
Dengan strategi militer yang belum sepenuhnya berhasil, Israel kini menghadapi tantangan baru dalam menghentikan serangan yang terus muncul dari jalur Gaza. Tekanan internasional terhadap cara Israel menangani konflik ini juga semakin meningkat.
Para analis menyatakan bahwa keberhasilan Hamas mempertahankan struktur komandonya menjadi kunci utama dalam keberlangsungan operasinya, terlepas dari kerugian besar yang telah mereka derita.
Kondisi lapangan yang berubah dan kemampuan Hamas dalam menyesuaikan diri dengan tekanan militer membuat konflik ini diprediksi masih akan berlangsung lama. Tanpa solusi politik atau diplomasi yang efektif, eskalasi bisa terus meningkat.
Langkah-langkah evakuasi dan pemboman terhadap wilayah sipil juga turut memperkeruh keadaan dan meningkatkan jumlah korban di pihak sipil, yang pada akhirnya memicu kecaman global.
Penting bagi komunitas internasional untuk segera meningkatkan tekanan diplomatik agar gencatan senjata bisa tercapai kembali. Situasi di Gaza tidak hanya menciptakan penderitaan bagi warga sipil, namun juga memperpanjang konflik yang tidak berkesudahan.
Kedua pihak harus mempertimbangkan jalur negosiasi yang dapat menjembatani perbedaan dan menciptakan solusi yang adil dan berkelanjutan. Mengandalkan kekuatan militer semata terbukti tidak efektif dalam mengakhiri konflik ini.
Diperlukan keterlibatan aktif lembaga internasional untuk menjamin keamanan warga sipil serta mendesak dibukanya akses bantuan kemanusiaan yang aman di Gaza. Upaya ini mendesak mengingat situasi yang memburuk dari hari ke hari.
Kesadaran bahwa perang ini membawa dampak jangka panjang terhadap generasi mendatang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan yang diambil. Anak-anak dan wanita tidak seharusnya menjadi korban dalam konflik bersenjata.
Terakhir, menjaga keberlangsungan kemanusiaan dan hukum internasional adalah tanggung jawab bersama. Semua pihak yang terlibat maupun yang memiliki pengaruh perlu mendorong deeskalasi dan penyelesaian damai agar tragedi ini tidak terus berulang.(*)





