Gaza EKOIN.CO – Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, menyatakan bahwa pihaknya telah membunuh seorang tentara Israel dalam sebuah operasi di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Peristiwa tersebut terjadi setelah pasukan al-Qassam gagal menangkap tentara tersebut karena kondisi medan pertempuran yang tidak memungkinkan.
Insiden ini terjadi pada Kamis, 10 Juli 2025, dan diumumkan keesokan harinya, Jumat (11/7/2025), seperti dikutip dari Anadolu. Pihak militer Israel telah mengonfirmasi kematian tentaranya. Ini menjadi kejadian pertama dalam 14 bulan terakhir di mana seorang tentara Israel tewas dalam operasi yang secara spesifik dilaporkan sebagai akibat dari kegagalan penangkapan.
Menurut laporan resmi Brigade al-Qassam, operasi tersebut merupakan bagian dari respons terhadap serangan yang terus berlanjut di Jalur Gaza oleh pasukan Israel. Mereka menyebut tindakan balasan ini sebagai bagian dari perjuangan terhadap apa yang mereka anggap sebagai genosida yang dilakukan Israel.
Insiden Militer di Khan Younis
Khan Younis telah menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dalam konflik terbaru antara Israel dan faksi-faksi perlawanan Palestina. Dalam operasi terbaru ini, Brigade al-Qassam menyampaikan bahwa medan yang sulit menghambat rencana mereka untuk menangkap tentara Israel, sehingga memutuskan untuk membunuhnya di lokasi.
Tentara Israel yang tewas tidak disebutkan identitasnya secara rinci dalam laporan-laporan yang beredar. Namun, media Israel seperti Israel Hayom melaporkan bahwa total 39 tentara Israel telah tewas di Gaza sejak Israel kembali melanjutkan operasi militer intensif pada 18 Maret 2025.
Brigade al-Qassam menyatakan bahwa tindakan ini akan terus berlanjut selama pendudukan dan serangan terhadap warga sipil Palestina tetap dilakukan. Mereka menegaskan bahwa setiap tindakan Israel akan dibalas dengan cara yang setimpal.
Respons Internasional dan Situasi Terkini
Operasi militer di Gaza telah memicu keprihatinan internasional, termasuk desakan dari berbagai organisasi kemanusiaan untuk menghentikan kekerasan. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa kedua pihak akan segera menghentikan konflik.
Dalam beberapa bulan terakhir, pertempuran di Gaza semakin sengit, terutama sejak Israel meningkatkan operasi darat dan udara. Korban jiwa dari pihak Palestina terus bertambah, baik dari kalangan pejuang maupun warga sipil.
Brigade al-Qassam, dalam pernyataan resminya, menyebutkan bahwa operasi-operasi mereka menargetkan titik-titik militer strategis Israel, bukan warga sipil. Mereka mengklaim memiliki hak membela diri di bawah hukum internasional.
Sementara itu, pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi secara lengkap mengenai insiden pembunuhan di Khan Younis ini. Namun, pengakuan atas kematian tentara mereka menandakan bahwa operasi al-Qassam berhasil menembus pertahanan Israel.
Media Israel lainnya juga melaporkan bahwa konflik di Gaza telah menewaskan ratusan warga Palestina sejak Maret 2025. Situasi kemanusiaan di Gaza pun semakin memburuk, dengan terbatasnya akses bantuan medis dan makanan.
Menurut Anadolu, serangan-serangan balasan dari Hamas dan faksi lainnya di Gaza merupakan respons atas terus berlangsungnya pengepungan dan serangan Israel terhadap wilayah Palestina, khususnya di Gaza selatan.
Selain itu, laporan menyebutkan bahwa Brigade al-Qassam juga telah melakukan berbagai operasi penyergapan dan sabotase terhadap pasukan Israel di berbagai sektor. Operasi ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan yang berlangsung sejak lama.
Dalam konflik ini, Khan Younis menjadi simbol perlawanan baru bagi warga Palestina. Wilayah tersebut mengalami serangan besar-besaran sejak awal 2024 dan terus menjadi pusat pertempuran hingga kini.
Militer Israel dilaporkan terus berupaya mengepung basis-basis militan Hamas, namun sering menghadapi kesulitan karena medan yang padat dan kompleks. Hal ini diakui oleh beberapa analis pertahanan dalam laporan media setempat.
Pihak Hamas menyebut bahwa meskipun mereka kehilangan banyak pejuang, semangat perlawanan tetap tinggi. Mereka mengklaim akan terus bertahan dan menyerang hingga Israel menghentikan agresi militernya.
Sementara itu, berbagai negara terus menyerukan gencatan senjata segera dan penyelesaian damai. Namun, negosiasi yang melibatkan pihak internasional belum membuahkan hasil konkret.
Dengan kematian tentara Israel ini, jumlah korban dari pihak militer Israel terus bertambah. Kondisi ini memperpanjang daftar korban dalam konflik yang sudah berlangsung sejak Oktober 2023.
Berbagai laporan menyebutkan bahwa pertempuran di Gaza telah mencapai tingkat eskalasi baru dalam beberapa minggu terakhir, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah.
Meningkatnya ketegangan ini juga berdampak pada warga sipil yang terjebak di zona konflik. Laporan kemanusiaan mengindikasikan bahwa ribuan warga harus mengungsi dari rumah mereka.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebaliknya, setiap insiden memicu respons militer baru dari kedua belah pihak, menciptakan siklus kekerasan yang terus berulang.
Operasi militer yang terus berlanjut tanpa jeda meningkatkan risiko terhadap warga sipil dan menghambat akses bantuan internasional. Beberapa lembaga kemanusiaan bahkan telah menyatakan kesulitan dalam menjangkau wilayah terdampak.
Dalam waktu dekat, perhatian internasional diharapkan dapat mendorong kedua pihak untuk meredakan konflik. Namun, selama operasi balasan terus terjadi, perdamaian tampaknya masih jauh dari harapan.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Situasi di Gaza membutuhkan solusi politik dan diplomatik yang lebih serius. Pendekatan militer terus-menerus hanya akan memperburuk penderitaan rakyat di kedua belah pihak. Dalam konteks ini, peran dunia internasional harus lebih aktif untuk menekan terwujudnya gencatan senjata yang berkelanjutan.
Penting bagi para pemangku kepentingan global untuk mengedepankan kemanusiaan di atas kepentingan politik. Langkah-langkah diplomasi harus diprioritaskan agar krisis tidak menjadi konflik jangka panjang yang tidak terkendali.
Selama konflik belum mereda, penduduk sipil akan tetap menjadi korban terbesar. Oleh karena itu, akses bantuan dan perlindungan terhadap mereka harus segera ditingkatkan. Pelanggaran hak asasi manusia harus dicegah sejak dini.
Masyarakat internasional juga harus memastikan bahwa proses penyelidikan terhadap kekerasan dilakukan secara transparan. Akuntabilitas atas tindakan militer dari kedua belah pihak sangat dibutuhkan untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut.
Pada akhirnya, perdamaian hanya akan terwujud jika semua pihak menghentikan kekerasan dan memulai dialog. Jalan menuju penyelesaian konflik di Gaza mungkin panjang, tetapi harus dimulai sekarang demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh warga kawasan.(*)





