EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda RAGAM EDUKASI
Anomali Iklim Picu Gagal Panen, Solusi Segera Diperlukan

Sumber dok ugm.ac.id

Anomali Iklim Picu Gagal Panen, Solusi Segera Diperlukan

Kemarau basah pada pertengahan 2024 membuat petani salah prediksi musim tanam, menyebabkan kerugian besar akibat gagal panen dan puso, meski di sisi lain wilayah kering justru memperoleh manfaat dari curah hujan tinggi.

Agus DJ oleh Agus DJ
14 Juli 2025
Kategori EDUKASI, PERTANIAN
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Fenomena cuaca tak biasa melanda Indonesia sejak Mei 2024. Meski kalender menunjukkan musim kemarau, curah hujan justru meningkat tajam. Beberapa daerah bahkan dilanda banjir saat seharusnya lahan kering untuk ditanami.

Peristiwa ini disebut sebagai kemarau basah, situasi di mana secara meteorologis memasuki musim kemarau, namun masih terjadi curah hujan tinggi. Fenomena ini berdampak besar pada sektor pertanian yang tengah bangkit pasca mengalami surplus beras nasional.

Dampak Besar ke Lahan Petani

Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., pakar agrometeorologi dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menyatakan bahwa kondisi ini berisiko memicu krisis baru di sektor pangan. Ia menjelaskan, musim hujan yang berkepanjangan menyebabkan gangguan tanam.

“Merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa kemarau basah diprediksi akan terjadi selama 3 bulan ke depan, yaitu sampai Oktober 2024,” ujarnya di UGM, Senin (14/7).

Berita Menarik Pilihan

JANGAN SAMPAI GAGAL! Panduan Lengkap Registrasi Akun Siswa SNBP 2026: Hindari 5 Kesalahan Fatal Ini

Makan Durian Bersamaan Minuman Soda Berbahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ia menambahkan bahwa banyak petani salah menghitung musim tanam. Bulan Mei dan Juni yang biasanya kering justru dipenuhi hujan, menyebabkan genangan dan gagal tanam. Beberapa tanaman tidak bisa dipanen akibat puso.

Ketidaksesuaian cuaca menyebabkan petani kesulitan menanam komoditas utama seperti cabai dan bawang merah. Bahkan, perhitungan yang meleset membuat sebagian lahan terendam sebelum sempat ditanami.

Kondisi di Wilayah Timur Menguntungkan

Namun, Apri menyebut tidak semua dampak bersifat negatif. Wilayah seperti Papua dan Indonesia bagian timur justru diuntungkan. Di daerah tadah hujan, curah hujan tinggi memperbaiki ketersediaan air untuk bercocok tanam.

“Peningkatan intensitas curah hujan ini akan menguntungkan untuk wilayah-wilayah yang kering dan tadah hujan, sehingga ini akan membuat ketersediaan air di wilayah-wilayah tersebut cukup,” terang Apri.

Meski begitu, antisipasi tetap dibutuhkan. Apri mendorong adanya langkah strategis dari pemerintah dan lembaga terkait dalam menyikapi kemarau basah. Hal ini mencakup peringatan dini cuaca dan penyampaian informasi hingga level desa.

Ia juga menegaskan bahwa prediksi cuaca harus lebih rinci dan tepat sasaran agar petani tidak salah dalam menentukan waktu tanam. Edukasi kepada masyarakat, terutama petani, menjadi penting dalam menyikapi fenomena ini.

Antisipasi La Niña dan Solusi Jangka Panjang

Apri menyebut La Niña sebagai salah satu penyebab kemarau basah dan menyarankan edukasi tentang dampaknya harus digalakkan. Informasi ini dapat diteruskan melalui penyuluh pertanian di setiap daerah.

Menurutnya, edukasi tersebut akan sangat bermanfaat dalam perencanaan sektor pertanian, energi, dan air. Bahkan, dapat membantu menghindari kerugian yang lebih besar akibat anomali cuaca yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.

“Prediksi awal terjadinya La Niña ini bermanfaat dalam membantu perencanaan dan pengelolaan berbagai sektor seperti sumber daya air, energi, transportasi, pertanian, kehutanan, perikanan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengusulkan adanya asuransi pertanian bagi petani yang mengalami gagal panen. Asuransi ini dapat menjadi solusi jangka panjang jika pemerintah menindaklanjuti dengan dukungan kebijakan dan dana.

Terakhir, kesiapan infrastruktur pendukung sangat krusial. “Yang tak kalah penting bisa memastikan kesiapan sarana dan prasarana untuk menghadapi La Niña, seperti ketersediaan pompa, jaringan irigasi, hingga penggunaan benih tahan genangan,” imbuh Apri.

Fenomena kemarau basah pada 2024 mengubah ritme pertanian nasional. Musim tanam menjadi tidak menentu, sehingga petani kesulitan menyesuaikan jadwalnya. Gagal tanam meluas akibat curah hujan yang tidak sesuai prediksi semula.

Namun, kondisi ini menjadi peluang bagi wilayah kering seperti Papua dan Indonesia Timur. Hujan yang terus turun justru menyuburkan ladang dan meningkatkan produktivitas di area yang biasanya kesulitan air saat musim kemarau.

Pakar menyarankan agar sistem peringatan cuaca dan edukasi ditingkatkan. Pemerintah diminta menyiapkan antisipasi, termasuk asuransi pertanian dan benih tahan genangan. Semua itu dilakukan agar sektor pertanian tetap bertahan dan kuat dalam menghadapi perubahan iklim.(*)

Tags: asuransi pertanianBayu Dwi Apri Nugrohobenih tahan genanganBMKGcurah hujangagal panenintensitas hujankemarau basahLa Niñapertanian Indonesiaperubahan iklimpetaniprediksi cuacasektor panganUGM
Post Sebelumnya

EVOLVE 2025 ITS Soroti Transisi Energi Terbarukan

Post Selanjutnya

Global Summer Week 2025 Hadirkan 11 Negara di UGM

Agus DJ

Agus DJ

Berita Terkait

Tahap awal seleksi masuk perguruan tinggi negeri resmi dimulai. Mulai 3 Februari hingga 28 Februari 2026

JANGAN SAMPAI GAGAL! Panduan Lengkap Registrasi Akun Siswa SNBP 2026: Hindari 5 Kesalahan Fatal Ini

oleh Hasrul Ekoin
4 Februari 2026
0

Tahap awal seleksi masuk perguruan tinggi negeri resmi dimulai. Mulai 3 Februari hingga 28 Februari 2026, seluruh siswa kelas XII...

Makan Durian Bersamaan Minuman Soda Berbahaya. Ini Penjelasan Ilmiahnya (Foto: DetikFood)

Makan Durian Bersamaan Minuman Soda Berbahaya? Ini Penjelasan Ilmiahnya

oleh Akmal Solihannoer
1 Februari 2026
0

Ekoin.co - Buah durian dikenal luas sebagai buah tropis dengan rasa khas dan kandungan gizi yang tinggi. Di sisi lain,...

Ilustrasi Air Putih (Ist)

Manfaat Konsumsi Air Putih Sebagai Minuman Utama Pendukung Detoksifikasi Tubuh

oleh Akmal Solihannoer
29 Januari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co — Air putih tetap menjadi cairan paling penting dalam mendukung proses detoksifikasi alami tubuh manusia. Cairan ini berperan...

Ada 9 biji buah yang bermanfaat untuk kesehatan

Ini 9 Biji Buah yang Sering Dibuang Ternyata Banyak Manfaat untuk Kesehatan

oleh Akmal Solihannoer
29 Januari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Banyak bagian buah yang kerap dianggap limbah, salah satunya biji. Padahal, sejumlah biji buah mengandung nutrisi penting...

Post Selanjutnya
Global Summer Week 2025 Hadirkan 11 Negara di UGM

Global Summer Week 2025 Hadirkan 11 Negara di UGM

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.