Jakarta, EKOIN.CO – Fenomena cuaca tak biasa melanda Indonesia sejak Mei 2024. Meski kalender menunjukkan musim kemarau, curah hujan justru meningkat tajam. Beberapa daerah bahkan dilanda banjir saat seharusnya lahan kering untuk ditanami.
Peristiwa ini disebut sebagai kemarau basah, situasi di mana secara meteorologis memasuki musim kemarau, namun masih terjadi curah hujan tinggi. Fenomena ini berdampak besar pada sektor pertanian yang tengah bangkit pasca mengalami surplus beras nasional.
Dampak Besar ke Lahan Petani
Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., pakar agrometeorologi dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menyatakan bahwa kondisi ini berisiko memicu krisis baru di sektor pangan. Ia menjelaskan, musim hujan yang berkepanjangan menyebabkan gangguan tanam.
“Merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa kemarau basah diprediksi akan terjadi selama 3 bulan ke depan, yaitu sampai Oktober 2024,” ujarnya di UGM, Senin (14/7).
Ia menambahkan bahwa banyak petani salah menghitung musim tanam. Bulan Mei dan Juni yang biasanya kering justru dipenuhi hujan, menyebabkan genangan dan gagal tanam. Beberapa tanaman tidak bisa dipanen akibat puso.
Ketidaksesuaian cuaca menyebabkan petani kesulitan menanam komoditas utama seperti cabai dan bawang merah. Bahkan, perhitungan yang meleset membuat sebagian lahan terendam sebelum sempat ditanami.
Kondisi di Wilayah Timur Menguntungkan
Namun, Apri menyebut tidak semua dampak bersifat negatif. Wilayah seperti Papua dan Indonesia bagian timur justru diuntungkan. Di daerah tadah hujan, curah hujan tinggi memperbaiki ketersediaan air untuk bercocok tanam.
“Peningkatan intensitas curah hujan ini akan menguntungkan untuk wilayah-wilayah yang kering dan tadah hujan, sehingga ini akan membuat ketersediaan air di wilayah-wilayah tersebut cukup,” terang Apri.
Meski begitu, antisipasi tetap dibutuhkan. Apri mendorong adanya langkah strategis dari pemerintah dan lembaga terkait dalam menyikapi kemarau basah. Hal ini mencakup peringatan dini cuaca dan penyampaian informasi hingga level desa.
Ia juga menegaskan bahwa prediksi cuaca harus lebih rinci dan tepat sasaran agar petani tidak salah dalam menentukan waktu tanam. Edukasi kepada masyarakat, terutama petani, menjadi penting dalam menyikapi fenomena ini.
Antisipasi La Niña dan Solusi Jangka Panjang
Apri menyebut La Niña sebagai salah satu penyebab kemarau basah dan menyarankan edukasi tentang dampaknya harus digalakkan. Informasi ini dapat diteruskan melalui penyuluh pertanian di setiap daerah.
Menurutnya, edukasi tersebut akan sangat bermanfaat dalam perencanaan sektor pertanian, energi, dan air. Bahkan, dapat membantu menghindari kerugian yang lebih besar akibat anomali cuaca yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun.
“Prediksi awal terjadinya La Niña ini bermanfaat dalam membantu perencanaan dan pengelolaan berbagai sektor seperti sumber daya air, energi, transportasi, pertanian, kehutanan, perikanan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengusulkan adanya asuransi pertanian bagi petani yang mengalami gagal panen. Asuransi ini dapat menjadi solusi jangka panjang jika pemerintah menindaklanjuti dengan dukungan kebijakan dan dana.
Terakhir, kesiapan infrastruktur pendukung sangat krusial. “Yang tak kalah penting bisa memastikan kesiapan sarana dan prasarana untuk menghadapi La Niña, seperti ketersediaan pompa, jaringan irigasi, hingga penggunaan benih tahan genangan,” imbuh Apri.
Fenomena kemarau basah pada 2024 mengubah ritme pertanian nasional. Musim tanam menjadi tidak menentu, sehingga petani kesulitan menyesuaikan jadwalnya. Gagal tanam meluas akibat curah hujan yang tidak sesuai prediksi semula.
Namun, kondisi ini menjadi peluang bagi wilayah kering seperti Papua dan Indonesia Timur. Hujan yang terus turun justru menyuburkan ladang dan meningkatkan produktivitas di area yang biasanya kesulitan air saat musim kemarau.
Pakar menyarankan agar sistem peringatan cuaca dan edukasi ditingkatkan. Pemerintah diminta menyiapkan antisipasi, termasuk asuransi pertanian dan benih tahan genangan. Semua itu dilakukan agar sektor pertanian tetap bertahan dan kuat dalam menghadapi perubahan iklim.(*)





