EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda RAGAM EDUKASI
Masa Depan PR di Tengah Laju AI

Sumber dok itb.ac.id

Masa Depan PR di Tengah Laju AI

AI bisa membantu mempercepat pekerjaan praktisi PR, tetapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya peran manusia yang melibatkan empati, penilaian strategis, dan komunikasi berbasis etika serta kepercayaan publik.

Agus DJ oleh Agus DJ
22 Juli 2025
Kategori EDUKASI, EKOBIS, EKONOMI, TIPS
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Apa yang terjadi saat kecerdasan buatan menyentuh dunia kehumasan menjadi tema utama dalam webinar bertajuk Public Relations in the Era of Artificial Intelligence pada Sabtu (19/7/2025). Kegiatan ini disiarkan langsung melalui akun Instagram @2n_prnavigation.

Webinar menghadirkan Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR., Direktur Komunikasi dan Humas ITB sekaligus Wakil Ketua Umum Perhumas, sebagai narasumber. Ia mengajak peserta memahami masa depan profesi PR dalam lanskap teknologi yang terus bergerak.

Dalam paparannya, Bu Lala—sapaan akrabnya—membuka diskusi dengan pengalaman risetnya sejak 2018 setelah pertemuan di Oslo. Sejak saat itu, ia menelusuri tren masa depan profesi PR akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

“Dulu kita mengumpulkan kliping dari koran, sekarang kita melakukan social listening,” ujarnya. Ungkapan itu menjadi penanda kuat betapa profesi PR telah bergeser dari aktivitas manual menuju pengelolaan data dan percakapan publik berbasis daring.

Transformasi ini berlangsung bertahap dari PR 1.0 menuju 4.0 yang kini sangat mengandalkan personalisasi, kecepatan, dan skalabilitas tinggi untuk menyentuh berbagai segmen audiens dengan lebih presisi.

Berita Menarik Pilihan

Survei BI: Penjualan Rumah Kecil Menengah Tumbuh Positit, Tipe Besar Alami Kontraksi

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

AI Bantu, Tapi Tak Gantikan Semua

Pertanyaan besar pun muncul: akankah AI menggantikan PR? Menjawab hal tersebut, ia mengutip riset Chartered Institute of Public Relations (CIPR) tahun 2024 yang menyebutkan hanya 30% peran PR yang bisa digantikan AI.

Sebanyak 70% lainnya, seperti pengambilan keputusan strategis, kreativitas kampanye, hingga penilaian etis dan komunikasi krisis, tetap menjadi domain manusia. Ini menegaskan perlunya mempertahankan aspek kemanusiaan dalam komunikasi publik.

Riset Deloitte tahun 2025 juga menyatakan bahwa 67% industri memandang AI sebagai alat produktivitas, bukan ancaman pekerjaan. Ini berarti, teknologi dilihat lebih sebagai partner kerja daripada pengganti total.

“Yang terancam hanya pekerjaan clerical dasar,” jelas Bu Lala. Namun, ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas melalui pelatihan, akreditasi, dan sertifikasi profesi dari lembaga seperti Perhumas.

Praktik penggunaan AI di lapangan pun semakin luas, mulai dari automated task manager, social monitoring tools, hingga analitik konten melalui Google Analytics. Namun, semua alat tersebut hanya membantu, bukan menggantikan peran strategis manusia.

Belajar dari Kasus Nyata

Ia mencontohkan penggunaan AI dalam kasus viral meme mahasiswa FSRD ITB. Tim komunikasi memantau percakapan publik secara real-time dan menyusun strategi respons yang hati-hati tanpa panik karena tekanan internal.

“Penting memetakan percakapan dahulu, baru menentukan langkah. Jangan reaktif,” ungkapnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI hanya alat bantu, sedangkan arah komunikasi tetap ditentukan manusia yang paham konteks.

Bu Lala juga mengingatkan bahwa walau AI bisa menyusun konten dan guideline, sentuhan manusia tetap penting dalam interpretasi visual dan komunikasi langsung. Empati tidak dapat diotomatisasi.

Ia menegaskan bahwa dalam etika PR, kepercayaan publik adalah fondasi. AI bisa mempercepat proses, namun tak boleh mengorbankan nilai kejujuran, transparansi, dan kepedulian terhadap publik.

“AI bisa meniru kata, tapi tidak bisa meniru rasa,” ujarnya. Ini menjadi penegasan bahwa PR tak sekadar menyampaikan pesan, tetapi menyampaikan dengan rasa, empati, dan strategi yang tajam.

Kolaborasi Manusia dan Mesin

Dalam kondisi tertentu seperti krisis atau kebutuhan cepat, penggunaan AI dinilai wajar. Namun jika ingin membangun kepercayaan jangka panjang, pendekatan manusia tetaplah esensial.

Menurutnya, penting bagi PR masa kini untuk adaptif, tidak hanya menguasai tools digital, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial dan etika komunikasi yang tepat dalam berbagai situasi.

Penutup diskusi menyiratkan semangat positif terhadap kolaborasi antara manusia dan teknologi. Bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi untuk menciptakan komunikasi yang lebih bijak dan berdampak.

Perkembangan teknologi, khususnya AI, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi profesi PR. Dalam praktiknya, AI mempercepat proses dan mendukung analisis, namun belum mampu menggantikan intuisi, empati, dan penilaian etis yang dimiliki manusia.

Peran praktisi PR kini tidak cukup hanya komunikatif, tetapi juga harus strategis, analitis, dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Kolaborasi dengan AI menjadi jalan tengah agar komunikasi tetap relevan dan berdampak.

Webinar ini menegaskan bahwa masa depan PR bukan milik teknologi semata, melainkan milik mereka yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan kearifan manusia dalam menyampaikan pesan secara jujur, bermakna, dan bertanggung jawab.(*)

Tags: AIDeloitte 2025etika digitalhuman touchkecerdasan buatankomunikasi strategis.Nurlaela AriefPerhumasPR 4.0profesi masa depanpublic relationsriset CIPRsocial listeningteknologi komunikasiwebinar PR
Post Sebelumnya

Panglima TNI Dampingi Presiden RI Luncurkan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih

Post Selanjutnya

Konvensi Iptek Nasional Targetkan Peta Industri 2035

Agus DJ

Agus DJ

Berita Terkait

Survei BI: Penjualan Rumah Kecil Menengah Tumbuh Positit, Tipe Besar Alami Kontraksi

Survei BI: Penjualan Rumah Kecil Menengah Tumbuh Positit, Tipe Besar Alami Kontraksi

oleh Ainurrahman
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Triwulan IV 2025 memberikan angin segar bagi bismis properti. Berdasar Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank...

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham BLUE dan ENZO di Seluruh Pasar

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

oleh Akmal Solihannoer
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak positif dengan fokus investor tertuju pada saham sektor...

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, Apa Penyebabnya

oleh Ainurrahman
7 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Post Selanjutnya
Konvensi Iptek Nasional Targetkan Peta Industri 2035

Konvensi Iptek Nasional Targetkan Peta Industri 2035

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.