Fenomena unik mencuat menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, yakni pemasangan bendera bajak laut ala anime One Piece di belakang truk-truk logistik. Pemandangan ini marak terlihat di berbagai ruas jalanan, khususnya di wilayah Bekasi.
Aspirasi dari Jalanan
Pemasangan bendera dengan simbol Jolly Roger bukan sekadar ekspresi budaya pop. Sopir truk Rahmat (30) dan Dadang (28) di Kranji, Bekasi Barat, mengungkap bahwa aksi ini sarat makna. “Ekonominya sih kelihatannya lagi pasang-surut, malah cenderung ke surut,” kata Rahmat saat ditemui Kompas.com, Rabu (5/8/2025).
Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik dirasakan langsung oleh para pekerja harian seperti Rahmat. Ia menyebut pendapatannya sebagai sopir truk tidak lagi mencukupi, bahkan untuk belanja bulanan.
Rahmat juga menyoroti meningkatnya angka pengangguran sebagai beban tambahan. Kondisi ini diperparah dengan stagnasi upah harian yang tidak kunjung naik.
“Ini bentuk unek-unek,” lanjut Rahmat. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat merendahkan simbol negara dengan pemasangan bendera bajak laut tersebut.
Di tempatnya bekerja, lima dari enam truk telah memasang bendera One Piece. Para sopir sepakat menyuarakan keresahan ekonomi melalui simbol yang mudah dikenali banyak orang.
Perhatian dari Ahli Kebijakan
Peneliti kebijakan publik Riko Noviantoro menanggapi fenomena ini dari sisi hukum. Ia menyebutkan, ekspresi publik sah sejauh tidak melanggar aturan penggunaan simbol negara. “Jika ditemukan pelanggaran terhadap pelecehan pada bendera Merah Putih, maka berpotensi dikenakan sanksi,” ujar Riko, Kamis (31/7/2025), dikutip dari Warta Kota.
Riko merujuk pada UU Nomor 24 Tahun 2009 yang mengatur perlakuan terhadap bendera negara. Dalam aturan tersebut, posisi bendera Merah Putih tidak boleh lebih rendah dari bendera lain.
Selain itu, ukuran bendera negara harus lebih besar bila dikibarkan bersama simbol lain, termasuk bendera fiksi. Tujuannya menjaga kehormatan lambang negara.
Dadang, rekan Rahmat, menyampaikan bahwa bendera tersebut akan dicopot pada 17 Agustus 2025. Mereka tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman saat peringatan kemerdekaan.
“Penginnya sih didengar saja dan dikasih solusi,” ujar Dadang singkat. Ia berharap keluhan mereka mendapat tanggapan nyata dari pemerintah.
Pemasangan simbol One Piece di truk menjadi bentuk komunikasi jalanan. Para sopir mencoba menjangkau perhatian publik lewat simbol yang mengena.
Meski simbol yang digunakan berasal dari fiksi Jepang, para sopir tetap menjunjung tinggi kecintaan terhadap Indonesia. “Yang utama tetap NKRI,” tegas Rahmat.
Fenomena ini menjadi cerminan keresahan ekonomi yang tak terkatakan dalam wacana resmi. Jalanan menjadi panggung aspirasi alternatif.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi telah mendorong kelompok masyarakat menyuarakan keluhannya lewat media visual.





