KOTA GAZA, EKOIN.CO – Kelompok Pejuang Palestina, Hamas, menyatakan kesiapannya untuk membebaskan semua tawanan Israel sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif demi mengakhiri perang di Gaza. Pernyataan itu dirilis melalui saluran Telegram resmi pada Jumat (8/8), menegaskan bahwa kesepakatan hanya mungkin terjadi jika ada penghentian perang dan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Ikuti berita terkini di WA Channel EKOIN
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan tidak akan ada penyerahan diri meskipun Israel melancarkan serangan besar. “Kami memperingatkan pendudukan bahwa menduduki Kota Gaza adalah petualangan berisiko tinggi yang akan memakan biaya besar dan tidak akan mudah,” tulis mereka.
Hamas juga menegaskan bahwa “Rencana dan ilusi Netanyahu akan gagal,” sembari mengkritik upaya militer Israel yang dinilai mengabaikan nyawa warga sipil. Mediator Mesir dan Qatar disebut telah menerima sinyal fleksibilitas dari pihak Hamas untuk mencapai gencatan senjata di Gaza.
Ketegangan Meningkat di Tengah Ancaman Pendudukan Gaza
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan dari Kota Gaza bahwa rasa takut dan frustrasi mendominasi percakapan warga. Rencana Israel untuk menduduki kembali Jalur Gaza sepenuhnya telah memicu kepanikan dan rasa pengkhianatan.
“Orang-orang bertanya, ‘Apa yang tersisa dari Gaza jika tank-tank kembali ke setiap jalan di Jalur Gaza?’” ungkap Mahmoud. Menurutnya, banyak warga merasa dunia internasional diam dan membiarkan penderitaan mereka berlanjut.
Kondisi pengungsian massal, kelaparan, dan minimnya perlindungan menjadi gambaran keseharian di wilayah ini. Hampir 22 bulan, warga Gaza hidup dalam situasi darurat tanpa adanya jaminan keamanan.
Meski penuh ketidakpastian, sebagian warga mulai mengemas barang-barang mereka. Langkah ini bukan karena ada tujuan jelas, tetapi untuk bersiap jika sewaktu-waktu harus meninggalkan tempat penampungan.
Analisis dan Dampak Politik Regional
Sejumlah analis menilai langkah Netanyahu bukan sekadar strategi militer, melainkan bagian dari tujuan memusnahkan populasi Palestina di Gaza. Narasi ini diperkuat dengan meningkatnya operasi militer Israel yang menyebabkan korban sipil besar-besaran.
Ketegangan di Gaza juga berimbas pada situasi di Timur Tengah. Hubungan antara Israel dan Iran memanas setelah eksekusi delapan warga Iran yang dituduh menjadi mata-mata Israel.
Israel sebelumnya mengeksekusi serangan mematikan terhadap ilmuwan nuklir dan pemimpin militer Iran. Serangan ini dipicu oleh tuduhan bahwa Iran tengah mempersiapkan senjata nuklir, meskipun Teheran membantahnya.
Pada bulan Juni, perang singkat antara Israel dan Iran berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional. Namun, Israel menyatakan aksi militernya adalah langkah pencegahan terhadap ancaman eksistensial.
Iran membalas dengan serangan rudal balistik yang menghantam beberapa kota Israel, menandai eskalasi konflik yang berpotensi meluas hingga ke Gaza.
Meskipun demikian, pihak Hamas menegaskan bahwa perjuangan di Gaza tidak akan berhenti sampai wilayah itu bebas dari pendudukan. Mereka menilai dukungan internasional masih lemah dan cenderung berpihak.
Banyak pihak menilai gencatan senjata di Gaza hanya bisa terwujud jika ada tekanan kuat dari dunia internasional terhadap Israel untuk menghentikan operasi militernya.
Krisis kemanusiaan di Gaza pun menjadi fokus berbagai organisasi bantuan. Distribusi makanan dan obat-obatan terus terkendala akibat blokade.
Sementara itu, peran mediator seperti Mesir dan Qatar dianggap krusial, namun keberhasilannya masih bergantung pada kesediaan Israel untuk menarik pasukan.
Pihak Hamas juga mengisyaratkan bahwa pembebasan tawanan bisa menjadi pintu masuk bagi tercapainya kesepakatan damai di Gaza.
Namun, selama pendudukan masih berlangsung, konflik diyakini akan tetap membara, dan warga sipil di Gaza akan terus menjadi korban utama.
Dunia internasional diminta mengambil langkah nyata, bukan hanya pernyataan, demi menyelamatkan masa depan Gaza dari kehancuran total.
Kebisuan global terhadap penderitaan Gaza disebut telah menciptakan normalisasi kekerasan yang berbahaya.
Berakhirnya perang di Gaza akan sangat menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.
Masyarakat berharap kesepakatan gencatan senjata bisa segera diwujudkan sebelum korban jiwa terus bertambah.
Dukungan internasional terhadap penghentian perang di Gaza harus diperkuat melalui tekanan diplomatik yang konsisten. Bantuan kemanusiaan juga perlu dipercepat untuk mencegah kelaparan massal. Organisasi dunia harus menekan kedua belah pihak agar mematuhi kesepakatan damai. Media global perlu memberi sorotan intensif pada penderitaan warga sipil. Dialog lintas pihak harus melibatkan suara korban perang di Gaza.
Krisis di Gaza merupakan ujian kemanusiaan dunia. Pendudukan yang terus berlanjut hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat. Solusi damai menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri lingkaran kekerasan. Tekanan politik dan diplomasi global sangat dibutuhkan saat ini. Masa depan Gaza bergantung pada keseriusan semua pihak untuk bertindak nyata. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





