EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA INTERNASIONAL
Krisis Ekonomi Kuba Kian Memburuk Dari Negara Kaya ke Miskin

Krisis Ekonomi Kuba Kian Memburuk Dari Negara Kaya ke Miskin

Kuba pernah menjadi negara terkaya di dunia, kini terjebak dalam krisis ekonomi berkepanjangan. Pemadaman listrik 20 jam dan kelangkaan pangan jadi rutinitas warga Kuba.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
13 Agustus 2025
Kategori INTERNASIONAL, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

.HAVANA, EKOIN.CO – Krisis ekonomi yang melanda Kuba telah mengubah wajah negara itu menjadi potret penderitaan. Pemadaman listrik selama 20 jam sehari dan kelangkaan pangan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warganya. Padahal, pada masa lalu, Kuba dikenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia.
(Baca Juga : Kuba dan Krisis Pangan)

Pada tahun 1950, Kuba berada di peringkat ke-29 ekonomi terbesar di dunia. Pendapatan per kapita warganya bahkan melampaui Irlandia dan Austria, serta dua kali lipat lebih kaya dibandingkan Spanyol dan Jepang. Kini, kemakmuran itu tinggal kenangan pahit.

Kuba Pernah Jadi Negara Kaya

Sektor gula pernah menjadi tulang punggung ekonomi Kuba, mendorong pertumbuhan pesat dan membawa kesejahteraan luas bagi masyarakat. Pada masa itu, hubungan politik dan ekonomi dengan Amerika Serikat sangat harmonis, membuat Kuba menjadi destinasi wisata favorit warga Amerika.
(Baca Juga : Industri Gula Kuba)

Mobil-mobil klasik buatan 1950-an masih beroperasi di jalanan Havana. Namun, kehadirannya bukan karena tren retro, melainkan akibat tidak adanya akses terhadap mobil baru. Situasi ini mencerminkan keterpurukan ekonomi Kuba yang sulit keluar dari bayang-bayang masa lalu.

Awal Mula Ketergantungan

Ketergantungan Kuba pada Amerika Serikat dimulai dari ekspor gula yang menguntungkan. Negeri itu mengandalkan pembelian besar-besaran dari AS, yang kala itu menyerap mayoritas produksi gula Kuba.
(Baca Juga : Ketergantungan Ekonomi Kuba)

Berita Menarik Pilihan

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

Namun, perubahan dramatis terjadi setelah Revolusi Kuba 1959. Hubungan diplomatik dengan Washington memburuk, memicu sanksi ekonomi yang membatasi perdagangan. Embargo ini membuat Kuba kehilangan pasar utamanya dan terjebak dalam krisis berkelanjutan.

Situasi memburuk saat Uni Soviet—sekutu utama Kuba—runtuh pada awal 1990-an. Bantuan finansial dan dukungan perdagangan yang sebelumnya menopang perekonomian tiba-tiba hilang. Warga terpaksa hidup dengan kekurangan bahan pokok, termasuk pangan dan energi.

Pemerintah mencoba bertahan dengan mempromosikan pariwisata sebagai sumber devisa baru. Namun, embargo Amerika membuat akses wisatawan terbatas. Infrastruktur yang menua dan kurangnya investasi asing membuat potensi Kuba tak berkembang optimal.
(Baca Juga : Pariwisata Kuba)

Di sektor energi, ketergantungan pada minyak impor menjadi masalah serius. Krisis pasokan bahan bakar membuat pemadaman listrik semakin sering, memaksa warga beraktivitas hanya pada beberapa jam siang atau malam.

Para analis menyebut, reformasi ekonomi yang lambat dan kebijakan internal yang kaku ikut memperparah krisis Kuba. Perdagangan internasional pun sulit berkembang akibat hambatan birokrasi dan sanksi global.

Meski begitu, sejumlah pihak di Kuba masih berharap akan perubahan. “Kami ingin negara ini kembali makmur, tapi itu membutuhkan kerja sama dunia,” ujar seorang warga Havana yang enggan disebutkan namanya.
(Baca Juga : Masa Depan Kuba)

Generasi muda Kuba kini menghadapi pilihan sulit: bertahan dalam keterbatasan atau meninggalkan tanah kelahiran demi mencari peluang di luar negeri. Fenomena migrasi ini semakin menggerus tenaga kerja terampil di dalam negeri.

Sejumlah ekonom menilai, potensi Kuba untuk bangkit masih ada jika mampu membuka diri terhadap investasi asing dan memperluas pasar ekspor. Namun, langkah tersebut sulit dilakukan tanpa pencabutan embargo AS.

Saat ini, kondisi jalanan Havana menjadi saksi bisu ketidakmampuan pemerintah mengatasi kemerosotan. Warga tetap menjalani hari-hari dalam keterbatasan, dengan harapan tipis akan perubahan.

Pemadaman listrik yang mencapai 20 jam per hari telah mengganggu hampir semua aspek kehidupan, dari kegiatan rumah tangga hingga sektor industri. Kelangkaan pangan memperburuk keadaan, memicu antrean panjang di toko dan pasar.
(Baca Juga : Krisis Listrik Kuba)

Berbagai upaya diplomasi untuk mencairkan hubungan dengan Amerika pernah dilakukan, namun hasilnya minim. Perubahan kebijakan AS terhadap Kuba seringkali bersifat sementara dan bergantung pada pemerintahan yang berkuasa di Washington.

Kondisi ini membuat warga Kuba semakin frustrasi. Banyak di antara mereka menilai, tanpa terobosan politik besar, negara akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan krisis berkepanjangan.


Masa kejayaan Kuba yang pernah menjadi salah satu negara terkaya dunia kini tinggal sejarah. Kemunduran ekonomi, sanksi internasional, dan krisis energi menjadi kombinasi yang membuat negara itu sulit bangkit.

Untuk keluar dari krisis, Kuba memerlukan strategi reformasi ekonomi yang cepat, pembukaan akses investasi, serta diplomasi aktif untuk mengakhiri embargo yang telah berlangsung puluhan tahun. (*)


Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

 

Tags: embargo Amerikakrisis ekonomi KubaKubapariwisata Kubapemadaman listrik Kubasejarah Kuba
Post Sebelumnya

Amerika Luncurkan Jet AI Khusus Anti-Drone

Post Selanjutnya

Industri Tekstil Indonesia Tertekan Persaingan Global Semakin Tertinggal

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Ilustrasi proses hukum di Polda Jambi. Dua oknum polisi, Bripda Nabil dan Bripda Samson, tengah menjalani sidang kode etik atas dugaan pemerkosaan terhadap remaja perempuan. Pihak korban mendesak hukuman maksimal atas hancurnya masa depan dan cita-cita korban. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Kasus Dugaan Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi: Korban Trauma, Proses Hukum Berjalan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Korban mengalami tekanan mental cukup berat. Fokus utama keluarga sekarang adalah pemulihan psikologisnya,” ujar Romiyanto, Jumat (6/2).

Post Selanjutnya
Industri Tekstil Indonesia Tertekan Persaingan Global Semakin Tertinggal

Industri Tekstil Indonesia Tertekan Persaingan Global Semakin Tertinggal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.