RIYADH, EKOIN.CO – Sejumlah negara Arab mengecam keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait Israel Raya yang dinilai mengancam kedaulatan dan stabilitas kawasan. Arab Saudi, Qatar, Yordania, Mesir, serta Liga Arab menyebut ambisi Netanyahu sebagai provokasi yang berbahaya.
Gabung WA Channel EKOIN
Negara Arab Tegas Tolak Israel Raya
Kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) melaporkan, Arab Saudi mengutuk pernyataan Netanyahu yang ingin memperluas wilayah dengan konsep Israel Raya. “Kerajaan menolak ide-ide dan proyek pemukiman serta ekspansionis yang diadopsi otoritas pendudukan,” tegas Kementerian Luar Negeri Saudi.
Saudi menegaskan dukungan penuh terhadap hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka dengan landasan historis dan hukum yang sah. Mereka memperingatkan dunia internasional bahwa langkah Israel ini melemahkan legitimasi internasional, melanggar kedaulatan negara, serta mengancam keamanan dan perdamaian regional maupun global.
Qatar pun melontarkan kecaman serupa. Mereka menilai visi Netanyahu sebagai perpanjangan pendekatan penjajah yang sarat arogansi, memicu krisis, dan merusak hukum internasional. “Ini pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara, Piagam PBB, dan resolusi internasional,” ujar pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar.
Kecaman Internasional dan Latar Belakang Israel Raya
Qatar menekankan bahwa klaim dan pernyataan Israel tidak akan mengurangi hak sah negara dan masyarakat Arab. Mereka mendesak komunitas internasional bersatu menghadapi provokasi ini agar kawasan tidak semakin terjerumus dalam kekacauan.
Sebelumnya, Netanyahu secara terbuka mengungkapkan impiannya membentuk Israel Raya dalam wawancara dengan i24. Ia menyebut langkah itu sebagai “misi bersejarah dan spiritual” yang sangat ia yakini, mencakup wilayah Palestina masa depan, serta bagian dari Yordania dan Mesir.
Istilah Israel Raya pertama kali populer setelah Perang Enam Hari pada Juni 1967, merujuk pada wilayah Israel beserta daerah yang ditaklukkan seperti Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Konsep ini juga diusung oleh tokoh Zionis awal seperti Ze’ev Jabotinsky, pendiri ideologi partai Likud yang kini dipimpin Netanyahu.
Dalam wawancara, pewawancara Sharon Gal menanyakan apakah Netanyahu merasa terikat dengan visi tersebut. Netanyahu menjawab singkat namun tegas, “Sangat!” — menegaskan komitmennya pada rencana yang memicu kegelisahan di dunia Arab.
Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Mesir kompak menilai visi ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan negara mereka. Liga Arab juga memperingatkan bahwa langkah Israel berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, memperburuk ketegangan yang sudah memanas di Timur Tengah.
Pernyataan Netanyahu dianggap memperjelas arah kebijakan Israel yang mengabaikan solusi dua negara dan kesepakatan damai internasional. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa langkah-langkah agresif Israel akan mendorong siklus kekerasan baru di kawasan.
Pengamat politik Timur Tengah menilai, dukungan internal terhadap Netanyahu dari kelompok garis keras membuat wacana Israel Raya semakin menguat. Meski mendapat kritik tajam, Netanyahu tampak tidak goyah dan justru menganggapnya sebagai mandat politik dan spiritual.
Negara-negara Arab menilai pernyataan ini tidak sekadar retorika, tetapi sinyal serius tentang kebijakan ekspansionis Israel. Mereka menyerukan tindakan nyata komunitas internasional untuk mencegah perubahan peta geopolitik secara sepihak.
Jika langkah ini terus berlanjut, risiko konflik besar di Timur Tengah akan semakin tinggi. Para diplomat regional menekankan perlunya diplomasi aktif untuk menahan eskalasi dan mengembalikan fokus pada solusi damai yang adil bagi semua pihak.
Negara-negara Arab bersatu mengecam visi Israel Raya yang diusung Benjamin Netanyahu karena dinilai mengancam kedaulatan, perdamaian, dan stabilitas kawasan.
Kecaman datang tidak hanya dari negara-negara tetangga Israel, tetapi juga dari Liga Arab yang melihat potensi konflik besar di masa depan.
Pernyataan Netanyahu memperlihatkan tekad politik yang sejalan dengan ideologi Zionis awal, menjauhkan upaya menuju solusi dua negara.
Solidaritas dunia Arab menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini di tengah situasi Timur Tengah yang sudah rapuh.
Jika tidak direspons tegas, visi ini berpotensi mengubah wajah geopolitik kawasan secara permanen. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





