BEKASI, EKOIN.CO – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengungkap posisi terkini Muhammad Riza Chalid, bos minyak yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina. Kerugian negara akibat kasus ini diperkirakan mencapai Rp285 triliun.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN
Agus menyampaikan hal tersebut saat kunjungan kerja ke Lapas Kelas IIA Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/8/2025). Ia menyebut lokasi Riza Chalid berada di Kuala Lumpur, Malaysia, dan saat ini tengah dilakukan koordinasi dengan otoritas setempat.
“Dari hasil analisis kami kalau tidak salah yang bersangkutan ada di Kuala Lumpur. Ini yang kami sedang koordinasi. Namun otoritas ada di sana, kami tunggu. Tapi komunikasi (dengan pemerintah Malaysia) tetap kami jaga,” ujar Agus.
Koordinasi Pencarian Tersangka Korupsi
Keberadaan Riza Chalid kembali menjadi sorotan setelah Kejaksaan Agung RI berencana menetapkannya ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Agus menegaskan bahwa seluruh informasi mengenai keberadaan Riza telah disampaikan kepada aparat penegak hukum dan pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto.
Riza Chalid ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di lingkungan PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018–2023.
Menurut Kejaksaan, Riza adalah pemilik manfaat (beneficial owner) PT Orbit Terminal Merak. Saat status tersangka diumumkan, ia diketahui tidak berada di wilayah Indonesia. Hal ini membuat proses pencarian harus dilakukan lintas negara.
Agus menambahkan, kerja sama dengan otoritas Malaysia diharapkan dapat mempercepat proses penangkapan, mengingat besarnya kerugian negara yang timbul. “Kami terus jaga komunikasi agar tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Kerugian Negara dan Prioritas Penegakan Hukum
Kasus korupsi ini menjadi salah satu prioritas penegakan hukum di sektor energi. Nilai kerugian negara yang mencapai ratusan triliun rupiah menjadikannya salah satu kasus terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kejaksaan Agung menegaskan bahwa pemburuan Riza Chalid dilakukan secara serius, termasuk dengan melibatkan kerja sama internasional. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menindak tegas pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara.
Selain memburu Riza, penyidik juga tengah memeriksa sejumlah pihak terkait untuk memperkuat bukti. Pengungkapan jaringan dan aliran dana hasil dugaan korupsi menjadi fokus agar seluruh pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.
Agus menilai, koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk hubungan diplomatik dengan Malaysia, sangat penting dalam upaya membawa Riza Chalid kembali ke tanah air. “Presiden sudah mengetahui perkembangan ini dan mendukung penuh langkah-langkah yang kami ambil,” kata Agus.
Pemerintah berharap, keberhasilan penangkapan Riza Chalid dapat memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan serupa dan memperkuat kepercayaan publik terhadap upaya pemberantasan korupsi.
Kasus korupsi minyak mentah yang menjerat Muhammad Riza Chalid menjadi perhatian besar karena nilai kerugian negara yang fantastis. Posisi Riza yang terdeteksi di Kuala Lumpur memicu koordinasi intensif antara Indonesia dan Malaysia.
Pemerintah menegaskan bahwa semua pihak, termasuk Presiden, telah mengetahui perkembangan kasus ini dan mendukung langkah tegas aparat penegak hukum.
Upaya pencarian Riza bukan hanya demi mengungkap kasus ini, tetapi juga sebagai sinyal kuat bahwa pelaku korupsi lintas negara tidak akan lolos.
Kasus ini diharapkan menjadi pembelajaran bagi dunia usaha dan sektor energi untuk menghindari praktik curang yang merugikan negara.
Kerja sama internasional akan menjadi kunci dalam keberhasilan penegakan hukum di kasus ini, sehingga Indonesia dapat segera menuntaskan proses hukum terhadap Riza Chalid. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





