Jakarta, Ekoin.co – Tahun 2026 akan diwarnai oleh dua fenomena astronomi berupa gerhana matahari yang terjadi pada Februari dan Agustus. Kedua peristiwa tersebut dikonfirmasi oleh lembaga pemantau antariksa Internasional dan hanya dapat disaksikan secara penuh dari wilayah tertentu di Bumi.
Gerhana matahari pertama terjadi pada 17 Februari 2026 dan diklasifikasikan sebagai Gerhana Matahari Cincin. Fenomena ini hanya dapat diamati secara sempurna dari wilayah terpencil di Antartika serta kawasan selatan Samudra Hindia.
Sementara itu, wilayah lain seperti ujung selatan Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta sebagian besar Samudra Pasifik dan Atlantik hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian.
Gerhana matahari kedua dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026 dan merupakan Gerhana Matahari Total. Jalur totalitas gerhana ini akan melintasi wilayah Arktik, Greenland, Islandia, dan Spanyol. Sehingga kawasan tersebut berpeluang menyaksikan Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan dalam waktu singkat.
Mengutip laporan Space, Selasa (3/2/2026), gerhana matahari total dan gerhana matahari cincin api sama-sama termasuk dalam kategori gerhana matahari sentral, yaitu ketika bayangan inti Bulan jatuh tepat di permukaan Bumi. Namun, keduanya menampilkan karakteristik visual yang berbeda bagi pengamat di Bumi.
“Gerhana matahari total menghadirkan pengalaman multisensorik karena langit menjadi gelap dan suhu udara dapat menurun, sementara gerhana matahari cincin api lebih menonjolkan aspek visual berupa lingkaran cahaya Matahari di sekeliling Bulan,” tulis Space dalam laporannya.
Secara ilmiah, gerhana matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau seluruhnya.
Meskipun Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27 hari, gerhana tidak terjadi setiap bulan karena bidang orbit Bulan miring sekitar lima derajat terhadap orbit Bumi mengelilingi Matahari.
Menurut laporan EarthSky, gerhana matahari hanya terjadi saat fase Bulan baru bertepatan dengan titik perpotongan orbit Bulan dan ekliptika Matahari, yang dikenal sebagai node. “Fenomena gerhana matahari biasanya terjadi dalam dua musim gerhana setiap tahun,” tulis EarthSky.
Pada Gerhana Matahari Total, ukuran tampak Bulan cukup besar untuk menutupi seluruh cakram Matahari. Fenomena ini hanya dapat disaksikan dari jalur totalitas, yaitu wilayah sempit selebar sekitar 100 mil yang dilalui bayangan umbra Bulan.
Meski proses gerhana berlangsung sekitar tiga jam, fase totalitas biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Pada fase tersebut, pengamat dapat melihat korona Matahari secara langsung.
Sementara itu, Gerhana Matahari Cincin terjadi ketika Bulan berada di titik apogee atau posisi terjauhnya dari Bumi. Dalam kondisi ini, ukuran tampak Bulan lebih kecil sehingga tidak mampu menutupi Matahari sepenuhnya. Akibatnya, cahaya Matahari masih terlihat membentuk lingkaran terang menyerupai cincin api di sekeliling Bulan.
EarthSky menjelaskan bahwa pada gerhana cincin api, bayangan umbra Bulan tidak mencapai permukaan Bumi dan berubah menjadi antumbra. Oleh karena itu, wilayah yang dilalui tidak mengalami kegelapan total. Pengamatan gerhana cincin api wajib menggunakan filter Matahari khusus untuk mencegah kerusakan mata.
Kedua gerhana matahari tersebut menjadi peristiwa penting bagi komunitas astronomi dunia dan pengamat langit, meskipun tidak seluruh wilayah Bumi dapat menyaksikannya secara langsung. (*)





