Ekoin.co – Perayaan Tahun Baru Imlek tak lengkap tanpa hadirnya tradisi yang sarat makna. Di balik kebersihan rumah sebelum pergantian tahun, hidangan simbolis yang melimpah, hingga persembahan kepada leluhur, ada satu momen yang selalu dinanti oleh anak-anak di keluarga Asia angpao — amplop merah berisi uang.
Dalam budaya Tionghoa, amplop merah yang dikenal sebagai hóngbāo dalam bahasa Mandarin atau lai see dalam bahasa Kanton bukan sekadar pemberian materi.
“Tindakan memberi dan menerima amplop merah melampaui sekadar transaksi keuangan,” kata penulis buku Lunar New Year Sarah Coleman, sebagaimana dikutip dari History, Selasa (17/2/2026).
Warna merah dipilih bukan tanpa alasan ia dipercaya membawa keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif.
Amplop itu biasanya dihias huruf emas atau simbol keberuntungan seperti naga, phoenix, dan hewan shio sesuai tahun berjalan.
Tak hanya itu, pilihan angka dalam uang angpao pun punya makna. Angka genap dipercaya membawa hoki, sedangkan angka empat dihindari karena pelafalannya mirip dengan kata “kematian” dalam bahasa Mandarin.
Sebaliknya, angka enam melambangkan kelancaran dan delapan merupakan simbol kemakmuran terbesar. Itulah sebabnya nominal seperti 68 atau 88 sering dipilih sebagai jumlah angpao.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang memberi US$100 atau sekitar Rp1.680.000 (kurs Rp16.800 per dolar AS), angka itu dipilih karena mudah dibagi genap.
Namun apapun jumlahnya, ada satu aturan tak tertulis yang hampir selalu dipatuhi: uang yang dimasukkan harus baru, rapi, dan tidak kusut atau kotor — sebagai simbol penghormatan kepada penerima.
Sejarah Panjang Tradisi Angpao
Jejak tradisi angpao bisa ditelusuri jauh ke Tiongkok kuno. Menurut artikel akademis oleh Ming Gao, konsep awalnya ditemukan pada masa Dinasti Han (206 SM–220 M), ketika masyarakat menggunakan benda menyerupai koin sebagai jimat pelindung.
Tradisi ini berkembang di era Dinasti Tang (618–907) saat koin disebar dalam perayaan musim semi.
Pada masa Dinasti Song dan Yuan (960–1368), pemberian uang kepada anak-anak pada momen tertentu mulai populer.
Tradisi itu makin kuat di zaman Dinasti Ming dan Qing (1368–1912) ketika uang diikat dengan benang merah sebelum dibagikan simbolisasi harapan panjang umur dan keselamatan.
Kini, tradisi angpao terus hidup, bahkan merambah versi digital di era modern.
Meski bentuknya berkembang, makna utamanya tetap sama berbagi keberuntungan, mempererat tali kekeluargaan, dan menyambut tahun baru dengan harapan yang baik.





