Jakarta, EKOIN.CO – Dominasi universitas di Pulau Jawa kini mulai ditantang oleh kampus-kampus regional yang menunjukkan taringnya dalam pemeringkatan internasional. Data dari List of 100 Best Universities in Indonesia versi EduRank 2025, yang dirilis melalui edurank.org, mencatat 20 universitas terbaik di luar Jawa berhasil masuk jajaran kampus unggulan nasional dan Asia. Ini menjadi sinyal kuat bahwa wajah pendidikan tinggi Indonesia sedang mengalami pergeseran signifikan.
Universitas Hasanuddin di Makassar menduduki posisi tertinggi sebagai kampus luar Jawa terbaik dengan peringkat ke-8 nasional dan 329 di Asia. Prestasi ini tidak berdiri sendiri. Universitas Udayana dari Bali serta Universitas Sumatera Utara di Medan menyusul di posisi berikutnya, masing-masing menunjukkan performa akademik dan riset yang layak diakui dunia.
Lebih dari sekadar daftar peringkat, capaian ini mencerminkan kerja panjang para akademisi, mahasiswa, dan alumni di berbagai wilayah yang selama ini berada di luar sorotan. Kini, mereka tidak hanya memperkuat kualitas di daerah, tapi juga mewarnai kancah riset global. Ini menjadi angin segar bagi sistem pendidikan Indonesia yang selama bertahun-tahun terpusat di Pulau Jawa.
EduRank tidak hanya menilai dari jumlah publikasi atau reputasi ilmiah, tetapi juga menimbang kontribusi alumni serta keterlibatan kampus dalam masyarakat. Artinya, universitas-universitas luar Jawa tidak sekadar fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada dampak sosial dan keterlibatan praktis di lapangan.
Tren ini membawa harapan besar. Calon mahasiswa dari Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi kini punya lebih banyak pilihan kampus berkualitas tanpa harus hijrah ke pulau yang sama padatnya dengan mimpi-mimpi mereka.
Kampus Regional Mulai Unggul
Di Sumatera Barat, Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang mengalami lonjakan kinerja dalam publikasi ilmiah serta kolaborasi riset. Universitas Syiah Kuala di Aceh juga mencatatkan pertumbuhan stabil, menunjukkan bahwa kualitas akademik kini merata hingga ke ujung barat Indonesia.
Tidak ketinggalan, Universitas Sriwijaya di Palembang dan Universitas Lampung turut memperkuat citra sebagai pusat studi unggulan. Bahkan Universitas Lambung Mangkurat dari Kalimantan Selatan kini masuk radar lembaga internasional berkat konsistensi dalam pengembangan riset dan komunitas akademik.
Masuknya kampus seperti Universitas Negeri Makassar, Universitas Riau, dan Universitas Mataram dalam daftar 20 besar luar Jawa menjadi bukti bahwa potensi itu tidak terpusat. Justru, dari pinggiran-pinggiran inilah muncul kekuatan baru yang membentuk peta baru pendidikan nasional.
Hal yang menarik, sebagian besar universitas ini sudah mulai terlibat aktif dalam proyek global, program pertukaran dosen, dan jejaring akademik lintas negara. Dengan demikian, kualitas lulusan yang dihasilkan pun semakin kompetitif di tingkat Asia.
Kampus-kampus tersebut tidak lagi sekadar memenuhi standar nasional, tapi kini mengejar standar global dengan semangat yang tumbuh dari akar lokal.
Pilar Transformasi Akademik
Kebangkitan kampus regional tidak terlepas dari investasi yang konsisten dalam infrastruktur riset, digitalisasi kampus, serta pembaruan kurikulum. Beberapa universitas bahkan membentuk pusat inovasi teknologi dan sosial yang menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Dukungan pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan transformasi ini. Tidak hanya dalam bentuk anggaran, tetapi juga melalui kebijakan afirmatif dan insentif riset berbasis wilayah.
Selain itu, peran alumni kini makin vital. Banyak dari mereka yang kembali ke kampus untuk memberi pelatihan, membuka peluang kerja sama industri, hingga membangun ekosistem wirausaha mahasiswa. Ini menjadi penguat ekosistem yang menjadikan universitas sebagai motor pertumbuhan daerah.
Citra kampus regional kini bukan hanya tentang ruang kuliah dan laboratorium. Mereka mulai menjelma menjadi pusat perubahan, tempat lahirnya pemikiran kritis dan solusi konkret atas berbagai persoalan lokal dan nasional.
Kini saatnya memaknai pendidikan tinggi tidak lagi soal lokasi, tetapi soal kontribusi dan dampak yang diberikan. Untuk mempercepat kemajuan, kampus-kampus di luar Jawa perlu terus mendorong kolaborasi internasional, pertukaran akademik, serta publikasi di jurnal bereputasi. Ini akan memperluas jejaring ilmiah dan meningkatkan daya saing lulusan.
Diperlukan komitmen dari pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat pendanaan riset dan pengembangan infrastruktur akademik di luar Jawa. Kampus tidak bisa tumbuh sendiri, butuh ekosistem yang saling menopang. Mahasiswa dan alumni juga perlu terus dilibatkan dalam pembangunan kampus. Kehadiran mereka di ruang publik akan menjadi cermin reputasi universitas serta membuka lebih banyak peluang kemitraan strategis.
Pencapaian 20 universitas luar Jawa dalam EduRank 2025 bukan sekadar prestasi statistik, melainkan cermin kebangkitan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih merata dan inklusif. Dengan kekuatan lokal yang dikembangkan secara konsisten dan dukungan lintas sektor, kampus-kampus ini mampu menjadi tulang punggung perubahan sosial, ekonomi, dan intelektual bangsa.
Ke depan, kampus-kampus regional bukan lagi alternatif, melainkan aktor utama dalam membentuk generasi baru Indonesia yang cerdas, tangguh, dan relevan di panggung dunia.(*)





