Trump Janji Tak Serang Iran, Tehran Tolak Tuntutan Nuklir
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru pada Jumat (9/10/2026). Di satu sisi, Presiden Donald Trump menyatakan AS tidak akan melancarkan serangan militer terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu 3 November. Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan menghentikan program pengayaan uranium meski mendapat tekanan besar dari Washington.
Trump Tahan Serangan Menjelang Midterm
Pernyataan Trump bahwa AS tidak akan menyerang Iran disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Fox News. Analis politik menilai janji ini lebih bermotif elektoral ketimbang strategis karena Trump ingin menghindari eskalasi militer menjelang pemilu paruh waktu.
Namun Trump menambahkan syarat bahwa jaminan tersebut hanya berlaku jika Iran tidak melakukan provokasi besar. Pentagon tetap mempertahankan kehadiran militer yang diperkuat di kawasan Teluk Persia.
Iran Tolak Tuntutan Setop Pengayaan Uranium
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammed Eslami, memberikan respons tegas bahwa Iran tidak akan menghentikan proyek pengayaan uranium maupun menyerahkan stok uranium yang diperkaya. Eslami menyatakan program nuklir Iran bersifat damai dan merupakan hak kedaulatan.
IAEA dalam laporan terbarunya mencatat bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, mendekati level weapon-grade 90 persen. Perkembangan ini memicu kekhawatiran komunitas internasional.
Dampak terhadap Pasar dan Kawasan
Ketegangan AS-Iran berdampak langsung pada harga minyak dunia. Brent crude diperdagangkan di kisaran US$78 per barel, relatif stabil tetapi rawan lonjakan jika eskalasi terjadi. Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi 20 persen pasokan minyak dunia menjadi titik kritis.
Bagi Indonesia, ketegangan di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga BBM impor dan inflasi domestik jika harga minyak melonjak tajam. Perkembangan hubungan AS-Iran dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor kunci stabilitas geopolitik dan ekonomi global.






















Tinggalkan Balasan