Studi BRIN Ungkap Vape Berpotensi Picu Diabetes dan Gangguan Pankreas, Ancaman Serius bagi Anak Muda
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis hasil studi awal yang mengungkapkan bahwa penggunaan rokok elektrik atau vape berpotensi memicu diabetes dan gangguan fungsi pankreas. Temuan ini mematahkan anggapan luas di masyarakat bahwa vape merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional, dan menjadi peringatan serius khususnya bagi generasi muda Indonesia.
Temuan Utama Penelitian BRIN
Penelitian yang dilakukan oleh tim riset BRIN ini menganalisis dampak paparan nikotin cair dan senyawa kimia lain yang terkandung dalam cairan vape terhadap fungsi sel beta pankreas, yaitu sel yang bertanggung jawab memproduksi insulin dalam tubuh manusia. Hasil studi menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap aerosol vape dapat merusak sel beta pankreas dan mengganggu produksi insulin, yang pada akhirnya meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Selain nikotin, senyawa seperti propilen glikol dan gliserin nabati yang dipanaskan dalam perangkat vape menghasilkan senyawa aldehida yang bersifat toksik bagi organ pankreas. Peneliti BRIN menekankan bahwa efek merusak ini bersifat akumulatif.
Mengapa Ini Mengkhawatirkan bagi Anak Muda
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan vape di kalangan remaja Indonesia usia 13-17 tahun meningkat tajam dari 4,2 persen pada 2022 menjadi 9,8 persen pada 2026. Artinya, hampir satu dari sepuluh remaja Indonesia kini menggunakan rokok elektrik secara reguler.
Ini peringatan bagi anak muda karena efeknya tidak terasa sekarang. Kerusakan pankreas akibat vape baru akan manifest dalam bentuk diabetes atau gangguan metabolik lain dalam jangka waktu 10 sampai 15 tahun ke depan, jelas salah satu peneliti utama BRIN. Artinya, remaja yang mulai vaping di usia 15 tahun berisiko mengidap diabetes sebelum usia 30 tahun.
Perbandingan dengan Rokok Konvensional
Studi ini juga membandingkan dampak vape dan rokok konvensional terhadap fungsi pankreas. Meskipun rokok konvensional memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker paru dan penyakit kardiovaskular, temuan BRIN mengindikasikan bahwa vape memiliki dampak yang setara atau bahkan lebih buruk terhadap fungsi endokrin pankreas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa klaim vape sebagai produk lebih aman tidak didukung bukti ilmiah yang memadai. Temuan BRIN ini semakin memperkuat posisi WHO.
Implikasi Kebijakan
Temuan ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi peredaran dan pemasaran vape di Indonesia. Kementerian Kesehatan dan BPOM diharapkan dapat memanfaatkan hasil riset BRIN ini sebagai dasar ilmiah untuk menerbitkan kebijakan pembatasan yang lebih ketat, termasuk larangan pemasaran vape yang menargetkan anak muda dan remaja.
Di sisi lain, rencana pemerintah untuk menerapkan cukai minuman berpemanis pada 2027 juga perlu diiringi dengan pengenaan cukai yang lebih tinggi terhadap produk vape sebagai upaya komprehensif mencegah lonjakan kasus diabetes di kalangan generasi muda Indonesia.






















Tinggalkan Balasan