Banjir Bandang Padang Rendam 120 Rumah, Akses Jalan Terputus

Banjir bandang Padang rendam 120 rumah dan putus akses jalan. BPBD tetapkan tanggap darurat 14 hari, 350 jiwa mengungsi.
Gubernur Pramono Anung Buka Suara Soal Dugaan Pelecehan di SMK Negeri 27 Jakarta (foto:istimewa)

Banjir bandang Padang menerjang sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (10/10/2026), merendam setidaknya 120 rumah warga dan memutus akses jalan utama. Sehari setelah kejadian, warga masih berjuang membersihkan sisa lumpur dan puing yang menutupi pemukiman mereka.

Kronologi Banjir Bandang Padang

Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Kota Padang selama lebih dari enam jam pada Sabtu sore memicu luapan beberapa sungai kecil yang bermuara ke permukiman warga. Air bercampur lumpur dan material longsor menyerbu kampung-kampung di kecamatan Koto Tangah dan Pauh dengan ketinggian mencapai satu meter di beberapa titik terparah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat 120 unit rumah terendam, puluhan kendaraan terseret arus, dan satu jembatan penghubung antarkecamatan rusak berat. Akses jalan provinsi yang menghubungkan Padang dengan Kabupaten Solok juga terputus akibat longsor susulan yang menutupi badan jalan sepanjang sekitar 50 meter.

Evakuasi dan Penanganan Darurat

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan langsung bergerak melakukan evakuasi warga yang terjebak di rumah mereka. Sebanyak 350 jiwa mengungsi ke tiga titik pengungsian yang disiapkan di gedung sekolah dan balai kelurahan. Dapur umum didirikan untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi.

Pemerintah Kota Padang melalui Wali Kota menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor. Dinas Pekerjaan Umum memperkirakan perbaikan jembatan yang rusak membutuhkan waktu setidaknya dua minggu.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Selain kerugian material berupa kerusakan rumah dan infrastruktur, banjir bandang juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Pasar tradisional di Kecamatan Koto Tangah terpaksa tutup karena area perdagangan masih tergenang air. Petani sayuran di kawasan hulu melaporkan kerusakan lahan pertanian yang cukup luas.

BPBD Sumatera Barat memperkirakan kerugian material awal mencapai miliaran rupiah. Koordinasi dengan pemerintah provinsi untuk bantuan logistik dan rehabilitasi terus berjalan.

Peringatan BMKG

BMKG memperingatkan bahwa potensi hujan lebat masih akan berlangsung di Sumatera Barat hingga pertengahan Oktober 2026. La Nina yang masih aktif menjadi faktor utama tingginya curah hujan. Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca terkini dan segera mengungsi jika melihat tanda-tanda banjir bandang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights