Kabut Asap Kalimantan dan Sumatra Bikin Pendapatan UMKM dan Ojol Anjlok Lebih dari 50 Persen

Kabut asap di Kalimantan dan Sumatra membuat pendapatan UMKM dan ojol anjlok lebih dari 50 persen. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp15-20 triliun.
Daftar UMR UMK 2026 Seluruh Indonesia Lengkap 38 Provinsi Terbaru.(foto:istimewa)

Kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra sepanjang Oktober 2026 tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga memukul telak perekonomian rakyat kecil. Pedagang kaki lima, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga pengemudi ojek online (ojol) mengaku pendapatan mereka merosot drastis hingga lebih dari 50 persen dibandingkan kondisi normal.

Dampak Langsung terhadap Perekonomian Rakyat

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, seorang pedagang soto mengungkapkan bahwa omzetnya yang biasanya mencapai Rp800 ribu per hari kini hanya berkisar Rp300 ribu. Pembeli sepi karena orang takut keluar rumah akibat asap yang bikin sesak napas dan sakit kepala.

Kondisi serupa dialami pengemudi ojol di Pekanbaru dan Banjarmasin. Mereka terpaksa tetap bekerja meski kondisi udara sangat tidak sehat karena tidak memiliki sumber pendapatan lain. Sesak napas dan sakit kepala menjadi keluhan umum, namun kebutuhan keluarga memaksa mereka tetap mencari nafkah di jalanan.

Indeks Kualitas Udara Melampaui Batas Bahaya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra telah melampaui angka 300, yang dikategorikan sebagai tingkat berbahaya. Palangka Raya, Pontianak, Pekanbaru, dan Jambi menjadi kota-kota yang paling terdampak.

Kabut asap ini disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat signifikan sejak September 2026. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat lebih dari 12.000 titik api terdeteksi di kedua pulau tersebut selama tiga pekan terakhir. Faktor El Nino yang kembali aktif pada tahun ini memperparah kekeringan dan memperluas area kebakaran.

Kerugian Ekonomi Diperkirakan Triliunan Rupiah

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan kerugian ekonomi akibat kabut asap di Kalimantan dan Sumatra bisa mencapai Rp15-20 triliun pada kuartal keempat 2026. Angka ini mencakup penurunan produktivitas kerja, gangguan transportasi, peningkatan biaya kesehatan, serta kerugian sektor pertanian dan perkebunan.

Sektor pariwisata juga terpukul keras. Sejumlah penerbangan dari dan menuju bandara di Kalimantan serta Sumatra mengalami penundaan dan pembatalan akibat jarak pandang yang sangat rendah. Maskapai penerbangan melaporkan penurunan tingkat keterisian penumpang hingga 30 persen pada rute-rute yang terdampak.

Respons Pemerintah dan Bantuan untuk Warga Terdampak

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan percepatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui operasi hujan buatan serta penerjunan pasukan tambahan TNI dan Polri. BNPB juga telah mendistribusikan masker N95 dan alat bantu pernapasan ke wilayah-wilayah terdampak.

Kementerian Koperasi dan UKM mengumumkan program relaksasi cicilan pinjaman bagi pelaku UMKM di daerah terdampak kabut asap. Relaksasi cicilan hingga tiga bulan akan diberikan kepada pelaku usaha yang terdampak langsung.

Langkah Jangka Panjang Diperlukan

Para ahli lingkungan mendesak pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga menegakkan hukum terhadap perusahaan yang terbukti membakar lahan. Kabut asap ini berulang setiap tahun karena penegakan hukum lemah, dan perusahaan yang terbukti bersalah seharusnya dicabut izinnya.

Masyarakat berharap situasi kabut asap segera mereda seiring masuknya musim hujan yang diperkirakan tiba pada akhir Oktober hingga awal November 2026. Namun hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan signifikan dari jumlah titik api yang terdeteksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights