EKOIN.CO – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia dalam ketahanan pangan regional dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-46.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman tiba di Bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Selangor, Malaysia, Minggu (25/5/2025) pukul 16.45 waktu setempat.
Kehadiran Mentan Amran di Malaysia untuk mendampingi Presiden Prabowo dalam agenda KTT ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur.
Forum ini mengusung tema Inklusivitas dan Keberlanjutan, mencerminkan tekad ASEAN menghadapi tantangan iklim dan ketimpangan pembangunan.
Dalam sesi pembukaan, Presiden Prabowo menyampaikan pentingnya kolaborasi kawasan dalam membangun sistem pangan tangguh.
Mentan Amran turut hadir sebagai bagian dari delegasi resmi Indonesia yang fokus pada ketahanan dan kemandirian pangan.
Ketahanan Pangan Jadi Sorotan
Kehadiran Mentan Amran juga menjadi perhatian, mengingat peran Indonesia yang saat ini mengalami lonjakan produksi pangan.
BPS mencatat produksi beras nasional Januari–Juni 2025 diperkirakan mencapai 18,76 juta ton, naik 11,17 persen dari tahun sebelumnya.
Produksi jagung juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai 10,91 juta ton atau naik 12,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Mentan menyebutkan bahwa cadangan beras pemerintah telah menyentuh 3,9 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. “Alhamdulillah, stok Bulog sudah mencapai 3,9 juta ton. Ini mencerminkan ketahanan pangan nasional yang semakin kokoh,” ujar Amran.
Menurutnya, capaian ini menjadi prestasi besar dalam menghadapi ancaman krisis pangan global dan tekanan populasi domestik.
Malaysia Minta Belajar ke Indonesia
Negara tetangga, Malaysia, tengah menghadapi krisis beras lokal yang menyebabkan lonjakan harga dan keresahan publik.
Dalam situasi itu, beberapa tokoh di Malaysia menyarankan agar pemerintah mencontoh sistem pertanian Indonesia.
Hal ini ditindaklanjuti secara konkret lewat kunjungan Menteri Pertanian Malaysia, Datuk Seri Mohammad Bin Sabu, ke Jakarta.
Pertemuan dilakukan pada 22 April 2025 sebagai bentuk apresiasi dan inisiatif kerja sama antarkedua negara.
Mat Sabu menyampaikan kekagumannya terhadap sistem produksi dan distribusi pangan Indonesia. “Produksi padi Indonesia naik berlipat ganda… kita ingin belajar dan menerapkan teknologi tersebut di Malaysia,” kata Mat Sabu.
Peluang Kolaborasi dan Ekspor
Pemerintah Indonesia membuka peluang ekspor beras menyusul lonjakan produksi dan kestabilan harga dalam negeri.
Hal ini sejalan dengan tujuan Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia lumbung pangan regional di masa depan.
Kolaborasi teknologi pertanian, terutama pada komoditas strategis seperti padi, jagung, dan ikan, mulai dibahas bersama Malaysia.
Presiden Prabowo menekankan bahwa stabilitas pangan tidak hanya penting secara nasional, tapi juga untuk stabilitas kawasan. “Ketahanan pangan adalah fondasi perdamaian dan kemakmuran,” ujar Presiden dalam sesi pleno KTT.
Rangkaian KTT ASEAN mencakup pertemuan dengan parlemen, pelaku usaha, dan pemuda ASEAN untuk menyelaraskan visi kawasan.
Transformasi Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian Indonesia di tengah tantangan iklim dan geopolitik global menjadi sorotan peserta KTT.
Peningkatan efisiensi tanam, pemanfaatan teknologi, serta intensifikasi komoditas strategis menjadi pendorong utama capaian ini.
Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa model pertanian adaptif Indonesia dapat menjadi rujukan negara-negara anggota. “ASEAN perlu berbagi praktik baik agar tidak ada negara tertinggal dalam krisis,” jelasnya dalam forum bisnis ASEAN.
Delegasi Indonesia menyampaikan kesiapan untuk berbagi teknologi dan sistem distribusi pangan kepada negara-negara sahabat.
Mentan Amran menambahkan bahwa kelebihan stok saat ini memungkinkan Indonesia berkontribusi dalam ekspor pangan.
Penegasan Komitmen Regional
Kehadiran aktif Indonesia dalam forum ini memperkuat posisi strategisnya di antara negara-negara ASEAN dalam isu ketahanan pangan.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai prioritas kebijakan luar negeri Indonesia.
Agenda bilateral dan multilateral dilakukan dengan tetap memperhatikan kebutuhan internal negara-negara anggota.
Delegasi Indonesia juga memaparkan rencana kerja sama jangka panjang dalam sistem pangan dan pertanian berkelanjutan.
Isu perubahan iklim dan krisis rantai pasok dibahas secara menyeluruh dalam sesi retreat KTT ASEAN.
Keterlibatan Mentan Amran dalam forum-forum teknis menunjukkan komitmen Indonesia yang tidak sekadar simbolik.
Saran
Perluasan kolaborasi regional di bidang pertanian harus terus didorong, mengingat tantangan global yang terus berubah dan tak terduga.
Negara-negara ASEAN sebaiknya memperkuat mekanisme pertukaran teknologi dan pengetahuan untuk meningkatkan produktivitas pangan.
Pemerintah Indonesia juga disarankan memperluas pelatihan dan diplomasi teknis pertanian dengan mitra-mitra kawasan.
Perlu penekanan pada inovasi dan riset pertanian untuk mempertahankan surplus produksi dalam jangka panjang.
Perhatian pada regenerasi petani dan penguatan kelembagaan tani akan memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional.
Kesimpulan
Kehadiran Indonesia dalam KTT ASEAN ke-46 menegaskan peran strategisnya dalam isu ketahanan pangan regional.
Capaian produksi nasional menjadi modal kuat Indonesia untuk berbagi pengalaman dan menjalin kerja sama konkret.
Pengakuan dari negara seperti Malaysia menjadi cermin efektivitas sistem pertanian yang telah dibangun.
Dengan pendekatan kolaboratif, Indonesia memperluas pengaruh positifnya di kawasan Asia Tenggara.
Komitmen politik yang kuat dari Presiden Prabowo dan dukungan teknis dari Mentan Amran menjadi kombinasi penting dalam diplomasi pangan. (*)





