Jerusalem, EKOIN.CO – Konflik Israel–Palestina kembali memanas. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai peristiwa penting memicu sorotan publik dan tindakan internasional terhadap situasi di wilayah tersebut.
Sanksi dari Lima Negara Terhadap Dua Menteri Israel
Kanada, Australia, Norwegia, Selandia Baru, dan Inggris pada Selasa (10 Juni 2025) resmi menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben‑Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Langkah ini diambil karena retorika ekstremis keduanya dinilai telah merangsang kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Pernyataan bersama menyebut: “telah memicu kekerasan ekstremis dan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia Palestina” Pemerintah kelima negara meminta Israel menegakkan kewajibannya berdasarkan hukum internasional dan segera menghentikan ekspansi permukiman.
Deklarasi tersebut juga menyuarakan urgensi gencatan senjata dan pembebasan sandera, serta menjamin aliran bantuan kemanusiaan termasuk pangan.
Reuters, Associated Press, dan Anadolu turut memuat penjelasan detil soal retorika menteri ekstremis yang berkali-kali menyerukan pemindahan warga Palestina secara paksa .
Penangkapan Kapal Bantuan “Madleen” dan Deportasi Aktivis
Kapal bantuan Madleen yang berlayar menuju Gaza berhasil dicegat oleh Israel pada dini hari 9 Juni 2025. Aksi tersebut membuat Greta Thunberg dan sejumlah aktivis lainnya ditahan dan dibawa ke pelabuhan Ashdod.
Benda bantuan di kapal antara lain tepung, beras, susu bayi, popok, alat medis, dan kursi roda anak-anak .
Israel menawarkan deportasi sukarela kepada beberapa aktivis, termasuk Thunberg, yang bersedia meninggalkan Israel pada 10 Juni menuju Prancis dan Swedia.
Thunberg menyebut tindakan Israel “menculik” mereka di perairan internasional dan membawa mereka melawan kehendak di atas kapal Madleen .
Amnesty International Mengecam
Amnesty International melalui Sekjen Agnès Callamard mengecam insiden tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan membahayakan keselamatan penumpang kapal.
Beberapa sumber menyebut operasi tersebut dilakukan di perairan internasional pada tengah malam, dan penangkapan dilakukan tanpa prosedur hukum yang benar .
Global March to Gaza: Aksi Jalan Kaki Bersejarah
Ratusan aktivis dari berbagai negara bersiap melakukan aksi berjalan kaki dari Mesir menyeberang perbatasan Rafah menuju Gaza. Aksi ini adalah bagian dari kampanye Global March to Gaza yang diagendakan antara 12–20 Juni 2025.
Tujuan aksi ini adalah menuntut diakhirinya “genosida”, membuka blokade, dan menyerukan pengadilan atas dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel.
Olimpiade Kualifikasi Piala Dunia dan Semangat Palestina
Di sisi lain, tim nasional sepakbola Palestina menembus babak penting kualifikasi Piala Dunia 2026. Dalam laga penting melawan Oman pada 10 Juni, mereka kalah lewat tendangan penalti terakhir. Meskipun demikian, pencapaian ini tetap menyuntikkan rasa bangga dan harapan bagi rakyat Palestina di tengah konflik yang berlangsung.
Bek Yaser Hamed mengatakan pesan dukungan dari rakyat Palestina membakar semangat tim untuk terus berjuang, “Por los niños que están muriendo” — “untuk anak-anak yang sedang sekarat”.
Demonstrasi di Dunia dan Kampus Eropa
Beberapa negara Eropa juga menyuarakan dukungan terhadap Palestina melalui demonstrasi publik, salah satunya di Lorca, Spanyol. Puluhan ribu massa berkumpul di Plaza Calderón pada 10 Juni untuk mengecam apa yang mereka sebut “genosida” di Gaza.
Sementara itu, kampus-kampus di Belanda seperti Universitas Utrecht dan TU Delft terus menjadi basis protes. Mahasiswa mengecam kerja sama akademis dengan institusi Israel dan meminta kebijakan yang lebih tegas mendukung Palestina .
Persiapan Konferensi Perdamaian PBB
Di tengah eskalasi tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadwalkan Konferensi Perdamaian untuk Gaza pada 17–20 Juni 2025 di Gedung PBB, New York. Pertemuan ini akan membahas de‑militerisasi Hamas, pembebasan sandera, reformasi Otoritas Palestina, dan rencana pasca konflik serta solusi dua negara.
Saran:
Masyarakat internasional perlu terus mendesak pencabutan blokade dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza secara aman.
Israel sebaiknya menghormati hukum laut dan memfasilitasi misi kemanusiaan tanpa intervensi memaksa.
Media global diharapkan menyajikan informasi akurat, proporsional, tanpa retorika berlebihan yang dapat memperkeruh situasi.
Dukungan melalui aksi damai politik dan moral harus digalakkan agar suara rakyat Palestina terdengar di forum dunia.
Konferensi PBB harus diikuti dengan kebijakan nyata, bukan sekadar retorika diplomatik kosong.
Kesimpulan:
Ranah diplomasi dan tekanan publik semakin penting dalam meredakan konflik.
Solidaritas global mencerminkan keprihatinan atas penderitaan warga Palestina.
Insiden seperti kapal Madleen melambangkan tantangan akses kemanusiaan di zona konflik.
Momentum sepakbola Palestina menunjukkan dampak symbolis olahraga dalam perjuangan nasional.
Keberlangsungan gencatan senjata dan solusi dua negara bergantung pada komitmen semua pihak usia ke depan.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





