Karo, EKOIN.CO – Ribuan pegiat solidaritas Palestina dari puluhan negara bergerak menuju perbatasan Rafah, Mesir, dalam rangka Global March to Gaza, sebuah aksi damai menuntut dibukanya akses kemanusiaan bagi warga Gaza.
Global March to Gaza sendiri dimulai pada Jumat, 12 Juni 2025, di Kairo, Mesir. Aksi ini merupakan kelanjutan dari “Konvoi Keteguhan” yang bermula di Tunisia dan Aljazair.
Titik awal konvoi di Kairo direncanakan disusul perjalanan melalui Arish, dan akhirnya mencapai Rafah, perbatasan utama antara Mesir dan Jalur Gaza.
Penyelenggara menegaskan konvoi ini bersifat nirlaba dan non-politik, bertujuan mengirim bantuan kemanusiaan serta memberikan tekanan diplomasi terhadap Mesir dan Israel.
Menurut pernyataan Youssef Aziz dari March of the Free, gerakan ini awalnya digagas oleh diaspora Arab yang tinggal di Eropa dan Afrika Utara.
Aziz melanjutkan, jumlah peserta diperkirakan mencapai 20.000 hingga 50.000 orang dari 54 negara. Namun, angka pastinya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan.
“Misi kami sederhana namun kuat: membela martabat manusia, keadilan, dan solidaritas dengan warga Gaza,” tegas Aziz.
Gerakan konvoi ini melibatkan delegasi dari Tunisia, Aljazair, Maroko, dan Mauritania, yang bergerak lewat Libya hingga ke Kairo.
Sebagian besar aktivis menggunakan bus dan berjalan kaki untuk menembus rute darat panjang menuju Rafah.
Namun, otoritas Mesir menahan sekitar 200 aktivis asing sejak beberapa jam sebelum aksi berlangsung, melakukan razia di bandara dan hotel Kairo.
Saif Abu Khashk, juru bicara, mengatakan penahanan terjadi meski mereka telah mengajukan izin resmi lebih dari 50 kali tanpa tanggapan.
“Petugas menyita ponsel, menggeledah barang, dan sebagian ditahan, sebagian lainnya dilepaskan,” ujar Abu Khashk kepada AFP. .
Lebih dari 20 aktivis Prancis ditahan 18 jam di bandara Kairo; sejumlah delegasi dari Kolombia dan Aljazair juga dideportasi.
Penahanan ini terjadi menyusul tekanan dari Israel yang meminta Mesir mengadang “konvoi jihadis” agar tidak mendekati Rafah.
Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyebut konvoi itu berpotensi membahayakan keamanan dan meminta Mesir mencegah akses mereka ke border.
Media The New Arab dan AFP melaporkan konvoi telah mencapai Tripoli, Libya, pada 11 Juni 2025.
Ribuan aktivis melalui jalur Tunisia–Libya–Mesir ini berharap bisa memasuki Gaza dengan membawa bantuan langsung.
Konvoi ini dikenal juga sebagai “Soumoud” atau “Keteguhan” dan telah berjalan sejak 9 Juni 2025 di Afrika Utara.
Saat ini, pemerintah Mesir belum mengeluarkan izin resmi terhadap konvoi tersebut. Pernyataan pemerintah menyatakan dukungan atas desakan terhadap Israel, namun minta prosedur dipenuhi.
Abu Khashk menegaskan tim penyelenggara telah menempuh proses resmi, tetapi belum mendapat jawaban dari pihak Mesir.
Sementara itu, dari barat Libya muncul konvoi “Samud” yang bergabung di perbatasan timur Libya menuju Mesir dan Rafah.
Bentrokan diplomatis juga mengemuka. Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, mendesak Mesir untuk menghalangi aktivitas ini, menyebutnya “kelompok jihadis.”
Meski demikian, penyelenggara menyatakan aksi ini damai dan tidak bersifat konfrontasi terhadap militer manapun.
Dalam wawancara, Aziz menyebut pihaknya memiliki tim hukum yang siap jika terjadi hambatan hukum di Mesir maupun skala internasional.
Terkait ini, tim hukum juga telah mengajukan surat diplomatik ke kedutaan Mesir, namun respons belum diterima.
Aksi ini bukanlah gerakan sesaat. Aziz menyebutnya “percikan awal” dari rangkaian konvoi kemanusiaan mendatang.
Lebih dari itu, Global March to Gaza menegaskan tidak akan menerobos paksa perbatasan, tetapi membuka negosiasi damai melalui relawan, LSM, dan diplomat.
Dalam situasi konflik intensif di Gaza, lebih dari 182.000 warga Palestina tewas atau luka sejak awal blokade sesuai data terbaru.
Di bawah blokade sejak Maret 2025, Gaza mengalami krisis kemanusiaan parah, dengan kelangkaan pangan dan layanan dasar.
Aksi konvoi muncul di tengah tekanan global untuk membuka Rafah, yang merupakan jalur vital masuknya bantuan internasional.
Delegasi berharap tindakan damai ini bisa menjadi katalis diplomasi lebih lanjut antara Mesir, Israel, dan donor kemanusiaan.
Bagi warga Gaza, konvoi ini berarti dukungan nyata di tengah pengepungan ekonomi dan sosial hebat.
Aziz menegaskan: “Kami melihat kalian sebagai pembela keadilan. Tujuan kami adalah mendukung kalian dengan bantuan.”
Respons negara-negara pengirim juga beragam, dari dukungan penuh hingga peringatan soal keterlibatan warganya.
Pihak Mesir saat ini mendukung desakan agar Israel mencabut blokade sekaligus menuntut prosedur resmi dipenuhi.
Israel, sebaliknya, intens meminta Mesir agar tidak mengizinkan konvoi mendekati Rafah, guna menjaga stabilitas keamanan.
Aktivis berharap tekanan publik global bisa mempengaruhi kebijakan Mesir dan Israel secara politis.
Jika akses Rafah dibuka, ratusan ton bantuan medis dan pangan bisa disalurkan segera ke Gaza tanpa melewati blokade militer.
Namun jika tidak, penyelenggara siap beradaptasi dengan strategi baru, termasuk membawa isu ini ke lembaga PBB dan organisasi HAM global.
Sampai saat laporan ini ditulis, konvoi terus bergerak mendekat Rafah meski hambatan berlapis di jalur lintas negara.
Dengan semangat damai, para aktivis mengusung tema “martabat manusia” sebagai inti kampanye kemanusiaan mereka.
Mereka berharap langkah ini bisa menggerakkan opini publik dunia agar tak tinggal diam menyaksikan krisis Gaza.
Saran dan Kesimpulan
Aksi Global March to Gaza menunjukkan bahwa masyarakat sipil dunia mampu mengorganisir solidaritas transnasional untuk mengatasi krisis kemanusiaan.
Mesir perlu mempercepat evaluasi prosedur izin konvoi sebagai bentuk kemanusiaan dan diplomasi regional.
Israel harus mempertimbangkan urgensi akses kemanusiaan dalam menjaga stabilitas kawasan dan meminimalkan penderitaan warga.
Para penyelenggara dan delegasi diimbau menjaga sikap damai dan bersinergi dengan lembaga LSM serta diplomasi resmi.
Aksi ini menjadi momentum untuk mendorong dialog diplomatik multilateralisme guna menyelesaikan konflik Gaza secara beradab.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





