EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Rumah Subsidi untuk Miskin Ekstrem Disiapkan Pemerintah cicilan 600 ribu rupiah

Rumah Subsidi untuk Miskin Ekstrem Disiapkan Pemerintah cicilan 600 ribu rupiah

Pemerintah berencana menyubsidi cicilan rumah Rp600 ribu per bulan selama 25 tahun. Program ini menyasar masyarakat miskin ekstrem dengan harga rumah Rp100 juta.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
17 Juni 2025
Kategori EKOBIS, EKONOMI
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Pemerintah lewat Satuan Tugas (Satgas) Perumahan mengusulkan subsidi cicilan KPR sebesar Rp 600.000 per bulan selama 25 tahun untuk masyarakat miskin ekstrem dalam Program 3 Juta Rumah. Skema ini ditargetkan bagi pembelian rumah seharga Rp 100 juta per unit dan diperuntukkan untuk golongan pendapatan desil dua ke bawah .

Program 3 Juta Rumah dan Subsidi Cicilan
Skema ini diinisiasi Presiden Prabowo Subianto melalui Satgas Perumahan. Anggota Satgas Bonny Z. Minang menyatakan pemerintah yang akan membayar langsung cicilan Rp 600.000 per bulan selama 25 tahun untuk rumah senilai Rp 100 juta . Estimasi biaya menunjukkan total anggaran mencapai Rp 21,6 triliun per tahun yang masih menunggu persetujuan Kementerian Keuangan .

Skema dan Landasan Hukum
Subsidi ini akan diatur melalui Payung Hukum seperti Peraturan Presiden atau Keputusan Presiden agar memberikan kepastian hukum bagi penerima manfaat .

Kriteria Penerima
Program ditujukan untuk masyarakat sangat miskin (desil satu dan dua), yang tergolong masuk 20 % terbawah dalam distribusi penghasilan . Detail kriteria masih dalam tahap finalisasi, namun Bonny menegaskan kelayakan masih digodok .

Liputan di Pedesaan dan Perkotaan
Skema di desa sebagian besar cicilan dijamin langsung oleh APBN, sementara yang di kota bekerja sama dengan bank Himbara seperti BTN dan bisa melibatkan investor asing .

Berita Menarik Pilihan

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Alokasi Anggaran dan Risiko APBN
Ekonom Achmad Nur Hidayat menyoroti bahwa beban anggaran bisa meningkat akibat inflasi atau perluasan program, yang berisiko menurunkan fleksibilitas anggaran untuk sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan .

Tanggapan Pengembang dan Asosiasi
DPD APERSI Jawa Timur menyatakan dukungan penuh, menilai subsidi Rp 600.000 per bulan sangat membantu MBR dan akan meningkatkan keterlibatan pengembang lokal serta investor asing  Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menyebutkan:

“Subsidi Rp 600 ribu per bulan di desa akan sangat membantu masyarakat MBR,” .

Perbandingan FLPP dan Program Baru
Berbeda dengan KPR FLPP biasanya digunakan oleh golongan MBR, program ini mensasar masyarakat sangat miskin ekstrem dan lebih luas dalam cakupan dengan jangka waktu cicilan 25 tahun.

Kuota dan Fokus Pemerintah
Pemerintah menyiapkan 2 juta unit di pedesaan dan 1 juta unit di perkotaan sebagai bagian dari target 3 juta rumah per tahun . Kementerian PUPR juga akan meningkatkan kuota rumah subsidi secara keseluruhan .

Pendanaan Tambahan
BTN akan mencari dana tambahan melalui penerbitan obligasi, pinjaman luar negeri, dan dukungan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan likuiditas FLPP sebesar Rp 70–72 triliun per tahun .

Dampak Infrastruktur dan Ekonomi Desa
Program ini dipandang dapat meningkatkan pembangunan perumahan di desa serta menjadi katalis bagi pemberdayaan UMKM dan ekonomi lokal .

Tantangan Pelaksanaan
Sementara dukungan solid, tantangan berkisar pada verifikasi tepat sasaran, pengawasan, dan potensi salah sasaran yang bisa membebani APBN .

Efek Jangka Panjang
Subsidi selama 25 tahun menciptakan ikatan jangka panjang pada anggaran negara—perlu evaluasi berkelanjutan untuk perawatan rumah dan efektivitas manfaat ekonomi.

Peran Investor Asing
Di perkotaan, pemerintah membuka peluang bagi investor asing dari Qatar, UAE, dan Singapura untuk mendukung pembangunan unit rumah .

Rentang Harga dan Lokasi
Subsidi berlaku untuk rumah dengan pagu harga Rp 100 juta. Di pedesaan, bisa berupa rumah tapak, sedangkan di kota bisa berbentuk rumah tapak maupun vertikal dengan integrasi TOD .

Pentingnya Payung Legal
Landasan hukum dirancang dalam Keppres agar stabilitas program tetap terjaga dan bisa diakses 25 juta keluarga miskin selama 25 tahun .

Penajaman Target Distribusi
Verifikasi penerima menjadi kunci agar program tepat sasaran pada desil satu dan dua tanpa bocor ke kelompok lain yang tidak berhak .

Pemantauan dan Pengawasan
Perlu melibatkan lembaga pengawas untuk memastikan bahwa penerima sesuai kriteria, dan dana digunakan sesuai peruntukan, guna mencegah kebocoran anggaran.

Sinergi Lintas Sektor
Program diharapkan bersinergi dengan pembangunan infrastruktur, akses transportasi, layanan dasar, dan perbaikan lingkungan pemukiman.

Efek Sosial
Rumah layak bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat MBR, memperkuat stabilitas sosial, dan memberi rasa aman jangka panjang bagi penghuni.

Kesinambungan Ekonomi
Pembangunan massal bisa menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan sektor konstruksi dan industri terkait, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Monitoring Inflasi
Subsidi cicilan tetap perlu disinkronkan dengan potensi inflasi biaya konstruksi dan perawatan rumah agar program tetap layak dan berkualitas.

Evaluasi Reguler
Perlu adanya mekanisme monitoring secara berkala—misalnya tiap 5 tahun—untuk mengevaluasi dampak program dan perbaikan kebijakan bila diperlukan.

Koordinasi Antar Lembaga
Keberhasilan butuh kolaborasi antara Satgas Perumahan, Kemenkeu, PUPR, bank, pengembang, dan pemda untuk eksekusi di lapangan.

Transparansi Anggaran
Publik perlu diberikan akses informasi transparan terkait penggunaan dana Rp 21–22 triliun per tahun agar ada akuntabilitas kuat.

Perbandingan Internasional
Model subsidi mirip program perumahan sosial di beberapa negara, namun durasi 25 tahun dan besaran Rp 600.000 sangat unik dan memerlukan studi perbandingan dampak.

Komunikasi Publik
Sosialisasi kepada masyarakat penting agar tidak muncul salah paham, sekaligus memberi kejelasan proses pendaftaran, verifikasi, dan seleksi.

Potensi Ekspansi
Jika program berhasil di tahap awal, mungkin akan diperluas ke kelas MBR ringan atau menengah, namun dengan skema berbeda (misal subsidi parsial).

Tanggapan Awal Publik
Respon publik masih campur aduk; ada anggapan positif seiring kekhawatiran soal ongkos makan/infrastruktur rumah subsidi.

Masukan dari Ekonom
Ekonom mengingatkan agar anggaran Rp 21 triliun setahun tidak mengganggu prioritas lain, dan penting disertai studi dampak jangka panjang .

Manajemen Risiko
Penerapan sistem pengawasan yang ketat dan audit rutin diperlukan untuk mencegah penyimpangan.

Respon Kalangan Profesional
Pengembang lokal mengapresiasi subsidi di desa, tapi profesional sektor properti di kota menilai perlu penguatan regulasi dan akses modal.

Peningkatan Kualitas
Subsidi tidak hanya untuk cicilan, namun perlu mencakup kualitas bangunan supaya rumah tahan lama dan layak huni.

Integrasi TOD
Di kota, subsidi dikaitkan dengan konsep Transit Oriented Development agar memudahkan mobilitas penghuni .

Akses Infrastruktur
Kebutuhan jalan, air bersih, listrik, dan fasilitas umum harus diprioritaskan bersamaan pembangunan rumah.

Partisipasi Swasta
Kerja sama pemerintah dan swasta diharapkan mempercepat pembangunan serta efisiensi biaya.

Stimulasi Ekonomi Desa
Subsidi rumah di desa dapat memicu pembangunan ekonomi lokal melalui pengerjaan kontruksi dan penerapan UMKM.

Lonjakan Permintaan FLPP
Permintaan rumah subsidi terus tinggi; dana FLPP sudah mencapai batas, dan perluasan skema cicilan 600 ribu bakal makin meningkatkan kebutuhan dana publik .

Penambah Kuota Subsidi
Rencana penambahan kuota rumah subsidi merupakan respon terhadap permintaan masyarakat dan merupakan bagian dari target nasional.

Evaluasi Tahunan
Disarankan dibuat laporan perkembangan triwulan atau semester agar publik dan legislatif dapat mengawasi pelaksanaan.

Risiko Salah Sasaran
Studi kasus sebelumnya menunjukkan potensi rumah subsidi digunakan oleh yang tidak berhak; verifikasi data menjadi sangat krusial .

Upaya Literasi Finansial
Penerima subsidi perlu diberi edukasi pengelolaan keuangan agar mampu memenuhi kewajiban sampingan dan memelihara rumah dengan baik.

Kontinuitas Program
Subsidi 25 tahun perlu dipastikan berlanjut meskipun terjadi pergantian kabinet atau kebijakan supaya tidak merugikan penerima.

Pemanfaatan Teknologi Digital
Sistem digital bisa digunakan untuk pendaftaran, verifikasi, serta monitoring status penerima dan penggunaan dana.

Subsidi cicilan Rp 600 ribu/bulan selama 25 tahun merupakan langkah pro-rakyat yang ambisius dan inovatif.
Penerapan program harus berdasar data akurat dan target tepat sasaran untuk menghindari pemborosan anggaran.
Anggaran yang besar perlu disertai pengawasan ketat dan transparansi publik.
Kolaborasi pemerintah, bank, pengembang, dan masyarakat lokal sangat penting untuk pelaksanaan sukses.
Evaluasi berkelanjutan dan adaptasi kebijakan diperlukan agar manfaat subsidi ini dapat bertahan dan berkembang.(*)

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tags: APBNAPERSIBTNcicilan 600 ribucicilan KPR ringanFLPPinvestor asingKementerian Keuanganmasyarakat miskin ekstrempembangunan desa.Prabowo Subiantoprogram 3 juta rumahregulasi perumahanrumah layak hunirumah Rp100 jutarumah subsidi desaSatgas Perumahansubsidi perumahanTODverifikasi data penerima
Post Sebelumnya

Wong: Singapura Percaya Ekonomi Indonesia Kuat

Post Selanjutnya

Indonesia-Singapura Luncurkan Proyek Energi Berkelanjutan

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

IHSG Tertekan Rating Moody’s, OJK Yakinkan Pasar Fundamental Ekonomi Solid

IHSG Tertekan Rating Moody’s, OJK Yakinkan Pasar Fundamental Ekonomi Solid

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Moody's Investors Service (Moody's) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level Baa2, dengan penyesuaian outlook dari Stabil menjadi Negatif. Revisi...

Post Selanjutnya
Indonesia-Singapura Luncurkan Proyek Energi Berkelanjutan

Indonesia-Singapura Luncurkan Proyek Energi Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.