Teheran, EKOIN.CO – Serangan udara Israel ke pangkalan militer di Iran, yang disebut-sebut menewaskan Jenderal Ali Shadmani, ternyata belum memakan korban tersebut. Kejadian yang terjadi pada Rabu malam, 18 Juni 2025, menyebabkan kebingungan di tengah laporan yang saling bertolak belakang.
Kronologi Awal Serangan
Pada 18 Juni 2025 sekitar pukul 23.15 waktu setempat, radar Iran mendeteksi serangan udara dari wilayah Israel. Sejumlah rudal dan drone dilaporkan menghantam pangkalan militer di Provinsi Kerman. Beberapa media mengklaim adanya korban jiwa, termasuk laporan duka meninggalnya Jenderal Ali Shadmani, komandan unit elite Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)
Reaksi Iran dan Klarifikasi
Hanya beberapa hari setelah insiden itu, pemerintah Iran merilis pernyataan resmi bahwa Ali Shadmani masih hidup dan tidak terluka dalam serangan tersebut . Pernyataan ini membantu meredam kekhawatiran publik dan memberikan penjelasan terkait laporan awal yang salah.
Laporan dari Lembaga Independen
Sejumlah analis militer independen, seperti dikutip oleh CNN Indonesia, menegaskan bahwa serangan menarget fasilitas komunikasi dan gudang amunisi, bukan langsung ke perwira tinggi IRGC . Analisis ini semakin mempertegas bahwa klaim kematian Jenderal Shadmani terlalu dini.
Dampak Strategis
Meski tidak menewaskan Shadmani, serangan menunjukkan eskalasi taktik Israel dalam menekan kekuatan militer Iran. Namun, klaim kematian yang keliru bisa memperkeruh hubungan diplomatik: Iran sempat menaikkan alarm militer dan mendesak aliansi regional untuk waspada.
Reaksi Di Kawasan
Pemerintah Lebanon dan Suriah sempat mendengar beredarnya kabar kematian jenderal tersebut. Sumber dari Lebanon menyatakan bahwa pesan kematian sang jenderal disebarkan untuk menekan opini publik agar tidak semakin mendukung eskalasi kawasan
Kutipan Terkini
Dalam sebuah pernyataan resmi jenderal itu sendiri, media Iran melaporkan:
“Saya masih hidup dan bertugas dengan normal,”
ujarnya singkat, menyanggah segala laporan tewasnya diri pribadi
Respon Tokoh Militer
Pengamat militer Al Jazeera, Hassan Sultani, menyebut klaim awal Israel termasuk taktik psikologis:
“Serangan ini bukan soal menghancurkan, tapi mengguncang. Iran pasti akan merespons …” .
Situasi Militer Terkini
Saat ini, Iran meningkatkan sistem pertahanan udara dan memperteguh koordinasi militer dengan sekutunya di Suriah dan Lebanon. Belum ada laporan adanya serangan balasan dalam 48 jam terakhir.
Efek pada Publik Iran
Masyarakat Iran sempat mengalami rasa cemas, apalagi dengan adanya kabar duka. Namun setelah konfirmasi, tingkat ketakutan menurun dan kepercayaan publik terhadap pemerintah sedikit pulih.
Ancaman dan Potensi Eskalasi
Meski tewasnya Shadmani terbukti salah, serangan masih melambangkan ketegangan baru. Banyak pakar mengingatkan bahwa kemelut saat ini bisa dengan cepat berubah menjadi konfrontasi terbuka bila sama-sama ada tafsir salah satu pihak atas klaim di media.
Peran Media dan Informasi
Kasus ini menjadi contoh salah satu efek negatif penyebaran bahasa perang: klaim cepat dapat menyebabkan kepanikan, memicu reaksi berantai, dan mengaburkan fakta sebenarnya.
Iran perlu lebih waspada dalam memverifikasi laporan intelijen dan memelihara ketenangan publik guna mencegah provokasi.
Penting bagi media global untuk menyiarkan hasil verifikasi independen sebelum menyebarkan laporan kehilangan nyawa tokoh militer.
Di tengah konflik, masyarakat sipil harus mencari informasi dari kanal resmi agar tidak terguncang oleh rumor.
Komunitas internasional diharapkan menjadi mediator netral untuk menenangkan ketegangan.
Dalam jangka panjang, dialog bilateral dan multilateral harus diupayakan guna menghindari eskalasi yang tidak terkendali.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





