Jakarta EKOIN.CO – Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Jakarta pada Rabu, 2 Juli 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 18 RT dan satu ruas jalan masih tergenang air hingga malam hari akibat curah hujan yang tinggi.
Banjir ini terjadi setelah hujan deras mengguyur Ibu Kota sejak sore hari. Wilayah terdampak tersebar di beberapa kecamatan, namun rincian spesifik lokasi RT yang terendam tidak disebutkan oleh BPBD DKI Jakarta.
Menurut keterangan resmi dari BPBD DKI Jakarta, banjir terjadi akibat intensitas hujan tinggi yang turun dalam waktu singkat, sehingga drainase tidak mampu menampung volume air yang besar. Selain itu, kondisi geografis dan saluran air yang belum optimal memperparah genangan.
BPBD juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menerjunkan personel untuk membantu warga dan mempercepat proses penyedotan air di titik-titik rawan. Genangan air di sejumlah wilayah perlahan mulai surut, namun beberapa masih membutuhkan waktu lebih lama untuk kering sepenuhnya.
Hingga pukul 21.00 WIB, laporan resmi dari BPBD menunjukkan bahwa banjir masih bertahan di 18 RT dan satu ruas jalan yang belum bisa dilalui kendaraan secara normal.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan seluruh jajaran wilayah untuk percepatan penanganan banjir. “Kami terus pantau kondisi dan menerjunkan pompa portabel serta petugas ke lokasi terdampak,” ujar Isnawa Adji dalam keterangan resminya, Rabu malam.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD juga telah disebar ke wilayah terdampak guna memberikan bantuan logistik dan evakuasi jika diperlukan. Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa atau luka akibat banjir tersebut.
BPBD DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan hujan susulan dan genangan air yang dapat terjadi mendadak. Warga juga diminta untuk tidak membuang sampah ke selokan agar aliran air tidak tersumbat.
Dinas Sumber Daya Air DKI turut berkoordinasi dengan BPBD dalam mengoperasikan rumah pompa di lokasi-lokasi strategis. Pembersihan sampah dan pengecekan saluran air dilakukan sejak dini hari guna memperlancar aliran.
Hingga saat ini, belum ada kebutuhan mendesak untuk evakuasi massal. Namun, BPBD tetap siaga untuk mengantisipasi situasi darurat di wilayah dengan genangan tinggi.
Kondisi Jalan dan Dampak Transportasi
Satu ruas jalan yang masih tergenang dilaporkan mengalami gangguan lalu lintas. Pengguna jalan diimbau untuk mencari jalur alternatif agar tidak terjebak dalam genangan air.
Dinas Perhubungan DKI Jakarta turut mengerahkan petugas untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar titik banjir. Beberapa kendaraan kecil sempat mogok akibat menerobos genangan, namun tidak ada laporan kerusakan berat.
Sejumlah pengendara motor tampak memilih berhenti sementara menunggu air surut, terutama di titik genangan yang mencapai tinggi 30–50 cm. Banjir ini juga menyebabkan keterlambatan perjalanan sejumlah transportasi umum.
Jakarta Smart City mencatat adanya peningkatan pelaporan genangan melalui aplikasi JAKI. Laporan ini menjadi dasar utama BPBD dalam menyesuaikan respons cepat di lapangan.
Kondisi cuaca pada malam hari mulai membaik, namun otoritas tetap mewaspadai potensi hujan kembali pada dini hari.
Prediksi Cuaca dan Langkah Pencegahan
BMKG memperkirakan potensi hujan ringan hingga sedang masih akan terjadi di wilayah Jabodetabek dalam dua hari ke depan. Masyarakat diminta memperhatikan peringatan dini cuaca dan mempersiapkan langkah mitigasi jika terjadi curah hujan intens.
Langkah preventif seperti membersihkan saluran air di sekitar rumah dan menyiapkan kantong pasir disarankan bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir.
Pemprov DKI Jakarta juga mengaktifkan seluruh kelurahan siaga bencana. Posko banjir telah didirikan di beberapa titik guna memberikan bantuan cepat dan pendataan kondisi warga.
Layanan darurat 112 dan kanal pelaporan digital BPBD tetap aktif 24 jam. Warga bisa melaporkan banjir melalui JAKI atau kanal resmi Pemprov DKI lainnya.
BPBD kembali mengingatkan pentingnya partisipasi warga dalam menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, yang kerap menjadi penyebab tersumbatnya saluran air.
Tindak Lanjut dan Upaya Jangka Panjang
Penanganan banjir ini menjadi pengingat bahwa sistem drainase kota perlu peningkatan berkelanjutan. Pemprov DKI Jakarta menargetkan perbaikan dan revitalisasi 16 titik drainase kritis pada 2025.
Proyek normalisasi kali dan pembangunan sumur resapan masih berjalan di sejumlah wilayah, sebagai bagian dari upaya jangka panjang mengurangi risiko banjir.
Masyarakat diharapkan mendukung program pemerintah tersebut, terutama dalam pemanfaatan dan pemeliharaan infrastruktur pengendalian banjir.
Koordinasi antarlembaga, termasuk dengan pemerintah pusat, dinilai penting untuk mempercepat pembangunan sistem pengendali air yang lebih efektif dan menyeluruh.
Di sisi lain, literasi kebencanaan juga terus didorong melalui pelatihan evakuasi mandiri dan edukasi kebencanaan berbasis komunitas.
Dalam menghadapi kondisi seperti ini, penting bagi warga untuk bersiap dan siaga dengan sumber informasi resmi. Banjir dapat menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan yang serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Memahami langkah mitigasi menjadi hal yang sangat krusial, terutama di daerah rawan banjir seperti Jakarta.
Pemerintah daerah perlu meningkatkan ketanggapan, baik dalam jangka pendek melalui respons cepat, maupun jangka panjang lewat penguatan infrastruktur drainase dan kolaborasi lintas dinas. Selain itu, evaluasi sistem peringatan dini dan respons bencana harus terus dilakukan secara berkala.
Warga diharapkan tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan kecil seperti membersihkan got atau tidak membuang sampah sembarangan bisa berdampak besar terhadap kelancaran aliran air saat hujan.
Upaya edukasi kebencanaan perlu ditingkatkan sejak dini, termasuk pada anak-anak sekolah dan komunitas. Semakin tinggi kesadaran, semakin cepat pula respons kolektif dalam kondisi darurat seperti banjir.
Penanganan banjir yang efektif menuntut sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta agar Jakarta bisa menjadi kota yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem di masa mendatang. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





