EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA NASIONAL
Mentan Amran Bongkar Mafia Beras Rp99 Triliun

Mentan Amran Bongkar Mafia Beras Rp99 Triliun

Menteri Pertanian mengungkap praktik mafia beras rugikan negara hingga Rp99 triliun. Pemeriksaan gabungan temukan beras premium dijual di atas HET dan tidak sesuai standar.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
3 Juli 2025
Kategori NASIONAL, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta EKOIN.CO – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali membeberkan adanya praktik mafia beras yang menyebabkan potensi kerugian negara mencapai Rp99 triliun. Hal ini diungkapkannya saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI pada Rabu, 2 Juli 2025, di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Amran menyatakan bahwa dirinya sempat mendapat teguran dari seorang petinggi negara karena membuka persoalan distribusi beras yang menyimpang. “Bahkan kemarin, Hari Bhayangkara, kami ditegur khusus oleh petinggi,” ujarnya di hadapan anggota dewan.

Amran menyebut teguran itu datang setelah ia mengungkapkan bahwa penyimpangan dalam distribusi beras berdampak pada petani dan konsumen. Ia menegaskan bahwa investigasi dilakukan berdasarkan data akurat.

Tim investigasi terdiri dari unsur Kementerian Pertanian, Satgas Pangan Polri, Kejaksaan Agung, Badan Pangan Nasional, dan lembaga pengawasan lain. Mereka melakukan pemeriksaan terhadap 268 merek beras di 13 laboratorium yang tersebar di 10 provinsi.

Investigasi itu dilakukan karena dalam beberapa bulan terakhir terjadi kenaikan harga beras di pasaran, melebihi harga eceran tertinggi. Padahal, stok cadangan beras pemerintah dalam kendali Perum Bulog masih melimpah.

Berita Menarik Pilihan

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

Dalam temuan laboratorium, sebanyak 85,56 persen beras premium ternyata tidak memenuhi standar mutu. Sementara itu, 59,78 persen beras dijual di atas HET dan 21 persen lainnya memiliki berat tidak sesuai kemasan.

Lebih lanjut, hanya 20 hingga 40 persen beras subsidi atau SPHP yang dijual sesuai standar. Sisanya dikemas ulang dan dijual sebagai beras premium atau medium dengan harga lebih mahal.

Amran menyampaikan bahwa anomali harga selama tiga bulan berturut-turut menjadi indikator adanya penyimpangan. Ia menjelaskan, saat harga di tingkat petani justru turun, harga di pasar konsumen malah naik.

“Potensi kerugian Rp99 triliun kami sampaikan karena stok banyak, tetapi harga tetap tinggi,” ungkap Amran dalam rapat tersebut.

Teguran dan Dukungan Presiden

Amran juga mengaku pernah mendapatkan teguran serupa saat menjabat sebelumnya. Ia menyampaikan hal itu dalam sambutan saat wisuda Universitas Hasanuddin pada April lalu.

Kala itu, ia mengaku mendapat teguran dari seorang wakil presiden karena menutup perusahaan mafia beras. Namun, Amran mengklarifikasi bahwa teguran itu tidak berasal dari Wapres saat ini, Gibran Rakabuming Raka.

“Perlu saya klarifikasi, teguran itu dulu, bukan dari Wapres saat ini,” tegas Amran. Ia menilai teguran tersebut justru membuatnya semakin berhati-hati sekaligus berani dalam menghadapi mafia pangan.

Menurut Amran, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kini memberikan dukungan penuh terhadap upaya pemberantasan mafia pangan. “Pak Gibran sangat mendukung. Presiden dan Wapres solid mendukung kita,” tambahnya.

Amran menekankan bahwa keberanian dalam mengungkap mafia pangan harus diiringi dukungan dari para pemimpin nasional. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks akademik, sebagai bagian dari refleksi pengalaman di sektor pertanian.

Dalam 130 hari pertama pemerintahan Kabinet Merah Putih, Kementan telah mengambil langkah tegas. Amran menyebutkan bahwa lebih dari 1.500 pegawai didemosi dan dimutasi karena pelanggaran integritas dan disiplin.

Kementerian Pertanian juga telah menetapkan 20 orang sebagai tersangka dan memproses hukum terhadap 50 perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik curang distribusi pangan.

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga pangan serta melindungi petani dan konsumen.

Investigasi ini dinilai sebagai langkah penting dalam menata ulang sistem distribusi beras agar sesuai standar dan regulasi.

Amran menyampaikan bahwa semua data dan temuan disiapkan dengan sangat hati-hati demi memastikan langkah hukum yang kuat.

Dalam beberapa bulan ke depan, Kementan akan terus memantau distribusi beras dan melakukan pemeriksaan berkala terhadap pelaku usaha pangan.

Kementerian juga akan memperkuat koordinasi dengan lembaga penegak hukum dan pengawas distribusi bahan pokok.

Mereka menargetkan distribusi beras subsidi berjalan sesuai aturan dan tidak dimanipulasi menjadi produk premium yang merugikan rakyat.

Pemerintah menyatakan kesiapannya untuk membersihkan rantai pasok pangan dari praktik mafia yang merugikan negara dan masyarakat luas.

Amran menegaskan, dukungan politik dan publik akan sangat menentukan keberhasilan pemberantasan mafia pangan di Indonesia.

pemerintah disarankan membuka akses data distribusi beras secara transparan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengawasan partisipatif. Masyarakat juga diimbau melapor jika menemukan beras subsidi dijual di atas HET atau dikemas ulang sebagai premium.

Kemudian, lembaga legislatif perlu memperkuat regulasi tentang distribusi pangan agar lebih berpihak pada petani dan konsumen. Regulasi juga harus menjangkau seluruh daerah yang rentan penyimpangan.

Kementerian terkait didorong memperluas program edukasi publik tentang cara membedakan beras subsidi dan beras premium agar konsumen lebih cermat saat membeli.

Di sisi lain, sistem sanksi bagi pelaku penyimpangan harus dipertegas agar menimbulkan efek jera dan menciptakan iklim usaha pangan yang sehat.

Kesimpulannya, pengungkapan praktik mafia beras oleh Mentan Amran merupakan langkah krusial dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Data investigasi menjadi dasar penindakan hukum yang sah.

Dukungan dari Presiden dan Wakil Presiden mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola pangan. Pengawasan ketat dan tindakan tegas terhadap pelanggaran akan mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Langkah reformasi di tubuh Kementan dan pengungkapan praktik curang menunjukkan keberanian politik yang nyata. Ini penting untuk mengakhiri dominasi mafia dalam distribusi bahan pokok.

Jika konsistensi dan transparansi terus dijaga, potensi kerugian triliunan rupiah dari sektor pangan dapat dicegah ke depan. Pemerintah dan rakyat harus bergerak bersama memberantas penyimpangan ini.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat, ketahanan pangan Indonesia akan semakin kuat dan berkeadilan. (*)

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tags: Andi Amran Sulaimanharga berasinvestigasi panganKementerian Pertanianmafia berasPrabowo-Gibran
Post Sebelumnya

Kapal Tenggelam di Selat Bali, Prabowo Perintahkan untuk Penyelamatan Korban

Post Selanjutnya

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Jeddah

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Ilustrasi proses hukum di Polda Jambi. Dua oknum polisi, Bripda Nabil dan Bripda Samson, tengah menjalani sidang kode etik atas dugaan pemerkosaan terhadap remaja perempuan. Pihak korban mendesak hukuman maksimal atas hancurnya masa depan dan cita-cita korban. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Kasus Dugaan Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi: Korban Trauma, Proses Hukum Berjalan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Korban mengalami tekanan mental cukup berat. Fokus utama keluarga sekarang adalah pemulihan psikologisnya,” ujar Romiyanto, Jumat (6/2).

Post Selanjutnya
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Jeddah

Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Jeddah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.