Tokyo
EKOIN.CO – Jepang kembali mencetak sejarah dalam dunia teknologi dengan berhasil mencapai kecepatan transfer data internet sebesar 1,02 petabit per detik. Pencapaian tersebut diumumkan oleh National Institute of Information and Communications Technology (NICT) pada akhir Juni 2025 di Tokyo. Inovasi ini memecahkan rekor dunia sebelumnya dan menandai tonggak penting dalam pengembangan jaringan internet super cepat.
NICT mengembangkan teknologi ini menggunakan kabel fiber optik 19-core, jenis kabel yang biasa digunakan dalam jaringan internet rumahan. Melalui pendekatan ini, lembaga penelitian tersebut mampu menggabungkan inovasi baru tanpa mengubah infrastruktur yang telah ada. Kecepatan 1,02 petabit per detik setara dengan sekitar 1,02 juta gigabit per detik.
Mengandalkan Teknologi Multiplexing Cahaya
NICT menggunakan teknologi wavelength division multiplexing (WDM) untuk mencapai pencapaian luar biasa ini. WDM memungkinkan transmisi data melalui banyak saluran cahaya secara bersamaan dalam satu kabel serat optik. Hasilnya, volume data yang dapat dikirimkan meningkat secara signifikan tanpa perlu menambahkan kabel baru.
Menurut peneliti NICT, sistem uji coba tersebut mencakup panjang kabel optik hingga 51,7 kilometer. Meski menggunakan kabel fiber yang umum, mereka memodifikasi teknik modulasi dan pemrosesan sinyal agar dapat memaksimalkan kinerja transmisi data. Hasilnya, sistem mampu mengirimkan lebih dari satu petabit data per detik secara stabil.
Dalam pernyataan resminya, tim peneliti NICT menyebut bahwa pencapaian ini dapat menjadi landasan penting bagi pengembangan jaringan 6G dan kebutuhan koneksi masa depan. Teknologi ini diharapkan mampu mengakomodasi pertumbuhan eksponensial lalu lintas data global dalam beberapa dekade ke depan.
Terobosan Tanpa Mengganti Infrastruktur
Salah satu hal yang membuat pencapaian ini luar biasa adalah kenyataan bahwa kabel optik yang digunakan tidak memerlukan instalasi ulang. Ini menandakan bahwa teknologi ini dapat diterapkan dalam sistem yang telah berjalan, sehingga tidak membebani infrastruktur operator jaringan dengan biaya tambahan besar.
Kecepatan transfer yang dicapai juga menunjukkan potensi besar bagi berbagai sektor, mulai dari industri hiburan, riset ilmiah, hingga komunikasi antarbenua. Dalam skenario nyata, kecepatan sebesar ini memungkinkan transmisi data dalam jumlah besar seperti konten video 8K atau data medis real-time tanpa hambatan.
Meski masih dalam tahap pengujian laboratorium, hasil ini menunjukkan kemungkinan nyata dari internet berkecepatan ultra tinggi. Jika dikomersialisasikan, teknologi ini dapat memberikan pengalaman internet tanpa latensi, bahkan dalam penggunaan berat sekalipun.
NICT mengungkapkan bahwa eksperimen ini juga menunjukkan efisiensi tinggi dalam konsumsi energi. Dengan teknik pengkodean dan pemrosesan sinyal canggih, sistem tidak hanya cepat tetapi juga hemat energi, sebuah kebutuhan krusial di era digital.
Pencapaian ini menempatkan Jepang sebagai salah satu negara terdepan dalam teknologi telekomunikasi global. Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa inovasi dapat tetap inklusif dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia secara luas.
Secara teknis, kecepatan 1,02 petabit per detik memungkinkan pengiriman lebih dari 10 juta film definisi tinggi dalam waktu kurang dari satu detik. Ini membuka pintu bagi kolaborasi riset berskala global dan transmisi data sensor dari satelit ke bumi secara langsung.
NICT belum mengumumkan kapan teknologi ini akan tersedia secara komersial. Namun, mereka menyatakan komitmen untuk terus mengembangkan dan menyempurnakan sistem ini agar bisa diintegrasikan dengan jaringan global.
Beberapa pakar teknologi memandang pencapaian ini sebagai langkah menuju infrastruktur digital masa depan yang lebih cerdas dan tangguh. Dalam waktu dekat, pengembangan ini diperkirakan akan menarik minat sektor industri dan pemerintah di berbagai negara.
Mengingat kebutuhan data yang semakin besar akibat kecerdasan buatan, realitas virtual, serta kendaraan otonom, pengembangan ini dinilai sangat relevan dan tepat waktu. Ketersediaan jalur data super cepat akan menjadi penentu daya saing ekonomi digital suatu negara.
Sebagaimana disampaikan dalam laporan NICT, hasil uji coba ini merupakan bukti bahwa jaringan serat optik masih memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Melalui pendekatan rekayasa inovatif, batas kapasitas data dapat terus didorong lebih jauh.
Dengan meningkatnya kebutuhan komunikasi global dan konektivitas antarwilayah, teknologi ini dapat mengurangi ketimpangan digital antara pusat kota dan daerah terpencil. Solusi berbasis fiber multi-core dinilai ideal karena fleksibilitas dan efisiensinya.
NICT menambahkan bahwa eksperimen ini dilakukan dalam kondisi dunia nyata, bukan hanya dalam skala laboratorium kecil. Ini menunjukkan bahwa penerapannya dalam sistem nyata sangat memungkinkan dan relevan untuk dimasukkan dalam perencanaan jaringan masa depan.
Beberapa analis memperkirakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga penelitian akan mempercepat adopsi teknologi serupa. Negara-negara lain pun akan berlomba mengejar pencapaian yang sama.
Saat ini, Jepang telah menempatkan diri sebagai pelopor dalam teknologi transmisi data berbasis cahaya. Melalui dukungan pemerintah dan sektor riset yang kuat, negeri Sakura itu semakin dekat menuju era konektivitas tanpa batas.
Melihat besarnya potensi dari teknologi transmisi data super cepat ini, penting bagi negara-negara lain untuk segera berinvestasi dalam riset dan pengembangan serupa. Dengan mengadopsi teknologi mutakhir, negara bisa memperkuat fondasi digitalnya dan meningkatkan daya saing ekonomi.
Pencapaian NICT membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari nol. Mengoptimalkan teknologi yang sudah ada dengan pendekatan baru dapat menjadi solusi cepat dan efisien untuk tantangan masa depan. Inilah yang menjadikan hasil riset ini begitu relevan secara global.
Masyarakat global perlu memahami bahwa kecepatan internet bukan hanya soal hiburan atau akses sosial media, melainkan berkaitan erat dengan layanan kesehatan, pendidikan, serta ekonomi digital yang inklusif. Kecepatan tinggi dapat mempercepat kemajuan sektor-sektor vital ini.
Perlu ada kolaborasi lebih erat antara pemerintah, akademisi, dan industri teknologi agar hasil riset seperti ini tidak berhenti di laboratorium saja. Transformasi digital membutuhkan dukungan regulasi dan pendanaan berkelanjutan.
Terakhir, pencapaian Jepang dalam bidang ini dapat menjadi inspirasi bagi negara lain untuk lebih serius mengembangkan teknologi lokal. Dengan strategi tepat, bukan tidak mungkin Asia menjadi pusat kekuatan digital dunia di masa mendatang. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





