KULON PROGO, YOGYAKARTA – EKOIN.CO-
Program pelatihan kerajinan dari pelepah pisang tengah menggeliat di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak Kamis siang, 3 Juli 2025.
Lebih dari 50 keluarga penerima manfaat (KPM) hadir dalam kegiatan yang digelar Kementerian Sosial (Kemensos) RI bersama Yayasan Kreatif Usaha Mandiri Alami (Kumala) dan Murakabi Craft.
Para peserta duduk beralaskan karpet, mengelilingi gulungan pelepah pisang kering yang telah berubah menjadi tas, keranjang, dan kertas artistik.
Kegiatan ini digelar di bawah tema “Kolaborasi Pemberdayaan bagi Kelompok Rentan” sebagai bentuk transformasi bantuan sosial menjadi pemberdayaan ekonomi.
Mereka adalah warga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako yang sedang dipersiapkan untuk “graduasi”, atau beralih dari penerima menjadi pelaku ekonomi mandiri.
Pelatihan Kerajinan sebagai Jembatan Pemberdayaan
Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil dan Kewirausahaan Sosial Kemensos, I Ketut Supena, menjelaskan pendekatan program ini tidak bersifat instan.
“Kami mulai dari asesmen, melihat potensi lokal, lalu menjalin kemitraan dengan pihak yang siap membersamai,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/7/2025).
Di Kulon Progo, Supena menyebut menemukan warga yang antusias dan mitra usaha yang punya komitmen untuk membeli hasil kerajinan.
Pelepah pisang dipilih karena kerap dianggap limbah setelah panen, padahal dapat diolah menjadi barang bernilai.
“Limbah bisa berubah menjadi sumber kehidupan, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat,” lanjut Supena.
Sorot Mata Baru di Balai Desa Kembang
Suasana pelatihan berlangsung santai namun produktif. Sorot mata peserta menyiratkan semangat transisi dari penerima menjadi pencipta nilai.
Salah satu peserta, Sutini, memperlihatkan keranjang hasil buatannya kepada peserta lain.
“Saya bangga, ini pertama kali saya bikin dan langsung dibeli!” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Beberapa peserta lain bahkan mampu menyelesaikan hingga 10 produk dalam sehari, masing-masing dihargai Rp70.000.
Lembar kertas dari pelepah pisang juga dihargai antara Rp5.000 hingga Rp8.000, tergantung ukuran dan ketebalan.
Dukungan Mitra Usaha: Dari Pelatihan ke Pasar
Peran Murakabi Craft sebagai mitra usaha memberikan dimensi baru pada pelatihan ini.
Othman, Manajer Marketing Murakabi Craft, menyampaikan bahwa mereka tidak hanya melatih, tetapi juga membeli hasil karya peserta.
“Kami tidak ingin warga hanya belajar, tapi juga langsung mendapatkan penghasilan,” ujarnya.
Murakabi bahkan membantu memasarkan produk ke pasar domestik dan luar negeri.
Model serupa juga diterapkan di Lumajang, Jawa Timur, yang kini memproduksi tali dari pelepah pisang.
Pendekatan Ilmiah dan Partisipatif dalam Program
Kegiatan pemberdayaan ini selaras dengan pendekatan ilmiah mengenai transformasi sosial.
Seperti dikemukakan oleh Page dan Czuba (1999), pemberdayaan adalah proses yang melibatkan partisipasi dan kontrol atas sumber daya.
Hal ini diperkuat oleh hasil studi Herdiana, Suryanto, dan Handoyo (2020) yang menekankan pentingnya dukungan sosial dan keluarga.
Kemensos juga menggerakkan pendamping PKH, TKSK, dan relawan sosial sejak tahap awal.
Mereka mendampingi mulai dari pemetaan potensi hingga pasca pelatihan agar hasilnya berkelanjutan.
Replikasi Model Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal
Supena menekankan pentingnya asesmen mendalam dan keterlibatan komunitas sebelum mengadopsi model serupa di wilayah lain.
Menurutnya, keberhasilan tidak bisa dicapai jika pendekatan hanya sebatas proyek.
“Masyarakat harus melihat bahwa di sekitar mereka ada peluang ekonomi,” tegas Supena.
Ia menambahkan bahwa transformasi Kemensos bertujuan menciptakan nilai, bukan sekadar distribusi bantuan.(Gambar diambil dari Kumparan)
“Bukan sekadar menunggu bantuan, tapi menciptakan nilai,” pungkasnya.(*)
Berlangganan gratis WANEWS EKOIN lewat saluran WhatsUp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





