EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA DAERAH
Warga Pamulang Tutup Jalan Protes SPMB

Warga Pamulang Tutup Jalan Protes SPMB

Warga RW 10 Pamulang Barat menutup jalan sebagai bentuk protes terhadap sistem zonasi sekolah. Sembilan anak dari lingkungan tersebut tidak diterima meski rumah dekat sekolah.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
4 Juli 2025
Kategori DAERAH, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tangerang Selatan, EKOIN.CO – Puluhan warga RW 10, Pamulang Barat, Tangerang Selatan, menyampaikan kekecewaannya terhadap sistem seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di SMA Negeri 6 dan SMP Negeri 4 Tangsel. Mereka menilai jalur domisili belum mengakomodasi calon siswa dari lingkungan mereka, meskipun telah dilakukan tiga kali dialog dengan pihak sekolah.

Aksi protes dilakukan dengan menutup akses Jalan Ceger Raya pada Kamis malam, 3 Juli 2025. Penutupan jalan dilakukan secara spontan sebagai bentuk luapan kekecewaan warga karena sembilan anak dari lingkungan tersebut gagal diterima di sekolah negeri terdekat.

Menurut keterangan warga, jalur domisili seharusnya menjadi peluang utama bagi anak-anak dari sekitar sekolah. Namun, realisasi sistem tersebut belum sesuai harapan. Warga menyebutkan bahwa mereka tinggal dalam radius dekat dari kedua sekolah, tetapi tetap tidak mendapat kuota.

Warga Nilai Dialog Tidak Dihiraukan

Salah satu tokoh warga RW 10, Pamulang Barat, mengungkapkan bahwa perwakilan warga telah tiga kali melakukan pertemuan resmi dengan pihak sekolah. Namun, hasilnya belum memberikan solusi yang konkret bagi anak-anak di wilayah mereka.

Berita Menarik Pilihan

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

Kasus Dugaan Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi: Korban Trauma, Proses Hukum Berjalan

“Kami sudah tiga kali berdialog dengan sekolah mengenai jalur domisili, tapi tidak ada hasilnya. Kami kecewa karena sembilan anak kami tidak diterima, padahal rumah kami dekat sekali dengan sekolah,” ungkap salah satu warga, seperti dilansir dari Kompas.com.

Warga juga mengkritisi kurangnya transparansi dan komunikasi dari sekolah maupun pihak terkait. Mereka merasa seolah tidak mendapat ruang untuk menyampaikan aspirasi, meski telah berusaha menempuh jalur yang sesuai.

Menurut informasi dari lapangan, warga menutup jalan menggunakan kursi dan kendaraan roda dua untuk memblokade jalur. Aksi ini dilakukan selama beberapa jam sebelum akhirnya dibuka kembali setelah mediasi.

Penutupan Jalan Ceger Raya sempat mengganggu lalu lintas di sekitar wilayah Pamulang Barat. Beberapa pengendara terpaksa memutar arah untuk mencari jalur alternatif. Pihak kepolisian turun tangan untuk memastikan situasi tetap kondusif.

Jalur Domisili Jadi Sumber Masalah

Kebijakan zonasi dalam sistem SPMB memang telah lama menuai kontroversi. Meski bertujuan untuk mendekatkan akses pendidikan kepada masyarakat sekitar, praktik di lapangan seringkali menimbulkan konflik dan kekecewaan.

Dalam kasus ini, warga RW 10 menilai kriteria domisili belum sepenuhnya dipenuhi oleh sekolah dalam penentuan kuota penerimaan. Mereka berharap sistem zonasi dievaluasi agar benar-benar memprioritaskan warga sekitar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SMA Negeri 6 dan SMP Negeri 4 Tangsel. Warga masih menunggu tanggapan dan solusi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan.

Sejumlah orang tua menyampaikan bahwa anak-anak mereka harus mencari sekolah swasta dengan biaya yang tidak sedikit karena gagal masuk ke sekolah negeri yang lokasinya sangat dekat dari rumah.

Warga berharap pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan memberikan penjelasan terbuka mengenai seleksi jalur domisili dan menyusun perbaikan kebijakan ke depan.

“Kalau memang ada sistem zonasi, kami ingin anak-anak kami yang tinggal dekat sekolah diakomodasi dulu. Jangan sampai yang rumahnya jauh justru diterima lebih dulu,” tambah salah satu warga.

Pemerintah kota diminta segera menindaklanjuti keluhan tersebut agar tidak memicu ketegangan sosial yang lebih luas. Diperlukan komunikasi terbuka antara warga, sekolah, dan pemerintah.

Masyarakat menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk anarkisme, melainkan desakan agar suara mereka didengar. Mereka berjanji tetap menjunjung kedamaian, tetapi menuntut keadilan.

Beberapa tokoh masyarakat dan RT setempat telah berinisiatif memfasilitasi dialog lanjutan yang lebih intensif agar masalah ini tidak berlarut-larut hingga merugikan generasi muda.

Dinas Pendidikan Kota Tangsel diharapkan hadir langsung menemui warga guna memberi klarifikasi, serta menjelaskan mekanisme penerimaan yang lebih transparan dan adil.

Berbagai pihak menyarankan agar Pemkot Tangerang Selatan melakukan audit jalur domisili di kedua sekolah untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran kebijakan zonasi.

Hingga Jumat pagi, warga masih berkumpul membahas tindak lanjut aksi mereka. Mereka juga menyusun surat terbuka kepada wali kota dan DPRD setempat guna mencari solusi yang lebih luas.

Aksi tersebut menjadi simbol kegelisahan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang dianggap belum berpihak pada warga sekitar. Mereka berharap kejadian ini tidak berulang di tahun-tahun mendatang.

Pihak sekolah diminta tidak menutup ruang komunikasi agar warga dapat menyampaikan aspirasi secara tertib tanpa harus menempuh aksi penutupan jalan lagi.

Warga juga berharap agar jalur afirmasi dan domisili benar-benar diprioritaskan untuk mereka yang tinggal dalam radius terdekat, bukan hanya sekadar formalitas di atas kertas.

Pemerintah provinsi Banten sebagai pihak yang menaungi SMA Negeri 6 juga diminta ikut turun tangan agar kebijakan zonasi berlaku adil di seluruh kota/kabupaten, termasuk di Tangerang Selatan.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Sebagai kesimpulan, insiden penutupan jalan oleh warga RW 10 Pamulang Barat menunjukkan adanya ketimpangan antara kebijakan dan implementasi sistem zonasi di lapangan. Warga yang merasa terpinggirkan menuntut perlakuan adil terhadap hak pendidikan anak-anak mereka.

Pemerintah kota perlu segera menanggapi aspirasi warga secara langsung dan transparan untuk mencegah konflik sosial yang lebih besar. Komunikasi dua arah antara pihak sekolah dan warga menjadi kunci dalam penyelesaian masalah ini.

Ke depan, kebijakan zonasi harus ditinjau ulang agar benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar sekolah, terutama di daerah padat seperti Tangerang Selatan. Penyesuaian sistem berbasis data kependudukan bisa menjadi solusi jangka panjang.

Pihak sekolah juga perlu membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar melalui forum komunikasi rutin agar tidak terjadi kesalahpahaman. Penjelasan berkala mengenai prosedur penerimaan dapat mengurangi ketegangan.

Warga diharapkan tetap menjaga ketertiban dan mengutamakan jalur mediasi dalam menyuarakan tuntutan. Aksi damai bisa menjadi pendorong perubahan jika dilakukan dengan tertib dan dilandasi semangat kebersamaan. (*)


 

Tags: PamulangSMA Negeri 6SMP Negeri 4SPMB 2025warga proteszonasi
Post Sebelumnya

FlyJaya Resmi Terbang Perdana dari Halim

Post Selanjutnya

5 Jurusan Kuliah Santai dengan Gaji Besar

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Ilustrasi proses hukum di Polda Jambi. Dua oknum polisi, Bripda Nabil dan Bripda Samson, tengah menjalani sidang kode etik atas dugaan pemerkosaan terhadap remaja perempuan. Pihak korban mendesak hukuman maksimal atas hancurnya masa depan dan cita-cita korban. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Kasus Dugaan Pemerkosaan Libatkan Oknum Polisi di Jambi: Korban Trauma, Proses Hukum Berjalan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Korban mengalami tekanan mental cukup berat. Fokus utama keluarga sekarang adalah pemulihan psikologisnya,” ujar Romiyanto, Jumat (6/2).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat memberikan keterangan dalam konferensi pers Soekarno Runniversary 2026 di Parkir Timur GBK, Jumat (6/2/2026). Pemprov DKI menyambut baik ajang yang memadukan semangat olahraga dengan edukasi nilai-nilai kebangsaan tersebut. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Rayakan Usia Emas, PDIP Gelar Soekarno Run 2026: Ada Beasiswa Pelajar dan Hadiah Spesial

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menilai kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi positif dalam mendorong gaya hidup sehat sekaligus memperkuat...

Personel Polsek Gambir saat memberikan pendampingan kepada Mariame Traore (WNA Prancis) yang ditemukan terlantar di Hall Utara Stasiun Gambir. Mariame kini telah diserahkan ke Kantor Imigrasi Jakarta Pusat di Kemayoran untuk penanganan dokumen dan izin tinggal lebih lanjut. (Foto: Humas Polres Jakarta Pusat/Ekoin.co)

Delapan Hari Terlantar di Stasiun Gambir, WNA Prancis Diamankan Polisi Akibat Visa ‘Expired’ dan Kehabisan Uang

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Basuki mengatakan, pengamanan terhadap warga negara Asing bermula saat anggota Polsek Gambir...

Post Selanjutnya
5 Jurusan Kuliah Santai dengan Gaji Besar

5 Jurusan Kuliah Santai dengan Gaji Besar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.