Jakarta, EKOIN.CO – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) meluncurkan program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Invitasi Strategis. Program ini menekankan pada revitalisasi dan dekontaminasi fasilitas nuklir nasional secara menyeluruh.
Peluncuran ini disampaikan dalam acara sosialisasi DBR Platform & LPDP Targeted di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Selasa (1/7). Kegiatan tersebut dihadiri oleh akademisi, peneliti, serta perwakilan industri.
Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menjelaskan bahwa program RIIM merupakan inisiatif transformasi jangka panjang untuk memperkuat kapabilitas nasional dalam bidang ketenaganukliran. “RIIM bukan hanya program riset biasa. Ini adalah bentuk transformasi strategis,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan RIIM bersifat terstruktur dan kolaboratif, dengan menyatukan riset teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan infrastruktur nuklir. Seluruh kegiatan ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2028.
Fokus Program Strategis RIIM
Dalam paparannya, Syaiful memaparkan lima fokus utama RIIM. Pertama, dekontaminasi dan pengelolaan limbah radioaktif fasilitas lama, termasuk eks-INUKI. Kedua, revitalisasi Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG-GAS).
Fokus ketiga mencakup pengembangan ulang fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir. Selanjutnya, pembangunan fasilitas produksi radioisotop DECY-13 dan C-30 untuk keperluan medis dan industri.
Fokus kelima adalah pengembangan teknologi reaktor generasi IV, khususnya Reaktor PELUIT tipe HTGR. Inovasi ini termasuk pengembangan bahan bakar triso dan studi keselamatan berbasis reaktor baru.
Pendanaan dan Keterlibatan Masyarakat
Syaiful juga menjelaskan bahwa pendanaan RIIM bersifat fleksibel dan terbuka untuk berbagai kebutuhan teknis. Namun, anggaran hanya diperuntukkan untuk kegiatan yang telah disetujui BRIN.
Kegiatan ini juga mengikutsertakan masyarakat lokal dalam proses riset lapangan. “Kami ingin memastikan kegiatan riset berdampak positif bagi masyarakat sekitar fasilitas,” katanya.
Selain itu, program ini ditopang oleh strategi penguatan SDM melalui pelatihan dan keterlibatan mahasiswa dalam proyek riset jangka panjang.
Kemitraan dan Penguatan Talenta Riset
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Direktorat Manajemen Talenta BRIN, Bakhtiardi Putra Siswinanda, menyampaikan bahwa BRIN mendukung riset lewat skema beasiswa LPDP dan Degree by Research.
“BRIN membuka peluang kolaborasi terbuka untuk periset eksternal melalui mekanisme open call for collaboration,” jelasnya. Mahasiswa pascasarjana juga diberi ruang untuk terlibat langsung melalui riset berbasis disertasi.
Lebih lanjut, BRIN bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga tengah menyelenggarakan pelatihan PGEC tentang keselamatan radiasi bagi negara-negara Asia Tenggara.
Ekosistem Nuklir Modern dan Aman
Pelatihan PGEC ini memperkuat kapasitas nasional dan mendorong pertukaran keahlian regional. Program ini juga mendukung budaya keselamatan radiasi yang lebih kuat di tingkat Asia.
Dengan pendekatan riset strategis, kolaborasi internasional, dan pelibatan masyarakat, BRIN berharap RIIM dapat menjadi pilar penting pembangunan ketenaganukliran nasional ke depan.
Semua pihak, baik dari sektor akademik, industri, hingga masyarakat, diajak untuk terlibat aktif dalam program RIIM. Informasi lebih lanjut tersedia di laman resmi BRIN.
BRIN melalui ORTN kini menyiapkan lompatan strategis dalam pengembangan teknologi nuklir nasional. Melalui program RIIM, berbagai fasilitas nuklir lama akan dihidupkan kembali dan dioptimalkan untuk riset serta kebutuhan industri.
Fokus utama meliputi dekontaminasi, revitalisasi reaktor, produksi radioisotop, hingga pengembangan reaktor generasi baru. Inisiatif ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga melibatkan masyarakat dan penguatan talenta lokal.
Kolaborasi internasional seperti dengan IAEA dan pendanaan fleksibel menjadi fondasi dalam mendorong kemajuan ekosistem nuklir Indonesia. Semua pihak diajak turut serta dalam membangun masa depan energi dan riset yang aman, modern, dan berdaya saing global.(*)





