Jakarta, EKOIN.CO – Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan tersebut bertajuk Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan melalui Seni Pertunjukan Tradisional Macapat. Inisiatif ini menjadi bentuk konkret fakultas dalam menjembatani nilai-nilai tradisi dengan tantangan zaman modern.
Selama empat bulan, sejak Mei 2025, tim dosen Fakultas Filsafat UGM aktif melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari observasi lapangan, diskusi kelompok terfokus (FGD), hingga penyusunan modul pendidikan berbasis seni tradisional.
Tim pengabdian terdiri dari Prof. Dr. Lasiyo, M.A., M.M., Drs. Budisutrisna, M.Hum., dan Dela Khoirul Ainia, S.Fil., M.Phil. Mereka melibatkan masyarakat secara langsung dalam kegiatan seni, termasuk pementasan macapat.
“Cara pandang masyarakat, terutama generasi muda yang mengenyam pendidikan tetapi kurang dilandasi dengan kebanggaan sebagai suatu masyarakat yang memiliki budaya sendiri, sering menganggap budaya luar lebih tinggi daripada budayanya sendiri,” ungkap Prof. Lasiyo, Sabtu (5/7).
Macapat sebagai Medium Pendidikan Karakter
Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng kelompok seni macapat “Puspitasari” yang telah aktif sejak 2009. Kelompok ini rutin tampil dalam panggung budaya, radio komunitas, hingga hajatan warga.
Paguyuban tersebut bahkan pernah memecahkan rekor MURI melalui pementasan macapat selama tiga hari tanpa henti, menunjukkan komitmen mereka terhadap pelestarian budaya lokal.
Namun, semangat itu menghadapi tantangan besar berupa minimnya minat generasi muda terhadap seni macapat. Kondisi ini mendorong keterlibatan UGM untuk membangun sistem pembelajaran yang menarik dan kontekstual.
Fakultas Filsafat UGM merespons dengan menyusun modul pendidikan yang bisa digunakan dalam berbagai skema pembelajaran. Harapannya, macapat bisa menjadi sarana refleksi dan pembentukan karakter.
“Salah satu bentuk nyatanya adalah penyusunan modul pendidikan berkelanjutan melalui seni pertunjukan tradisional macapat, yang dirancang untuk dapat digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran,” lanjut Lasiyo.
Menjembatani Generasi, Menjaga Kearifan
Penyusunan modul tersebut menjadi luaran utama dari kegiatan pengabdian. Selain itu, diterbitkan pula publikasi ilmiah dan perjanjian kerja sama formal antara Fakultas Filsafat UGM dan Puspitasari.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat jaringan pendidikan budaya serta memberi akses yang luas bagi sekolah dan komunitas untuk menggunakan materi yang telah disusun.
Dengan dukungan komunitas dan akademisi, keberlangsungan seni tradisional seperti macapat memiliki harapan untuk terus tumbuh dan tidak tergerus arus modernitas.
Lasiyo menekankan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas komunitas seni, tetapi juga lembaga pendidikan, yang harus aktif mendorong nilai-nilai lokal ke dalam sistem pembelajaran.
Kegiatan pengabdian Fakultas Filsafat UGM di Pandak membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional bisa menjadi instrumen strategis untuk pendidikan berkelanjutan. Seni macapat tak hanya dijaga, tetapi juga dimaknai ulang sebagai medium edukatif yang mampu membentuk karakter generasi penerus.
Kolaborasi dengan kelompok macapat Puspitasari memperlihatkan bahwa kekuatan budaya lokal terletak pada konsistensi dan keterlibatan lintas sektor. Pendampingan yang dilakukan oleh akademisi bukan sekadar formalitas, melainkan dukungan jangka panjang melalui riset, modul, dan kemitraan.
Dengan strategi yang tepat, pendidikan berbasis kearifan lokal dapat memberi arah baru dalam sistem pembelajaran nasional. Bukan hanya mengenalkan budaya, tetapi menghidupkan kembali rasa bangga dan identitas masyarakat terhadap akar tradisinya.(*)





