Doha EKOIN.CO – Pemerintah Israel mengirimkan delegasi resmi ke Qatar untuk melangsungkan perundingan terkait gencatan senjata di Gaza serta pembebasan sandera, setelah menerima undangan resmi dari mediator. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan penilaian situasi terbaru.
Delegasi Israel akan membahas proposal gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya telah disetujui oleh pihak Israel dan didukung Amerika Serikat. Hamas menyampaikan tanggapan positif terhadap tawaran tersebut pada Jumat malam, dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan negosiasi lebih lanjut.
Menurut laporan BBC, Hamas mengajukan sejumlah amandemen terhadap tawaran itu, di antaranya jaminan bahwa permusuhan tidak akan dilanjutkan apabila negosiasi untuk gencatan senjata permanen gagal mencapai kesepakatan. Hamas juga menuntut jaminan bahwa bantuan kemanusiaan dikelola sepenuhnya oleh PBB dan mitra-mitranya.
Di lapangan, kekerasan masih berlangsung. Badan Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas mengonfirmasi bahwa setidaknya 35 warga Palestina tewas dalam serangan Israel pada Sabtu, termasuk dokter dan tiga anaknya di tenda pengungsi wilayah al-Mawasi. Serangan juga melukai dua pekerja kemanusiaan dari organisasi asal Amerika, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), di Khan Younis.
Sebelumnya, pihak Israel menilai beberapa perubahan yang diinginkan Hamas terhadap draf kesepakatan tidak dapat diterima. Namun, dengan pertimbangan situasi terkini, Netanyahu mengarahkan delegasi untuk menerima undangan pembicaraan dan melanjutkan negosiasi berdasarkan proposal Qatar.
“Tim negosiasi akan pergi besok,” tulis pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Israel yang dikutip dari BBC, Minggu (6/7/2025). Pemerintah Israel tetap menyatakan fokus utama pada pengembalian sandera.
Usulan Penarikan Pasukan dan Distribusi Bantuan
Proposal yang didukung Amerika Serikat mencakup pembebasan 10 sandera Israel yang masih hidup serta pengembalian jenazah 18 lainnya. Sebagai imbalannya, ratusan tahanan Palestina akan dibebaskan dari penjara-penjara Israel.
Di sisi lain, Hamas menuntut agar pasukan Israel mundur ke posisi sebelum pecahnya serangan terakhir pada Maret lalu. Mereka juga meminta jaminan dari Amerika Serikat agar Israel tidak melanjutkan operasi militer darat dan udara meskipun gencatan senjata tidak berkembang menjadi permanen.
Rencana tersebut juga mencantumkan penyaluran bantuan kemanusiaan yang memadai ke Gaza dengan pengawasan langsung dari PBB dan Komite Palang Merah Internasional. Hamas bersikeras agar distribusi bantuan dilakukan tanpa campur tangan Israel.
Mediator internasional dalam kesepakatan ini menjanjikan bahwa negosiasi yang serius akan dimulai sejak hari pertama gencatan, dengan opsi memperpanjang masa damai jika diperlukan.
Penolakan Kabinet Sayap Kanan Israel
Meski proses negosiasi mulai dijalankan, perpecahan muncul dari dalam kabinet Israel. Netanyahu menyatakan bahwa perang tidak akan berakhir sampai semua sandera dibebaskan dan kemampuan militer serta pemerintahan Hamas dihancurkan.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dari kubu sayap kanan menegaskan penolakannya terhadap kesepakatan tersebut. Ia menyerukan agar Israel menguasai seluruh wilayah Gaza, menghentikan total bantuan kemanusiaan, dan mendorong emigrasi warga Palestina.
Netanyahu mendapat tekanan dari kalangan ekstrem kanan agar tidak melunak terhadap Hamas, meski di sisi lain masyarakat Israel mendesak pembebasan sandera secepatnya.
Sejumlah analis menilai bahwa upaya gencatan senjata selama dua bulan ke depan berpotensi menjadi jalan menuju solusi permanen jika didukung semua pihak. Namun, skeptisisme tetap tinggi di tengah ketegangan politik dan militer yang terus memanas.
Sementara itu, Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Israel telah memenuhi “kondisi yang diperlukan” untuk mencapai kesepakatan sementara. Dukungan ini dinilai krusial dalam memfasilitasi proses perundingan di Qatar.
Para pengamat internasional memandang pertemuan di Qatar sebagai momen penting dalam upaya diplomatik menyelamatkan nyawa warga sipil dan menghentikan penderitaan akibat konflik berkepanjangan.
Negosiasi ini merupakan kelanjutan dari proposal sebelumnya yang gagal dicapai pada bulan Maret lalu, setelah gencatan senjata terakhir runtuh dan Israel melanjutkan ofensif ke wilayah Gaza.
PBB dan Komite Palang Merah telah menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi distribusi bantuan serta mendukung proses negosiasi, sesuai dengan prinsip kemanusiaan yang dijunjung dalam konflik bersenjata.
Pihak Hamas belum memberikan jadwal pasti terkait pembicaraan lanjutan, tetapi menyambut baik keputusan Israel mengirim delegasi ke Qatar, menunjukkan adanya ruang terbuka untuk dialog lanjutan.
Jika negosiasi berhasil, ini dapat menjadi salah satu perjanjian paling penting dalam konflik Israel-Palestina sejak tahun-tahun terakhir. Namun, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada komitmen semua pihak.
,perkembangan negosiasi di Qatar membuka peluang nyata menuju penghentian konflik bersenjata di Gaza. Namun, kesepakatan tidak akan tercapai tanpa konsesi dari kedua belah pihak, terutama terkait penarikan pasukan dan jaminan kemanusiaan.
dari berbagai pihak internasional agar Israel dan Hamas mengutamakan keselamatan warga sipil patut dipertimbangkan secara serius. Pembicaraan yang berlangsung harus fokus pada hasil konkret dan bukan sekadar retorika diplomatik.
Penting juga agar komunitas internasional terus memberikan tekanan konstruktif kepada pihak-pihak yang bertikai agar tidak melanjutkan kekerasan. Dukungan terhadap inisiatif perdamaian harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata.
Selain itu, pengawasan distribusi bantuan kemanusiaan perlu dilakukan secara transparan agar tidak menjadi alat politik oleh kedua belah pihak. Ketegasan lembaga internasional sangat diperlukan dalam hal ini.
Jika semua pihak mau berkompromi, proses negosiasi ini bisa menjadi titik balik bagi penderitaan di Gaza dan membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





