Gaza EKOIN.CO – Strategi militer yang diterapkan oleh faksi-faksi perlawanan di Gaza, termasuk Brigade Qassam, menunjukkan efektivitas tinggi meskipun keterbatasan sumber daya dan jumlah personel. Dalam menghadapi operasi militer berskala besar, kelompok ini mengandalkan strategi tidak langsung yang menyulitkan pasukan konvensional.
Konsep strategi tidak langsung menekankan pada pentingnya menciptakan kebebasan manuver bagi pasukan kecil sambil membatasi ruang gerak musuh, baik secara fisik maupun psikologis. Pendekatan ini diuraikan oleh Gunilla Eriksson dan Ulrika Patterson dalam buku Operasi Khusus dari Perspektif Pasukan Kecil, yang ditulis di bawah naungan Departemen Studi Militer Universitas Nasional Swedia untuk Ilmu Pertahanan.
Para penulis menjelaskan bahwa dalam strategi ini, kemenangan tidak harus dicapai melalui kekuatan militer konvensional, melainkan dengan memperlemah musuh secara bertahap. Taktik yang diadopsi bertujuan membuat konflik menjadi sangat mahal secara politik, ekonomi, dan militer bagi lawan.
Taktik Fleksibel dan Mobilitas Tinggi
Salah satu metode utama yang digunakan adalah “metode erosi”. Pendekatan ini dilakukan melalui serangan-serangan kecil yang terus-menerus, seperti penyergapan, sabotase, serta serangan mendadak terhadap konvoi dan pos militer. Setelah melakukan serangan, pasukan dengan cepat menghilang dari medan pertempuran, memanfaatkan pengetahuan medan dan jalur tersembunyi.
Dalam konteks ini, penyergapan menjadi alat yang sangat penting. Serangan semacam ini dilancarkan secara tiba-tiba dan ditarik kembali secepat mungkin, sering kali menggunakan medan perkotaan, pegunungan, bahkan terowongan bawah tanah.
Keberhasilan strategi ini sangat dipengaruhi oleh mobilitas tinggi serta kemampuan adaptasi pasukan terhadap perubahan situasi di lapangan. Taktik gerilya dan fleksibilitas menjadi kunci dalam menghadapi kekuatan besar yang mengandalkan persenjataan canggih.
Peperangan semacam ini dikategorikan sebagai “perang tak beraturan”. Tidak seperti perang konvensional, perang tak beraturan tidak bergantung pada tank, pesawat tempur, atau formasi militer besar. Sebaliknya, ia mengandalkan unit-unit kecil yang lincah dan tersebar.
Pelemahan Psikologis Melalui Operasi Mendadak
Selain itu, faksi perlawanan di Gaza juga menerapkan strategi perang psikologis. Serangan mendadak dan tidak terduga dirancang untuk menciptakan ketegangan dan rasa takut di barisan musuh, yang pada gilirannya mengganggu moral serta stabilitas mental pasukan lawan.
Dengan pendekatan ini, kelompok kecil seperti Brigade Qassam mampu menciptakan efek besar di medan pertempuran meski tanpa keunggulan jumlah dan peralatan. Serangan mereka diarahkan untuk merusak logistik, memutus komunikasi, serta memperlambat gerak maju militer musuh.
Gunilla Eriksson dan Ulrika Patterson menjelaskan bahwa keberhasilan pasukan kecil sangat bergantung pada kemampuan mereka mempertahankan inisiatif dan menyerang di titik-titik lemah musuh. Ini sekaligus menunjukkan bahwa strategi militer modern tidak hanya bergantung pada kekuatan konvensional, tetapi juga pada kecerdikan taktik.
Faktor moral juga turut memainkan peran besar. Pasukan perlawanan yang memiliki semangat tinggi dan dukungan masyarakat lokal bisa lebih tangguh menghadapi tekanan berkepanjangan dibandingkan pasukan reguler dengan dukungan yang terbatas dari publiknya sendiri.
Keuntungan lainnya adalah ketergantungan yang rendah terhadap logistik dan struktur komando besar. Pasukan kecil bisa bertindak lebih mandiri dan cepat menyesuaikan diri terhadap medan dan kondisi perang yang berubah-ubah.
Efektivitas taktik ini dapat terlihat dalam ketahanan faksi perlawanan di Gaza, yang mampu bertahan meski menghadapi gempuran bertubi-tubi dari militer yang jauh lebih kuat. Mereka menciptakan ancaman yang terus-menerus terhadap pasukan lawan melalui pola serangan tidak terduga dan penyamaran yang cermat.
Dalam praktiknya, faksi-faksi ini juga menggunakan terowongan bawah tanah sebagai jalur mobilitas, tempat perlindungan, serta sarana peluncuran serangan. Hal ini semakin memperkuat fleksibilitas taktik yang mereka terapkan di tengah tekanan militer berat.
Strategi tidak langsung ini pada dasarnya membatasi musuh dari memperoleh kemenangan cepat. Ketika perang menjadi terlalu mahal dan memakan waktu, maka tekanan internasional, kelelahan pasukan, dan kerugian ekonomi dapat mendorong pihak kuat untuk mundur atau melakukan negosiasi.
Situasi di Gaza menjadi contoh nyata dari bagaimana pasukan kecil yang terorganisasi dan menguasai medan dapat menghambat dominasi militer konvensional. Walau tanpa tank, pesawat tempur, atau sistem senjata canggih, mereka tetap menjadi ancaman yang sulit dilumpuhkan sepenuhnya.
Kondisi geografis yang padat dan kompleks, seperti wilayah urban serta jaringan bawah tanah, memberi keuntungan tambahan kepada pasukan kecil dalam melancarkan taktik penyergapan dan penghindaran.
Meskipun demikian, strategi semacam ini membutuhkan kesiapan fisik dan mental tinggi dari setiap personel. Pelatihan, disiplin, serta pemahaman strategi lapangan menjadi bagian penting dalam keberhasilan operasi-operasi taktis mereka.
Para analis meyakini bahwa strategi ini akan terus digunakan dalam konflik-konflik masa depan, terutama ketika ada ketidakseimbangan kekuatan antara pihak-pihak yang terlibat. Model perlawanan asimetris seperti di Gaza menjadi rujukan penting dalam studi pertahanan global saat ini.
Faktor teknologi seperti komunikasi cepat dan sistem pengintaian mini juga meningkatkan efektivitas serangan kecil yang tepat sasaran. Dengan informasi lapangan yang akurat, pasukan kecil bisa menyesuaikan waktu serangan dan titik sergap secara efisien.
Model perang ini telah mengubah paradigma konflik kontemporer, menjadikan perlawanan kecil sebagai tantangan utama militer konvensional. Perubahan tersebut memaksa banyak angkatan bersenjata dunia untuk menyesuaikan strategi dan doktrin mereka agar lebih adaptif terhadap dinamika peperangan tidak konvensional.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Konflik berkepanjangan seperti di Gaza menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap strategi perang asimetris. Dalam kondisi ketimpangan kekuatan, pemanfaatan strategi tidak langsung bisa menjadi satu-satunya cara bertahan yang efektif bagi kelompok kecil.
Penerapan metode erosi yang konsisten memungkinkan lawan kehilangan inisiatif. Serangan yang tak terduga dan berulang menciptakan tekanan psikologis yang signifikan, memperlambat aksi ofensif musuh.
Dengan menghindari konfrontasi terbuka, pasukan kecil meminimalkan kerugian sekaligus menjaga kontinuitas perlawanan. Ini memperpanjang umur konflik sambil menurunkan efisiensi operasi musuh.
Dukungan masyarakat lokal menjadi pilar penting dalam keberhasilan taktik ini. Lingkungan yang akrab dan bersimpati mempermudah pergerakan serta penyamaran pasukan kecil dari pantauan lawan.
strategi militer modern tidak lagi semata-mata soal superioritas teknologi dan jumlah personel. Perang tak beraturan menuntut kecerdasan taktis, adaptasi lingkungan, serta keunggulan moral untuk mempertahankan posisi dalam konflik berkepanjangan. (*)





