Teheran EKOIN.CO – Iran mengklaim memiliki kapasitas militer yang cukup besar untuk meluncurkan serangan harian terhadap Israel selama dua tahun penuh, menyusul konflik bersenjata yang terjadi sejak pertengahan Juni. Pernyataan ini disampaikan oleh para pejabat tinggi militer Iran kepada kantor berita Mehr dan dikutip Anadolu, Selasa, 8 Juli 2025.
Mayor Jenderal Ebrahim Jabbari, penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan bahwa kekuatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh. “Angkatan bersenjata kami berada pada puncak kesiapannya,” ujarnya seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Ia menambahkan bahwa fasilitas dan persenjataan Iran sangat besar. “Saat ini, gudang, pangkalan rudal bawah tanah, dan fasilitas yang kami miliki sangat besar sehingga kami belum menunjukkan sebagian besar kemampuan pertahanan dan rudal efektif kami,” katanya.
Jabbari menyebut bahwa bahkan dalam skenario perang penuh dengan Israel dan Amerika Serikat, Iran tetap mampu meluncurkan rudal setiap hari selama dua tahun tanpa kehabisan stok.
Iran Siapkan Serangan Dua Tahun Penuh
Pernyataan serupa juga disampaikan Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat militer utama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer utama Iran masih belum digunakan secara penuh.
“Zionis tahu bahwa sebagian pasukan kami, seperti Angkatan Laut dan Pasukan Quds, belum memasuki medan tempur, bahkan angkatan darat pun belum ikut serta,” ujar Safavi dalam wawancara dengan kantor berita Mehr.
Safavi juga mengungkapkan bahwa Iran telah memproduksi ribuan rudal dan drone yang disimpan dengan pengamanan ketat. “Sejauh ini, kami telah memproduksi beberapa ribu rudal dan drone, dan tempatnya aman,” katanya.
Kedua pernyataan dari pejabat tinggi militer Iran tersebut mempertegas kesiapan negara itu untuk terlibat dalam konfrontasi militer jangka panjang jika diperlukan.
Iran secara terbuka menyatakan bahwa semua infrastruktur militer pentingnya, termasuk pangkalan bawah tanah dan lokasi peluncuran rudal, berada dalam kondisi aman dan tidak mudah dihancurkan oleh serangan musuh.
Konflik Semakin Memanas Sejak Juni
Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat tajam sejak 13 Juni 2025, setelah serangan udara Israel menghantam berbagai fasilitas militer, nuklir, dan sipil Iran. Serangan tersebut menewaskan setidaknya 935 orang.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa sebanyak 5.332 orang terluka dalam rentetan serangan dari militer Israel tersebut, yang disebut oleh Iran sebagai agresi terang-terangan.
Iran merespons dengan melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke berbagai kota di Israel. Serangan ini menewaskan sedikitnya 29 warga Israel dan menyebabkan lebih dari 3.400 lainnya terluka.
Universitas Ibrani Yerusalem menyampaikan data korban luka dan tewas di wilayah Israel yang terkena dampak langsung dari serangan balasan Teheran.
Setelah rangkaian serangan dan serangan balasan tersebut, Amerika Serikat turun tangan untuk menengahi gencatan senjata antara kedua pihak. Kesepakatan gencatan senjata resmi mulai berlaku pada 24 Juni 2025.
Namun, pernyataan-pernyataan dari para petinggi militer Iran menunjukkan bahwa ketegangan masih belum benar-benar reda dan potensi konfrontasi kembali masih terbuka.
Iran menegaskan bahwa semua bentuk provokasi dari pihak musuh akan dibalas dengan kekuatan penuh, termasuk penggunaan sistem senjata strategis yang belum sepenuhnya diaktifkan.
Israel hingga saat ini belum merespons langsung pernyataan terbaru dari Jabbari dan Safavi, namun terus memperkuat pertahanan di wilayah-wilayah strategisnya.
Pihak Iran menyebut bahwa serangan balasan berikutnya, jika diperlukan, akan lebih terkoordinasi dan melibatkan pasukan-pasukan elite yang belum digerakkan.
Iran juga menyatakan telah menempatkan sejumlah besar drone serang di lokasi tersembunyi dan siap digunakan kapan saja sesuai perintah tertinggi.
Kantor berita Mehr melaporkan bahwa rudal-rudal buatan dalam negeri Iran kini memiliki jangkauan dan presisi yang meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Iran mengklaim bahwa sanksi internasional tidak menghambat pengembangan industri militernya, justru memperkuat ketahanan dan kemandirian dalam produksi senjata.
Teheran menambahkan bahwa militernya telah bertransformasi menjadi kekuatan yang tidak hanya defensif tetapi juga ofensif dengan kemampuan operasional jangka panjang.
Sebagai tambahan, Iran menyebut kekuatan Angkatan Laut dan Pasukan Quds berada dalam posisi strategis untuk mengintervensi secara langsung jika situasi mengharuskan.
Iran juga memberikan peringatan bahwa jika provokasi kembali dilanjutkan oleh Zionis atau pihak ketiga seperti Amerika Serikat, maka mereka siap membalas secara menyeluruh.
Dengan kemampuan rudal dan drone yang diklaim sangat besar, Iran menganggap dirinya mampu menjaga kedaulatan dan memberikan efek jera kepada lawan-lawannya.
Iran tidak memberikan rincian jumlah pasti rudal dan drone yang dimiliki, namun menyatakan jumlah tersebut memadai untuk menyerang setiap hari selama dua tahun berturut-turut.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Sebagai langkah strategis ke depan, penting bagi komunitas internasional untuk mendesak kedua pihak agar menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Kecenderungan untuk saling memamerkan kekuatan militer hanya akan memperpanjang krisis dan menambah jumlah korban jiwa sipil yang tak berdosa.
Selain itu, negara-negara kawasan perlu meningkatkan peran sebagai penengah agar situasi tidak kembali memburuk, terutama dengan adanya potensi eskalasi yang sangat besar dari kekuatan bersenjata Iran.
Diperlukan pendekatan komprehensif untuk menciptakan keamanan regional yang lebih stabil, dengan dukungan dari lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan OKI dalam proses mediasi.
Di sisi lain, upaya transparansi dan akuntabilitas terkait dampak serangan terhadap warga sipil harus ditegakkan agar pelanggaran hukum internasional tidak terus berulang.
Krisis seperti ini menunjukkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah masih rapuh. Oleh karena itu, solusi damai dan penghormatan terhadap hukum internasional adalah langkah terbaik untuk mencegah konflik berulang.(*)





