Jakarta, EKOIN.CO – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat langkah strategis Indonesia dalam pengembangan teknologi reaktor nuklir masa depan melalui kerja sama dengan Institute of Nuclear Energy Technology (INET), Tsinghua University, Tiongkok. Kolaborasi ini tercermin dalam Joint Laboratory on High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR), sebagai bagian dari program Belt and Road Initiative (BRI).
Pertemuan antara Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN dan perwakilan Kedutaan Besar Tiongkok berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Selasa (8/7). Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan pentingnya kerja sama dalam pengembangan kapasitas dan transfer teknologi reaktor HTGR.
“Kerja sama ini telah memberikan banyak manfaat nyata bagi Indonesia. Kita belajar dari sisi desain reaktor, analisis keselamatan, pengembangan simulator, bahan bakar, hingga penilaian kesiapan industri pendukung HTGR,” ujar Topan Setiadipura, Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN.
Delegasi Tiongkok datang dalam rangka peninjauan teknis atas implementasi kerja sama yang sedang berjalan. Pihak INET juga telah mengajukan proposal lanjutan kepada Pemerintah Tiongkok guna memperdalam proyek kolaboratif ini di masa depan.
Transisi kerja sama juga mencakup pembahasan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis dan program riset bersama. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem nuklir yang tangguh dan berdaya saing.
Perluasan Teknologi dan SDM
Topan menegaskan bahwa kerja sama yang dibangun saat ini berpotensi untuk dikembangkan lebih luas, tidak terbatas pada teknologi HTGR saja. Ia menekankan peluang pengembangan kerja sama pada jenis teknologi nuklir lain, seperti Pressurized Water Reactor (PWR).
“Kami memandang ini sebagai kerja sama yang strategis dalam kerangka capacity building. Karena itu kami terbuka untuk melanjutkan program ini, bahkan memperluasnya tidak hanya pada HTGR, tetapi juga teknologi PLTN yang lebih umum seperti PWR,” jelas Topan.
Sementara itu, Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menambahkan bahwa kerja sama ini bukan sekadar hubungan teknis, melainkan berperan besar dalam menyusun kesiapan nasional menghadapi masa depan energi nuklir.
“Yang tak kalah penting, kolaborasi ini membuka ruang luas untuk penguatan kapasitas sumber daya manusia—melalui program pelatihan, riset bersama, dan pertukaran pengetahuan. Pengembangan SDM adalah fondasi utama untuk membangun kemandirian teknologi nuklir Indonesia ke depan,” tegasnya.
Dengan pendekatan dua arah, kolaborasi BRIN-INET diyakini akan menghasilkan dampak sistemik pada kemampuan nasional dalam menghadapi kompleksitas teknologi tinggi yang berkembang pesat.
Dukungan Inisiatif Global
Sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road yang dicanangkan Pemerintah Tiongkok, proyek ini mencerminkan semakin terbukanya peluang kerja sama ilmiah transnasional. BRIN menilai keikutsertaan Indonesia dalam proyek ini memperkuat posisi strategis Indonesia di tataran global.
Menurut keterangan BRIN, keberlanjutan proyek ini juga didorong oleh kesiapan Indonesia dalam menyerap dan mengadaptasi teknologi mutakhir melalui skema kerja sama internasional yang inklusif dan jangka panjang.
Pihak BRIN juga menyampaikan bahwa keterlibatan dalam proyek HTGR tidak hanya memperkuat kompetensi nasional, tetapi juga memberikan dasar kuat bagi pengembangan kebijakan energi berbasis nuklir yang aman dan berkelanjutan.
Kolaborasi BRIN dan INET dari Tsinghua University dalam pengembangan HTGR adalah bagian penting dari upaya Indonesia memperkuat riset nuklir nasional. Proyek ini tak hanya menyasar penguasaan teknologi tinggi, tetapi juga menjadi wahana pengembangan SDM unggul di sektor energi.
Melalui skema kerja sama dua arah dan pendekatan jangka panjang, Indonesia memperoleh akses terhadap praktik terbaik dan pengetahuan mutakhir dari mitra internasional. Ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi transisi energi dan menyiapkan masa depan industri nuklir nasional.
Komitmen BRIN dalam penguatan kapasitas ilmiah dan kesiapan teknologi menunjukkan bahwa kerja sama semacam ini bukan sekadar simbolik, melainkan instrumen nyata dalam membangun ketahanan dan kemandirian bangsa dalam bidang teknologi nuklir masa depan.(*)





