Pyongyang ,EKOIN.CO – Korea Utara dilaporkan telah meningkatkan produksi senjata kimia sebagai bagian dari strategi militer utamanya. Rezim Kim Jong-un menganggap senjata kimia sebagai bagian penting dari sistem pencegahan perang dan siap menggunakannya lebih dahulu daripada senjata nuklir dalam situasi konflik berskala penuh.
Informasi ini terungkap dari dokumen militer internal yang menyebutkan bahwa senjata kimia kini dianggap sebagai “cara tertinggi untuk merespons segera sebelum penggunaan senjata nuklir”. Tingkat kepentingannya bahkan disebut terus meningkat secara bertahap dalam struktur pertahanan negara tersebut.
Sebuah sumber tinggi Korea Utara, seperti dikutip oleh Daily NK, mengungkapkan bahwa senjata kimia sudah diklasifikasikan sebagai alat strategis utama. Negara itu juga dikatakan telah memperluas sistem penelitian, pengembangan, dan produksinya secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir.
“Senjata kimia diklasifikasikan sebagai senjata yang dapat digunakan dan merupakan cara paling realistis dalam persiapan untuk perang skala penuh,” ujar sumber itu. Dia juga menambahkan bahwa pihak berwenang telah menetapkan prioritas tinggi terhadap pengembangan senjata kimia ini.
Senjata Kimia Jadi Strategi Utama Korea Utara
Berdasarkan laporan tersebut, Korea Utara percaya bahwa senjata kimia dapat digunakan untuk melumpuhkan fasilitas militer dan pusat komando lawan secara cepat, jauh sebelum mereka harus mengandalkan persenjataan nuklir.
Pernyataan itu dikuatkan oleh laporan Daily NK pada Kamis (10/7/2025) yang menyatakan bahwa senjata kimia dipandang sebagai strategi realistis untuk menghadapi ancaman nyata dalam waktu cepat. Rezim di Pyongyang juga melihat senjata ini sebagai bentuk dominasi awal yang bisa mengganggu strategi musuh.
Senjata kimia dianggap memberikan efek langsung dalam medan tempur karena kemampuannya melumpuhkan pasukan lawan, sementara penggunaan senjata nuklir sering kali membutuhkan eskalasi konflik yang jauh lebih besar dan bersifat destruktif masif.
Menurut sumber tersebut, Korea Utara tidak hanya membangun persediaan, tetapi juga mengembangkan fasilitas khusus untuk mempercepat proses produksi. Perkembangan ini diyakini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Kim Jong-un Prioritaskan Pengembangan Produksi
Langkah agresif dalam pengembangan senjata kimia menunjukkan adanya perubahan dalam doktrin militer Korea Utara. Jika sebelumnya nuklir adalah pilihan utama, kini senjata kimia mulai ditempatkan di garis depan strategi pertahanan mereka.
Dokumen yang bocor menunjukkan bahwa Pyongyang menganggap hanya dengan kepemilikan senjata kimia, pihak musuh akan berpikir dua kali sebelum menyerang. Hal itu dianggap sebagai bentuk pencegah yang kuat sebelum konflik pecah.
Perkembangan ini juga menjadi sinyal bahwa rezim Kim Jong-un tengah menyusun ulang peta kekuatan militernya untuk meningkatkan daya gempur dan fleksibilitas dalam merespons ancaman.
Sumber Daily NK menyebutkan bahwa sebagian besar fasilitas pengembangan senjata kimia disamarkan di balik laboratorium sipil dan pabrik industri umum agar tidak terdeteksi oleh pengawasan internasional.
Selain itu, beberapa fasilitas yang berlokasi di wilayah pedalaman dikabarkan dilengkapi dengan sistem keamanan tinggi dan hanya diakses oleh personel tingkat elit dari kalangan militer dan ilmuwan.
Peningkatan sistem produksi ini juga disinyalir menjadi bagian dari agenda pertahanan yang lebih luas menjelang pelatihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, yang biasanya memicu ketegangan di kawasan.
Ancaman Global dan Ketegangan Regional
Dengan pernyataan terbaru ini, Korea Utara semakin mempertegas posisinya dalam mengembangkan senjata pemusnah massal. Tidak hanya nuklir, tetapi juga senjata kimia kini menjadi fokus penting.
Langkah ini tentu mengundang kekhawatiran dari banyak negara, terutama tetangga terdekatnya seperti Korea Selatan dan Jepang, yang selama ini menjadi target peringatan Pyongyang dalam latihan militernya.
Penggunaan senjata kimia sangat dilarang dalam hukum internasional, terutama dalam Konvensi Senjata Kimia yang telah diratifikasi oleh sebagian besar negara. Namun, Korea Utara diketahui belum menandatangani perjanjian tersebut.
Oleh karena itu, langkah mereka tidak secara langsung melanggar konvensi tersebut, tetapi tetap menjadi isu serius yang bisa memperburuk ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea.
Seiring dengan meningkatnya kemampuan dan jumlah senjata kimia yang dimiliki, para pengamat menilai bahwa posisi Korea Utara dalam negosiasi internasional bisa menjadi lebih agresif dan menantang.
Langkah ini juga dapat memperkuat posisi internal Kim Jong-un, yang selama ini terus berupaya menunjukkan kekuatan militer sebagai simbol legitimasi kekuasaan di dalam negeri.
Kondisi ini menuntut komunitas internasional untuk meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas senjata non-konvensional Korea Utara. Terutama karena rezim tersebut dikenal tertutup dan sulit dijangkau oleh pengawasan global.
Perlu strategi baru dari negara-negara besar untuk mencegah potensi penggunaan senjata kimia dalam konflik yang sewaktu-waktu bisa terjadi, khususnya dalam dinamika kawasan Asia Timur yang kian memanas.
Konsistensi diplomasi internasional dalam menekan ambisi militer Korea Utara menjadi penting demi menjaga stabilitas regional dan menghindari risiko eskalasi konflik bersenjata yang lebih luas.
peningkatan produksi senjata kimia oleh Korea Utara menunjukkan bahwa rezim Kim Jong-un terus mengembangkan alternatif strategis selain nuklir sebagai bagian dari kekuatan militernya. Situasi ini dapat membahayakan keamanan kawasan jika tidak disikapi dengan strategi diplomatik yang tepat.
Seyogianya, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia lebih aktif dalam mendorong upaya negosiasi terbuka dan mencegah meningkatnya ketegangan melalui jalur damai.
Langkah pencegahan dan deteksi dini sangat diperlukan agar keberadaan senjata kimia tidak disalahgunakan atau digunakan secara tidak terduga, mengingat dampaknya yang sangat mematikan.
Perlu pendekatan multilateralisme yang kuat dan tegas dalam mengontrol senjata kimia secara global, termasuk menekan negara-negara yang menolak transparansi dalam bidang ini.
Masyarakat internasional diharapkan tidak hanya mengutuk, tetapi juga mengambil tindakan nyata yang sesuai dengan hukum internasional, agar ancaman dari senjata kimia tidak menjadi kenyataan dalam perang masa depan.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





