Washington ,EKOIN.CO – Perundingan antara Israel dan Hamas dilaporkan telah mengerucut pada satu isu utama yang menjadi kunci tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Hal tersebut disampaikan oleh utusan Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, pada Senin (8/7/2025) dalam sebuah pertemuan Kabinet di Gedung Putih, Washington DC.
Menurut Witkoff, tim negosiator dari Amerika Serikat tengah bekerja untuk mempersempit perbedaan antara kedua belah pihak guna mencapai perdamaian yang lebih langgeng. Ia mengungkapkan bahwa pembicaraan telah mengalami kemajuan signifikan dan membuka peluang kesepakatan segera terjadi.
“Jadi, kami berharap bahwa pada akhir pekan ini, kita akan memiliki kesepakatan yang akan membawa kita ke dalam gencatan senjata selama 60 hari,” ujarnya seperti dikutip dari Palestine Chronicle, Rabu (9/7/2025).
Ia menambahkan bahwa saat ini upaya sedang difokuskan untuk menemukan jalan keluar atas konflik berkepanjangan tersebut. Perundingan intensif terus berlangsung guna menciptakan resolusi yang solid.
Trump dan Netanyahu Bahas Gaza
Di tengah perkembangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan pertemuan pribadi di Gedung Putih pada Senin malam. Ini merupakan pertemuan ketiga mereka di Washington sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden.
Trump menyatakan kepada wartawan bahwa fokus utama pembicaraan dengan Netanyahu adalah konflik di Gaza. “Kami akan membicarakan, menurut saya, hampir secara eksklusif tentang Gaza. Kita harus menyelesaikannya,” kata Trump dalam konferensi pers.
Menurutnya, konflik yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang harus segera diakhiri. Ia menekankan keinginan semua pihak untuk mencapai titik temu dan mengakhiri pertumpahan darah di wilayah tersebut.
“Ini adalah sebuah tragedi, dan dia ingin menyelesaikannya, dan saya ingin menyelesaikannya, dan saya pikir pihak lain juga ingin melakukan hal yang sama,” ungkap Trump lebih lanjut.
Hambatan dari Pihak Israel
Meski ada optimisme dari pihak Amerika, seorang pejabat politik senior Israel yang turut mendampingi Netanyahu dalam kunjungannya ke AS mengungkapkan pandangan yang berbeda. Ia mengatakan bahwa Israel saat ini sedang bersiap untuk mengambil alih kendali atas Gaza untuk sementara waktu.
Langkah ini dikhawatirkan dapat mempersulit upaya negosiasi yang tengah berlangsung dan memperkecil peluang kesepakatan gencatan senjata jangka panjang. Tidak ada penjelasan rinci dari pejabat tersebut terkait rencana pengambilalihan tersebut.
Namun demikian, pernyataan itu menunjukkan masih adanya perbedaan strategi antara kedua negara sekutu terkait penyelesaian konflik Gaza, khususnya soal pengelolaan wilayah pascagencatan senjata.
Pihak Gedung Putih sendiri belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan pejabat Israel tersebut. Fokus saat ini tampaknya tetap pada pencapaian gencatan senjata sementara yang diharapkan dapat membuka jalan menuju negosiasi yang lebih luas.
Upaya diplomasi terus dilakukan dengan melibatkan berbagai aktor internasional, termasuk Mesir dan Qatar, yang sebelumnya juga berperan sebagai mediator dalam proses perdamaian antara Israel dan Hamas.
Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari Hamas terkait posisi terakhir mereka dalam proses perundingan ini. Namun, sumber diplomatik menyebutkan bahwa kelompok tersebut mempertimbangkan tawaran yang ada dengan serius.
Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat ini merupakan bagian dari rangkaian diplomasi berkelanjutan yang telah dilakukan selama berbulan-bulan sejak meletusnya kembali konflik di Jalur Gaza tahun lalu.
Situasi kemanusiaan di wilayah tersebut dilaporkan semakin memburuk, sehingga tekanan internasional terhadap kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Badan-badan bantuan internasional telah menyuarakan keprihatinan atas kondisi warga sipil di Gaza yang terjebak dalam konflik tanpa akses memadai terhadap layanan dasar dan bantuan kemanusiaan.
Diplomat senior AS menegaskan bahwa solusi dua negara masih menjadi pendekatan jangka panjang yang didorong oleh Washington, namun untuk saat ini fokus adalah pada penghentian kekerasan.
Jika kesepakatan gencatan senjata 60 hari berhasil dicapai, maka akan menjadi jeda terpanjang dalam eskalasi konflik terbaru yang telah menewaskan ribuan warga sipil dari kedua belah pihak.
Harapan untuk kesepakatan damai tetap tergantung pada kemauan politik kedua pihak dan konsistensi dukungan dari mitra-mitra internasional dalam proses ini.
Amerika Serikat juga telah mengisyaratkan bahwa keberhasilan perundingan ini dapat menjadi titik balik dalam hubungan diplomatiknya di Timur Tengah yang selama ini penuh ketegangan.
Pertemuan lanjutan antara Trump dan Netanyahu dijadwalkan berlangsung pada Selasa (9/7/2025) dengan agenda yang lebih rinci menyangkut peta jalan menuju rekonsiliasi antara Israel dan Palestina.
Langkah-langkah konkret dari hasil pertemuan tersebut masih dinantikan oleh berbagai pihak, termasuk para pengamat hubungan internasional dan organisasi kemanusiaan.
Jika gencatan senjata berhasil diberlakukan akhir pekan ini seperti yang diharapkan, maka akan menjadi langkah penting menuju pemulihan stabilitas di wilayah yang telah lama dilanda konflik ini.
untuk pihak-pihak yang terlibat dalam konflik adalah mengedepankan proses dialog berkelanjutan yang adil dan setara. Masing-masing harus menunjukkan komitmen nyata terhadap upaya penyelesaian damai tanpa mengutamakan keuntungan politik jangka pendek.
Masyarakat internasional juga perlu memperkuat peran dalam menjaga akuntabilitas dan mendorong penyelesaian konflik berbasis prinsip hukum internasional. Keterlibatan berbagai negara dalam mediasi harus bersifat inklusif dan menjamin representasi dari semua pihak.
Upaya bantuan kemanusiaan harus segera ditingkatkan di wilayah Gaza tanpa menunggu selesainya proses negosiasi. Situasi warga sipil tidak boleh dijadikan alat tawar dalam konflik geopolitik.
Diperlukan pemantauan yang ketat terhadap implementasi gencatan senjata jika tercapai, termasuk mekanisme verifikasi yang disepakati bersama. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya pelanggaran yang berulang.
Akhirnya, harapan terhadap gencatan senjata bukan hanya untuk meredakan konflik sementara, tetapi menjadi awal dari transformasi hubungan jangka panjang antara Israel dan Palestina menuju masa depan yang lebih damai dan stabil.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





