Doha ,EKOIN.CO – Serangan rudal balistik Iran yang menghantam Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, pada 23 Juni 2025 mengakibatkan kerusakan pada satu unit kubah geodesik (radome) militer Amerika Serikat. Kerusakan ini dilaporkan tidak mengganggu operasional pangkalan yang merupakan pusat aktivitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Menurut laporan Associated Press, kerusakan terjadi pada sistem komunikasi satelit rahasia yang terpasang sejak 2016. Nilai kubah tersebut diperkirakan mencapai USD 15 juta atau sekitar Rp 240 miliar. Meskipun bangunan lain di sekitarnya mengalami dampak ringan, sebagian besar wilayah pangkalan tetap dalam kondisi baik.
Al Udeid berlokasi di luar kota Doha dan menjadi markas depan bagi Komando Pusat Amerika Serikat (US CENTCOM). Fasilitas ini telah lama berfungsi sebagai pusat kendali operasi militer AS di Timur Tengah, termasuk dalam konflik-konflik regional yang melibatkan Iran dan Israel.
Juru Bicara Pentagon Sean Parnell mengonfirmasi bahwa serangan rudal tersebut mengenai kubah satelit, namun memastikan bahwa kerusakan tergolong kecil. “Al Udeid tetap beroperasi penuh,” tegas Parnell dalam keterangan resminya.
Klaim Iran dan Penegasan AS
Serangan ini disebut-sebut sebagai bentuk pembalasan atas pengeboman yang dilakukan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran selama dua pekan terakhir, saat perang Iran-Israel masih berlangsung. Iran meluncurkan total 14 rudal dalam serangan tersebut.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyampaikan bahwa Iran memberikan peringatan sebelum peluncuran dilakukan. Hal ini memungkinkan sistem pertahanan udara AS dan Qatar melakukan persiapan terlebih dahulu. “Iran meluncurkan 14 rudal, 13 berhasil dicegat, dan satu sengaja dibiarkan menghantam target yang tidak membahayakan,” kata Trump.
Dalam unggahan di akun Truth Social, Trump juga menyampaikan terima kasih kepada Iran karena telah memberi peringatan dini, yang menurutnya berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa maupun luka-luka di pangkalan tersebut.
Meskipun media pemerintah Iran mengklaim bahwa pangkalan telah “dihancurkan” dan sistem komunikasi militer AS “terputus total”, bukti citra satelit menunjukkan bahwa meskipun kubah geodesik rusak berat, keseluruhan pangkalan tetap beroperasi.
Pihak Pentagon tidak menyebutkan apakah sistem komunikasi telah digantikan sementara atau dialihkan ke instalasi lain, namun berbagai sumber menegaskan bahwa aktivitas militer dan koordinasi masih berjalan seperti biasa.
Konflik Iran-Israel dan Upaya Gencatan Senjata
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Amerika Serikat memediasi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel. Konflik selama 12 hari tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Gencatan senjata yang diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada 25 Juni bertujuan meredam eskalasi dan mencegah keterlibatan negara-negara lain dalam konflik. Al Udeid, sebagai pusat kendali militer AS, memainkan peran penting dalam diplomasi militer ini.
Meskipun fasilitas komunikasi di Al Udeid sempat terganggu, para analis menyebutkan bahwa redundansi sistem komunikasi satelit militer memungkinkan AS untuk menjaga kesinambungan operasional.
Belum ada laporan tambahan mengenai potensi serangan susulan dari Iran maupun respons militer dari pihak Amerika Serikat sejak peristiwa tersebut.
Kementerian Pertahanan Qatar sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, pasukan keamanan di sekitar pangkalan dilaporkan meningkatkan pengamanan pasca serangan tersebut.
Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun cedera dari pihak militer AS ataupun warga sipil Qatar. Serangan juga tidak berdampak pada penerbangan sipil di kawasan sekitar Doha.
Pengamat militer menilai insiden ini sebagai salah satu konfrontasi paling signifikan antara Iran dan AS di kawasan Teluk dalam beberapa bulan terakhir, meskipun masih terkendali.
Situasi di lapangan saat ini menunjukkan bahwa ketegangan perlahan mereda setelah kesepakatan gencatan senjata ditandatangani, dan pangkalan Al Udeid tetap berfungsi sebagai pusat operasi.
dari serangan ini menunjukkan bahwa infrastruktur pertahanan AS di kawasan tetap kuat menghadapi ancaman rudal. Sistem pencegatan berhasil menangkal sebagian besar rudal yang diluncurkan.
Dalam konteks konflik Iran-Israel, serangan terhadap Al Udeid menegaskan eskalasi yang terjadi akibat intervensi militer pihak ketiga, dalam hal ini Amerika Serikat.
Sementara itu, komunikasi militer yang terganggu karena rusaknya radome diperkirakan akan segera dipulihkan mengingat pentingnya pangkalan tersebut bagi operasi AS.
Pihak internasional terus memantau perkembangan di Qatar dan menilai respons AS terhadap serangan ini sebagai bentuk pengendalian konflik agar tidak meluas.
Diplomasi akan menjadi kunci dalam mencegah insiden serupa, terutama di kawasan yang sangat sensitif secara geopolitik seperti Teluk Persia.
Langkah terbaik saat ini adalah memastikan bahwa jalur komunikasi antara negara-negara yang terlibat tetap terbuka, termasuk melalui peringatan dini seperti yang diklaim dilakukan Iran.
Pemerintah Qatar dan AS disarankan meningkatkan sistem pertahanan rudal mereka agar lebih siap menghadapi ancaman mendadak serupa di masa depan.
Diperlukan transparansi informasi dan koordinasi militer yang kuat agar insiden seperti ini tidak menimbulkan kepanikan publik maupun ketegangan diplomatik.
Upaya pemulihan sistem komunikasi dan perbaikan infrastruktur harus menjadi prioritas untuk mempertahankan kestabilan operasional pangkalan strategis seperti Al Udeid.
Langkah-langkah preventif, termasuk peningkatan satelit cadangan dan keamanan siber, perlu segera diterapkan untuk menghadapi potensi serangan balasan lainnya.
Keamanan pangkalan militer asing di wilayah konflik harus mendapat perhatian khusus dari negara tuan rumah demi menjaga hubungan internasional yang harmonis.(*)





