Jakarta, Ekoin.co – Ketua MUI, Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Profesor Sudarnoto Abdul Hakim meminta masyarakat untuk memahami motif di balik perang antara Palestina dan Israel.
Ia menegaskan motifnya bukanlah soal agama yakni Islam dan Yahudi, tapi penjajahan atau perebutan wilayah yang dilakukan Israel kepada warga Palestina.
“Ini bukan soal perang agama, sama sekali bukan. Ini soal penjajahan dan keterjajahan. Siapa yang menjajah? Israel, siapa yang dijajah? Palestina,” ujar Prof Sudarnoto saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang dikutip pada Sabtu (12/7).
Ulama kelahiran Kauman, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 3 Februari 1959 itu menjelaskan, sebagian masyarakat dunia telah memahami kondisi tersebut, termasuk penganut Yahudi sendiri.
Maka dari itu di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, pihak yang menentang genosida yang terjadi di Palestina juga banyak dari kalangan Yahudi dan Kristen.
“Kita lihat di Amerika, di beberapa negara di Barat yang demo-demo itu (Menentang Israel) juga orang Kristen, orang Yahudi, bahkan mungkin yang agnostik juga. Itu semua karena isunya adalah kemanusiaan yang memang semua orang harus membela,” kata dia.
Adapun posisi umat Islam terhadap Palestina, lanjut Prof Sudarnoto, mengamalkan ajaran agama Islam, seperti kewajiban melindungi orang yang lemah dan melawan kezaliman.
Sementara Indonesia didorong oleh kewajiban membela kemerdekaan Palestina sesuai dengan UUD 1945.
“Kita juga punya utang yaitu Palestina termasuk negara pertama yang memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia,” ujar dia.
Kendati demikian, Prof Sudarnoto menjelaskan, Israel yang dipimpin oleh orang-orang beraliran Zionis memang cenderung menggunakan isu agama dalam melancarkan aksinya. Sehingga menimbulkan persepsi global tentang perang agama antara Israel dan Palestina.
“Data-data yang muncul nampak jelas sekali sikap tidak menghormati agama, menghina agama, bahkan menghancurkan agama. Gereja dihabisi, masjid dihabisi, masjid Al Aqsa sampai hari ini belum bisa dibuka,” tegas dia. ()





